Ngobras DKP dan Rare, Bahas Peran Penting Pelaku Perikanan Sultra Atas Pencatatan Hasil Tangkapan

440
 

Kendari, Inilahsultra.com-Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), bersama Rare melihat pentingnya pencatatan hasil tangkapan sebagai langkah penting untuk tersedianya data dalam pengelolaan perikanan skala kecil di Sultra.

Untuk mencapai hal itu, diselenggarakan acara talk show Ngobras (Ngopi Bareng dan Diskusi Santai) dengan tema “Pencatatan Hasil Tangkapan untuk Keberlanjutan Pengelolaan Perikanan Skala Kecil”, Sabtu, 19 Desember 2020 di Swiss-Belhotel Kendari.

- Advertisement -

Pada acara ini terdapat 4 narasumber dari perwakilan pemerintah, akademisi, NGO dan nelayan untuk berbagi pandangan dan pengalaman mereka tentang data dan pencatatan hasil tangkapan. Total peserta dalam acara ini sebanyak 33 orang yang terdiri dari perwakilan media, mahasiswa dan akademisi dan juga perwakilan beberapa Dinas Perikanan dan Kelautan dari Kabupaten Konawe Utara, Konawe Selatan, dan Konawe Kepulauan.

Tujuan dari acara ini adalah untuk memberikan gambaran pentingnya perbaikan data perikanan melalui pencatatan hasil tangkapan sebagai satu faktor penting dalam pengelolaan perikanan skala kecil yang berkelanjutan di Sultra.

Talkshow ini merupakan salah satu rangkaian kampanye tentang perikanan berkelanjutan di Provinsi Sultra yang akan berlangsung hingga tahun 2021.

Pembahasan mengenai perbaikan data ini telah menjadi konsentrasi Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, terutama KKP yang sedang membahas revisi untuk Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 48/2014, tentang Logbook Penangkapan Ikan sebagai salah satu dasar yang penting dalam pembuatan kebijakan pengelolaan perikanan di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) di seluruh Indonesia.

Sebagai provinsi pesisir dengan jumlah penduduk 2.7 juta orang yang tersebar di 81 pulau dari total 651 pulau yang ada, perikanan masuk ke dalam 5 komoditi unggulan Sultra.

Menurut analisa yang dilakukan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan, potensi perikanan di perairan Sulawesi Tenggara mencapai 1,5 juta ton per tahun. Untuk menjaga potensi ini, diperlukan suatu model pengelolaan sektor perikanan yang baik agar komoditi ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Data perikanan, termasuk di dalamnya jenis tangkapan, jumlah dan lokasi penangkapan, dibutuhkan dalam membuat model pengelolaan yang baik dan memantau dinamika potensi perikanan yang ada.

Sekitar 90 ribu nelayan skala kecil yang tercatat dan ada di Sultra memiliki peran penting dalam memberikan data potensi perikanan ini. Karena mereka adalah pelaku sektor perikanan tangkap yang langsung terlibat dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan.

Meskipun demikian, masih banyak kendala yang muncul dalam melibatkan para nelayan skala kecil ini maupun dalam metode pengumpulan data tangkapannya. Untuk itu diperlukan pendekatan yang kreatif dan membangun kolaborasi yang baik dengan pelaku sektor perikanan skala kecil agar data hasil tangkapan dan informasi yang akurat dari lapangan dapat terkumpul.

Hal ini merupakan inisiatif yang diharapkan dapat menunjang Program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) yang diinisiasi oleh Sultra bersama dengan Rare untuk memperbaiki pengelolaan perikanan skala kecil dengan memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai produksi ikan yang dihasilkan oleh perikanan skala kecil.

Data-data hasil tangkapan yang dimaksud sebelumnya selanjutnya akan diolah dan dianalisa hingga akhirnya dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk mendukung penyusunan peraturan perikanan di tingkat desa di seluruh Sulawesi Tenggara. Lalu, dengan kemajuan teknologi yang ada sekarang, pengumpulan data yang dilaksanakan juga sudah mulai “go digital” dengan memanfaatkan Internet of Things untuk memudahkan pengguna dalam mencatat hasil tangkapan ikan.

Sebagai pengantar diskusi, Profesor La Sara sebagai Dekan FPIK dan Guru Besar Universitas Halu Oleo memberikan keterangan tentang peran data perikanan dalam membantu pengelolaan perikanan berkelanjutan.

La Sara mengatakan, bahwa tanpa adanya data, sumber daya yang memang terbatas akan habis seiring dengan pemanfaatan yang tidak memperhatikan potensi yang ada. Kalau data tidak dikumpulkan dengan tepat, maka rusak semua pengelolaannya, mulai dari perencanaan hingga pemanfaatannya. Penangkapan ikan ini memang harus diatur jika tidak ingin habis.

“Kalau ikan habis, mana ada investor mau investasi di sektor perikanan. Padahal potensi perikanan di Indonesia masih sangat besar. Bagaimana nanti para ahli bisa membuktikan bahwa potensi perikanan di Indonesia masih besar, kalau data yang terkumpul tidak akurat. Yang akan terjadi malah eksploitasi secara berlebihan yang mengakibatkan stok ikan menjadi berkurang di alam,” katanya.

Narasumber lain, Kasubag Program dan Data-DKP Sultra, Lely Fajriyah menjelaskan tentang kualitas data perikanan di Sultra.

Menurut Lely, ata berguna untuk mengambil keputusan, dan dari data pun bisa ditemukan solusi terutama untuk pengelolaan perikanan. Tapi yang paling penting, data yang ada harus akurat agar bisa dipertanggung jawabkan terkait keputusan kebijakan yang akan diambil nantinya.

“Kalau salah datanya, maka akan salah juga pengelolaannya. Saat ini, data yang diberikan itu terbatas, makanya masih banyak tenaga yang perlu dikerahkan untuk bisa mendapatkan data dari lapangan, tapi dengan adanya bantuan dari Rare berupa aplikasi OurFish, ini sangat membantu kami dalam menyediakan data yang akurat yang langsung dicatat oleh masyarakat pelaku perikanan tangkap,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Program Rare, Hari Kushardanto memberikan penjelasan tentang pentingnya keterlibatan nelayan skala kecil dan pengumpul perikanan sebagai ujung tombak dalam perikanan berkelanjutan.

Menurut dia, penerapan aplikasi OurFish dan paper based itu seperti layaknya bank. Untuk mengetahui berapa banyak uang yang ada, maka pihaknya harus menyetor uang dan mencatat berapa banyak uang yang ada.

“Di perikanan, tidak mudah mengumpulkan data. Makanya kemudian Rare menyediakan jalan keluarnya melalui teknologi yang bernama OurFish. Di mana kemudian kita bekerja dengan para pengumpul ikan pertama di tingkat desa untuk bisa mencatatkan berapa hasil nelayan. Kenapa pengumpul pertama? Karena mereka biasanya memiliki network jaringan nelayan yang bekerja untuk pengumpul ini. Dengan cara seperti ini, akan banyak data yang bisa dijangkau dengan cara yang efisien,” terangnya.

Lalu, sambung dia kenapa pengumpul dan bukan nelayan. Itu karena nelayan pekerjaan utamanya adalah menangkap ikan dan mungkin tidak akan fokus dalam pencatatan. Oleh karena itu, pengumpul tingkat pertama di desa merupakan stakeholder yang sangat penting dalam pengumpulan data perikanan”.

Tidak kalah pentingnya juga dengan cerita langsung dari lapangan dan pengalaman langsung dari Ibu Lailinar selaku pengumpul ikan perempuan dari Talaga Raya dan pengguna aplikasi OurFish yang sudah menekuni pekerjaannya sejak 2 tahun yang lalu.

“Untuk aplikasi Ourfish ini sendiri, saya mulai pakai bulan Oktober 2019, jadi sudah satu tahun saya pakai,” cerita dia.

Berdasarkan pengalamannya, dengan menggunakan Ourfish ini sangat membantu karena setiap hari menulis informasi seperti siapa nelayan yang masuk, berapa beratnya, ikan apa saja, dan itu semua sudah tercatat di sistem.

“Saya juga jadi tahu berapa modal yang saya pakai dan juga berapa keuntungan yang saya dapat, karena kan ada biaya bbm, biaya operasional lainnya itu semua tercatat disitu semua. Jadi saya merasa ini sangat membantu saya, tidak ada data yang terlewat. Dan yang saya suka, data kita tidak akan hilang, jadi kalau hp rusak, kita bisa retrieve data dari hp yang lainnya,” ungkapnya.

Reporter : Iqra Yudha.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...