Obsesi Cak Imin : Jadikan Marobea Lumbung Produksi Jagung Kuning di Sultra

609
Kepala Desa Marobea Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat Muslimin Salim saat sedang membuka leptopnya terkait hitungan produksi jagung kuning di desanya.
Bacakan

Laworo, Inilahsultra.com – Sekitar pukul 13.00 WITa, Kamis 11 Februari 2021, Muslimin Salim tampak sibuk mengetik di ruang kerjanya di Balai Desa Marobea Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat.

-Advertisements-

Sesekali pria yang akrab disapa Cak Imin ini membuka dokumen tentang tingkat produksi jagung kuning di desa yang diampunya.

Yah, Cak Imin panggilan akrabnya. Mirip nama Wakil Ketua DPR RI yang juga politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.

“Nama ini dulu pemberian kawan-kawan di kampus. Saya senang saja dipanggil Cak Imin. Tidak ada tujuan apa-apa, hanya kemiripan saja. Syukurnya, sekarang saya memimpin Desa Marobea, seperti posisi PKB saat ini menempatkan kadernya jadi Menteri Desa,” kata Muslimin Salim saat berbincang dengan Inilahsultra.com.

Muslimin Salim pertama kali dilantik sebagai Kepala Desa Marobea pada 14 Februari 2020 lalu, atau tepat satu tahun.

Dalam setahun mengemban amanah, ada banyak hal yang telah dilakukan Cak Imin-nya Muna Barat ini. Pertama yang dilakukannya adalah membuat master plan dan mengidentifikasi potensi desa.

Dari identifikasinya itu, daerah Marobea yang subur, sangat cocok untuk sektor pertanian jagung kuning.

“Obsesi saya, Marobea ini bisa menjadi lumbung produksi jagung kuning di Sulawesi Tenggara,” katanya.

Untuk mendukung programnya itu, ia kemudian lebih dulu merapikan data kependudukan, tingkat usia warganya hingga latar belakang pekerjaan.

“Jadi saya harus tahu dulu data. Ini penting dalam menentukan arah pembangunan desa dan pengembangan sektor pertanian,” katanya.

Setelah data rampung, hampir 80 persen warganya merupakan petani, sisanya adalah pegawai negeri sipil (PNS) dan wiraswasta.

Banyaknya warga yang berprofesi sebagai petani ini, perlu didukung lewat kebijakan pemerintah desa.

“Sekarang tugas saya adalah bagaimana mendorong masyarakat dan membangun paradigma bertani yang menguntungkan,” jelasnya.

Lewat komunikasi aktif, lambat laun obsesinya mulai terwujud seiring meningkatnya produktifitas hasil panen jagung kuning warganya. Selain itu, anak muda di sana mulai tertarik untuk mengolah lahan tidur menjadi bernilai guna.

“Dulu ini hanya sebagian warga, sekarang hampir semua tertarik berkebun jagung kuning,” katanya.

Berdasarkan data kependudukan Desa Marobea, di Desa ini terdiri 1.162 jiwa dari 317 kepala keluarga. Data yang diperolehnya pada 2020 lalu, jumlah petani ada 240 kepala keluarga.

“Masing-masing ini punya lahan pertanian 1 sampai 3 hektare. Dari total itu, luas lahan produktif pertanian jagung kuning kurang lebih 300 hektare,” bebernya.

Maksimalkan BUMDes

Cak Imin menyebut, masalah klasik di sektor pertanian adalah akses penjualan. Banyak petani melakukan panen namun tidak bisa terjual dan dibiarkan begitu saja hingga rusak.

“Makanya pemerintah harus ambil andil di sini. Makanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) salah satu tugasnya adalah membeli hasil pertanian jagung kuning warga ini. Nanti BUMDes akan jual ke tempat lain,” bebernya.

Upaya ini, kata dia, untuk meringankan beban petani dan tidak mengalami kerugian saat panen tiba. Menurutnya, petani cukup menanam jagung dan pemerintah lewat BUMDes sebagai pemasarannya.

“Selain dari BUMDes, ada juga tengkulak yang datang ambil. Harganya tidak terlalu jauh dengan yang diambil BUMDes,” katanya.

Meski demikian, Muslimin tidak menampik adanya masalah fluktuasi harga di pasaran yang membuat petani bingung. Harusnya, kata dia, harga tetap normal sekalipun produksi banyak atau sedikit.

Bangun Gudang

Tingginya produksi petani jagung kuning di Desa Marobea membuat Muslimin putar otak. Bukan soal penjualan melainkan menampung jagung puluhan ton itu.

Untuk itu, ia mengusul program ke Pemerintah Daerah Mubar untuk pembangunan gudang penampungan jagung.

“Kita sudah usulkan. Semoga tahun ini kita bangunkan supaya sebelum dibawa keluar, kita simpan dulu di gudang,” katanya.

Ia menyebut, dalam setahun, warga memanen jagung kuning sebanyak tiga kali. Setiap hektare bisa menghasilkan 3 ton jagung.

Jika 270 hektare lahan produksi, maka bisa menghasilkan kurang lebih 1.500 ton jagung kuning dalam setahun.

“Ini jumlah besar. Tentu perlu gudang untuk menampungnya,” katanya.

Besarnya produksi jagung kuning setiap tahun membuat tingkat ekonomi warga stabil. Bahkan berdasarkan hitungan desa, pendapatan per kapita warga setiap bulan kurang lebih Rp2,5 juta.

“Jadi jangan pandang enteng itu petani jagung di sini,” imbuhnya.

Ia menuturkan, peningkatan pertumbuhan ekonomi warga melalui sektor pertanian perlu adanya kolaborasi antara pemerintah dan warganya.

“Ini tanggung jawab kita semua. Makin sejahtera warganya, pemerintahnya juga sukses. Pertumbuhan ekonomi ini akan meminimalisir masalah sosial lainnya,” katanya.

Ia berharap, pemerintah daerah kabupaten maupun provinsi hingga pusat, bisa turut mendorong dan menurunkan bantuan ke desanya dalam peningkatan produksi jagung kuning.

“Saya ingin Marobea itu dikenal sebagai daerah produksi jagung kuning di Sultra bahkan di Indonesia. Itu kita sudah buktikan dengan beberapa kali pengiriman di Kendari. Jika semua bekerja sama, saya yakin, masyarakat bisa sejahtera,” tuturnya.

Penulis : Muh Nur Alim
Editor : Pandi

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4
-Advertisements-
loading...