BPMD Buteng Bantah Pembangunan Objek Wisata di Madongka Bermasalah

183
Lokasi pembangunan objek wisata di Desa Madongka yang digugat warga.

Labungkari, Inilahsultra.com – Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (BPMD) Kabupaten Buton Tengah (Buteng) mengklaim, proyek pembangunan objek wisata di Desa Madongka Kecamatan Lakudo tidak bermasalah.

Kepala BPMD Buteng Armin menjelaskan, pembangunan proyek yang mengunakan dana desa harus mempunyai kelengkapan administrasi terlebih dahulu. Baik itu akta hibah dari masyarakat maupun kelengkapan administrasi lainnya.

- Advertisement -

“Terkait persoalan di Desa Madongka itu sudah diputuskan berdasarkan musyawarah desa. Selagi musyawarah desa menyepakati, kita mau salahkan siapa,” ungkapnya saat ditemui pada pisah sambut Kepala Desa Boneoge Kecamatan Gu, Senin 1 Maret 2021.

Kata dia, berdasarkan konfirmasinya ke Kepala Desa Madongka, lahan berpolemik tersebut diklaim sebagai milik desa.

“Untuk pembenarannya kan tinggal pengadilan yang membuktikan. Yang jelas tidak ada masalah itu sudah ada hibah dari masyarakat ke desa. Itu berdasarkan putusan musyawarah tidak berdasarkan putusan kepala desa semata,” terangnya.

Saat ini, lanjut dia, persoalan lahan di Desa Madongka tersebut yang sempat dipasangi patok oleh pihak yang mengklaim tanah tersebut sudah dicabut masyarakat setempat .

“Terakhir saya konfirmasi sama Pak Desa, itu patok yang dipasang pengklaim sudah dicabut patoknya masyarakat setempat,” ujarnya.

Armin mengakui, kelengkapan dokumen administrasi pembangunan objek wisata di Desa Madongka baik itu berupa akta hibah tanah atau dokumen lainnya tidak ada tembusan ke BPMD. Pasalnya, objek wisata itu merupakan aset milik desa yang dibangun menggunakan dana desa.

“Itukan aset desa, kita hanya menyampaikan kelengkapan harus ada hibah. Klaimnya pemerintah desa itu merupakan aset desa, makanya mereka berani bangun disitu,” tuturnya.

Sampai berita ini diturunkan, Kepala Desa Madongka Haryanto yang coba dikonfirmasi wartawan Inilahsultra.com beberapa kali via telepon selularnya belum berhasil. Pesan WhatsApp yang dikirimkan wartawan juga tak dibalas.

Sebelumnya, ahli waris almarhum La Ode Ampo menggugat pembangunan objek wisata milik Pemerintah Desa Madongka Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah (Buteng). Pasalnya, objek wisata itu dibangun diatas lahan milik La Ode Ampo.

Gugatan terhadap Pemerintah Desa Madongka telah dilayangkan di Pengadilan Negeri Pasarwajo dengan nomor perkara 25/Pdt.G/2020/PN.Psw pada tanggal 22 Februari 2021.

Salah satu keluarga ahli waris, Hasanuddin mengklaim, tanah itu merupakan milik La Ode Ampo. Namun sejumlah pihak menguasai lahan tersebut tanpa memiliki alas hak.

“Kalaupun diatas lahan tersebut pihak yang dimaksud ada yang memiliki legalitas kami masih meyakini bahwa dokumen asal usul yang diajukan sebagai landasan terbitnya sebuah legalitas (sertifikat) terindikasi ilegal, atau adanya indikasi pemalsuan dokumen, dari sisi dokumen pengajuan asal usul atau indikasi memberikan keterangan palsu,” kata Hasanuddin kepada Inilahsultra.com beberapa hari lalu.

Hasanuddin mengaku sangat menyayangkan sikap Pemerintah Desa Madongka yang nekat membangun objek wisata diatas lahan yang masih bersengketa. Apalagi pembangunan itu menggunakan anggaran desa yang cukup besar mencapai Rp 647.476.000.

Seharusnya, lanjut dia, sebelum membangun pemerintah desa lebih dulu melihat status tanah yang akan digunakan. Sehingga tidak menyebabkan kerugian. Apalagi jika nantinya tanah tersebut diputuskan menjadi milik pihak lain bukan milik pemerintah desa.

“Hasil dari program pembangunan tersebut akan menjadi aset tetap karena menggunakan anggaran desa. Tapi kalau tanah itu bukan milik desa, bagaimana,” ungkapnya.

Makanya, Hasanuddin meminta kepada Bupati Buteng Samahuddin dan seluruh anggota DPRD Buteng agar melihat indikasi kerugian negara tersebut.

“Kami meminta kepada institusi penegak hukum agar bisa melakukan pemantauan atau melakukan klarifikasi terhadap Kepala Desa Mandongka mengingat jika benar ada indikasi pelanggaran hukum agar segera dihentikan jangan sampai kerugian daerah bertambah banyak,” tuturnya.

Reporter: LM Arianto

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...