Tanggapi Aduan Masyarakat Terkait Pencemaran Lingkungan, DPRD Konsel Hearing PT CAM

80
DPRD Konsel melaksanakan rapat dengar pendapat (RDP) atau hearing, tindak lanjut atas pengaduan masyarakat terkait dampak pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT. CAM (Cipta Agung Manis) di Aula Rapat DPRD pada hari Rabu, 02 Juni 2021.
Bacakan

Andoolo, Inilahsultra.com– DPRD Konsel melaksanakan rapat dengar pendapat (RDP) atau hearing, tindak lanjut atas pengaduan masyarakat terkait dampak pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT. CAM (Cipta Agung Manis) di Aula Rapat DPRD pada hari Rabu, 02 Juni 2021.

-Advertisements-

Wakil ketua DPRD Hj. Hasnawati membuka rapat dengar pendapat antara komisi II DPRD Kabupaten Konsel dengan PT. CAM.

Ketua Komisi II Tasman Lamuse menyampaikan aduan masyarakat yaitu terkait, tindak lanjut atas pengaduan masyarakat terkait dampak pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT. CAM serta Terkait harga hasil perkebunan plasma.

Perwakilan masyarakat, Adi Yusuf mengatakan bahwa masyarakat sangat terganggu dengan adanya PT. CAM karena radius limbahnya tercemar sampai di rumah warga.

“Banyak tanaman kami yang tercemar akibat PT. CAM. Seharusnya Pemda jangan lemah pengawasan. Mohon di buatkan Perda. Serta kami ingin solusi terbaik dari masalah ini” pintanya.

Sementara itu, pihak PT.CAM menjelaskan belum membuang limbah. Dari sampel limbah di buang ke kolam sebesar 70 persen kemudian dari kolam ini dimasukkan di kolam kedua sebesar 30 persen sebagai tempat pembiakan bakteri dengan diberi kotoran sapi sebagai bahan makanan untuk bakteri dengan harga kotoran sapi Rp. 200 per/kg.

Kemudian dari hasil pembiakan bakteri ini yang berbau di masyarakat kemudian dari hasilnya digunakan sebagai bahan biogas.

“Dimana ada dua limbah yaitu limbah padat dan cair, limbah cair ini yang berbau dari PT. CAM, tidak pernah membuang disungai dan ditampung didalam 8 bak kolam dengan 1 bak kolam sama dengan 10.000 meter/kubik,” jelansya.

Sementara itu, Tasman Lamuse menanggapi pernyataan PT.CAM menguraikan, limbah tidak pernah di buang tetapi masyarakat membantah bahwa kali Roraya sudah tercemar dan perlu diluruskan dan akan ditinjau langsung di lapangan.

“Ini bukan masalah teori nya tetapi faktanya bahwa bau limbah PT.CAM sudah sangat mengganggu masyarakat sekitarnya,” imbuhnya.

Dikesempatan yang sama, Budi Sumantri melanjutkan, terkait dengan limbah PT.CAM benar mengganggu karena walaupun menggunakan masker bau limbah masih tercium dan sangat menyengat.

“Saran kami bagaimana untuk menghilangkan bau limbah tersebut. Terkait dengan Perda RTRW bahwa kecamatan Andoolo bukan kawasan industri sehingga PT.CAM dapat dianggap melanggar Perda karena masuk pada wilayah yang bebas dari kawasan pabrik dan industri,” ujarnya.

Anggota legislatif lainnya, Wawan Suhendra yang menegaskan kepada PT.CAM diminta memperhatikan masyarakat agar daerah mereka tidak tercemar dan diharapkan komitmen/kontribusi dari PT.CAM dan memberi kompensasi dari PT.CAM kepada masyarakat.

“Kami akan bertanya berapa lama/bulan waktu yang dapat PT.CAM lakukan untuk menghilangkan bau yang mengganggu masyarakat? Serta dalam hal ini lingkungan hidup juga diharapkan berpihak kepada masyarakat,” ucapnya.

Kadis Lingkungan Hidup Konsel, Riswan Mangidi menjelaskan bahwa untuk tahun 2021 lingkungan hidup tidak mempunyai anggaran dibidang pengawasan. Pencemaran yang terjadi adalah pencemaran udara dan PT.CAM tidak pernah melapor, nanti pada saat diminta laporannya baru laporannya dimasukkan dan tidak ada evaluasi dari PT.CAM terkait perkembangannya. Harus ada kompensasi yang harus dilakukan oleh PT.CAM agar ada perubahan atau peningkatan dalam perbaikan. Di tahun 2020 kami sudah turun lapangan terkait aduan masyarakat saat itu.

“Jarak kolam penampungan dengan kali Roraya berjarak 400 meter dan tidak terjadi pencemaran/rembesan dan air tidak tercemar dikali Roraya, juga diambil oleh pihak pabrik sebagai bahan air minum mereka. PT.CAM yang dilakukan secara teknis sudah benar, tetapi faktanya masih berbau. Oleh karena itu, diharapkan PT. CAM lebih arif dan bijaksana dalam menangani bau yang dihasilkan dari hasil pengolahan ubi dan menjadi tepung tapioka,” tegasnya.

Ahmad Muhaimin menambahkan, PT.CAM tidak mempunyai ahli dibidang limbah jadi sulit untuk menyelesaikan persoalan ini dan diberikan deadline waktu dalam menyelesaikan persoalan pencemaran/bau limbah.

PT.CAM sendiri mengucapkan atas semua masukan dan upaya yang diluruskan telah disampaikan. Diharapkan anggota dewan datang untuk melihat perkembangan PT.CAM terus berusaha didalam mengurangi bau.

Selain itu diharapkan juga masukkan edukasi dari lingkungan hidup dan anggota dewan. Selain itu, PT.CAM mencari ahli yang dapat mengatasi/mengola limbah dan untuk menghilangkan bau diprediksi 3-4 bulan.

Editor : Rido

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
-Advertisements-
loading...