
Kendari, Inilahsultra.com – Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan banjir melanda Desa Labunti, Kecamatan Lasalepa, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis 23 September 2021.
Desa Labunti merupakan langganan banjir meski hujan tidak lama. Terdapat dua lokasi menjadi langganan banjir pada saat hujan di tempat tersebut, yaitu di jalan Poros Raha-Tampo dan jalan menuju Bangunsari tepatnya di RK 1 atau biasa dikenal dengan lorong pasar Labunti.
Banjir yang melanda RK 1 Desa Labunti diakibatkan intensitas hujan cukup tinggi, adanya banjir kiriman dari berbagai arah yang datang, tidak berfungsinya sumur resapan dan tidak berfungsinya saluran drainase yang membuat debit air keluar cukup kecil mencari sela-sela.
Sebenarnya banjir di Desa Labunti sudah berlangsung sejak puluhan tahun dan sampai saat ini masih saja terjadi. Untuk itu Desa Labunti butuh solusi dari berbagai pihak untuk keluar dari bayang-bayang banjir yang terjadi setiap saat turun hujan.
Tidak ada korban jiwa pada saat banjir maupun kerugian materi. Tapi banjir tersebut sangat berdampak pada sektor ekonomi masyarakat yang mayoritas warganya bekerja sebagai petani.
Dalam video yang diterima Inilahsultra.com, terlihat banjir setinggi paha orang dewasa dan nyaris naik di atas lantai rumah panggung milik warga. Kemudian kendaraan roda dua tidak bisa menyebrang kecual di dorong. Kalau kendaraan roda empat menyeberangi banjir dengan serba hati-hati jangan sampai keluar jalan.
Warga Desa Labunti, Ula mengatakan, setiap kali terjadi hujan dengan durasi satu sampai dua jam saja dengan intensitas ditambah banjir kiriman dari berbagai arah salah satunya dari hutan, pasti terjadi banjir yang melumpuhkan aktivitas masyarakat.
“Walau hujan hanya beberap jam pasti terjadi banjir, karena ada air kiriman dari hutan yang tidak bisa ditampung oleh drainase dan sumur resapan. Banjir juga menghentikan aktivitas masyarakat,” jelasnya.
Ia menjelaskan, banjir tersebut dikarenakan drainase yang pernah dibangun terlalu kecil sehingga tidak berfungsi. Kemudian juga tidak berfungsinya sumur resapan. Keduanya tidak bisa menampung air dengan debit yang lebih besar.
“Drainase yang dibangun terlalu kecil dan tidak berfungsi. Drainase tidak bisa menampung debit air. Ketika tidak bisa menampung maka otomatis air naik kepermukaan. Kemudian
sumur resapan juga yang dibangun oleh desa terlalu kecil, itupun hanya satu. Sumur resapan juga sudah tidak berfungsi dan tidak terawat lagi serta dibiarkan begitu saja dipenuhi sampah,” jelasnya.
Untuk itu, ia meminta kepada pemerintah kabupaten (Pemkab) Muna dan legislatif melalui pemerintah desa (Pemdes) Labunti melakukan komunikasi untuk mencarikan solusi banjir yang melanda Desa Labunti.
“Saya berharap pemerintah kabupaten maupun desa dan legislatif mencari solusi terbaik banjir di Desa Labunti. Kami menyarankan memperbesar atau menambah sumur resapan dan memperbaiki drainase agat berfungsi. Dengan begitu meski tidak menghilangkan tapi setidaknya mengurangi volume banjir,” tutupnya.
Penulis : Haerun




