Dua Kuburan Tua di Marobo dan Jejak Peradaban Islam di Muna

Mantan Kepala Desa Wadolao La Ode Limin mengunjungi kuburan Wa Sope, istri Raja Muna bergelar Sangiano Latugho. (Foto Iman Supa)

Raha, Inilahsultra.com – Siang itu, Sabtu 23 Februari 2019, langit di Kabupaten Muna begitu cerah. Cuaca terik panas menyengat, menyertai perjalanan kami menuju Desa Wadolao Kecamatan Marobo Kabupaten Muna.

Ke Wadolao, ditempuh melalui jalan darat dari Ibu Kota Kabupaten Muna, Kota Raha yang jaraknya hampir 50-an kilometer.

Kurang lebih 1 jam lebih menggunakan roda dua, Anda sudah tiba di daerah yang tak jauh dengan bibir pantai Lautan Buton.

-Advertisement-

Jurnalis Inilahsultra.com, punya misi khusus ke desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Buton Tengah ini. Sebab, di desa tersebut, menyimpan banyak jejak sejarah tentang perjalanan Kerajaan Wuna (Muna). Dua kuburan nan bersejarah, makam istri Raja Muna ke-XV bernama Wa Sope (Omputo Rimbi) dan makam Sangia Wadolao La Ode Hasani.

Wa Ode Sope adalah istri La Ode Abdul Rahman Raja Muna ke-XV antara 1671-1716 dengan gelar Sangia Latugho.

Dua kuburan ini, berada tepat di belakang pemukiman warga yang jaraknya hanya beberapa meter.

Melewati rumah warga dengan jalan setapak ala kadarnya, mengantarkan kami menuju kuburan tunggal yang letaknya berada di ketinggian itu.

Meski tanpa papan informasi, kuburan ini cukup dikenal oleh warga sekitar. Selain karena makam istri raja dan petinggi kerjaan, kuburan ini berada di area Benteng Wadolao yang luasannya sekitar 300 meter berbentuk huruf U dengan ketinggian 3 meter.

Kondisi dua kuburan ini seperti makam pada umumnya. Namun, ironis bila kuburan saksi sejarah Muna ini, harus dibiarkan begitu saja tanpa terawat.

Pusara kuburan ini sudah tak kentara. Namun, nisan tua batu cadas berdiri di kepala dan kaki menandakan adanya kuburan ini.

Walau kuburan ini dikelilingi beragam tumbuhan liar, di dalam kuburannya amat bersih. Tak ada ilalang dan dedaunan yang jatuh. Padahal, warga tidak setiap hari membersihkannya.

“Paling hanya waktu ziarah hari besar Islam,” kata mantan Kepala Desa Wadolao La Ode Limin.

Nama terakhir yang disebut, merupakan keturunan kelima dari Wa Sope, yang juga mantan istri Raja Muna.

Di kuburan Wa Sope ini, bau wangi wangian begitu semerbak, tentunya penuh dengan suasana mistik.

La Ode Limin bilang, kuburan ini baru diketahui pusara milik Wa Sope sekitar tahun 1972.

Jauh sebelum diketahui kuburnya, Wa Sope mangkat di sekitar Kerajaan Muna di Kotano Wuna yang biasa disebut Kampung Lama.

“Menurut informasi, kuburan ini baru ditahu kuburan milik Wa Sope pada tahun 1972. Infonya, istri Raja Muna Sangia Latugho dikubur di dalam lingkungan benteng Wadolao sini,” jelasnya.

Punya Keturunan karena Jalankan Syariat Islam

Saban hari, Raja Muna ke XV Sangiano Latugho risau. Kegalauannya berpangkal dari istrinya yang belum juga memberikan keturunan. Padahal, usia Wa Ode Sope sudah 90 tahun.

Wa Sope lebih tua usianya dari Sangiano Latugho. Konon, Wa Sope merupakan perempuan keturunan Raja di Buton. Ia pernah dijodohkan dengan ayah Sangiano Latugho, La Ode Ngkadiri bergelar Sangiano Kaindea.

Namun, perjodohan itu tolak oleh Sangiano Kaindea dengan alasan tertentu. Penolakkan ini kemudian membuat geram Raja Buton yang pada akhirnya memicu panas dingin hubungan Buton dan Muna, hingga terjadi perang.

Kembali ke keriasuan raja akan fakta tanpa pewaris takhta di kerajaannya terus direnunginya setiap hari.

Gunda gulana sang raja kemudian sampai di telinga Syekh Saidi Rabba. Seorang keturunan Arab, penyebar syiar Islam di tanah Muna dan Buton.

Mengetahui kegundahan hati raja, Saidi Raba datang. Kepada raja, Saidi Raba memberikan beberapa syarat agar bisa memiliki keturunan. Meskipun secara ilmu biologi sangat mustahil Wa Sope hamil di usia uzur.

Syarat yang diminta Saidi Raba macam-macam. Raja wajib menjalankan ajaran Islam, salat tahajud setiap malam, puasa selama 40 hari, serta memerintahkan agar seluruh masyarakat dalam Kotano Wuna menjalankan salat Jumat hingga memberikan tempat bagi penyiar Islam di lingkungan kerajaan.

Seluruh yang dipersyaratkan Saidi Raba akhirnya dijalankan Sangiano Latugho.

Setelah Raja Muna menjalankan syarat tersebut, kemudian Saidi Raba melakukan ritual dengan memandikan Wa Sope.

“Saat itu Saidi Raba menyuruh Raja untuk memperhatikan matanya, kalau ada yang keluar setetes dari air mata Saidi Raba, maka raja akan memiliki keturunan, dan alhamdulillah hal itu terjadi, raja akhirnya memiliki keturunan,” kisahnya.

Hasilnya Wa Sope menjadi puncak penyebaran ajaran Islam yang begitu masif di Bumi Sowite.

Semua kalangan, makin terbuka dan menerima ajaran ini, terlebih lingkungan kerajaan menjadikan ajaran Islam yang diberlakukan.

Penggalan kisah Wa Sope dengan perjalanan ajaran Islam di muka tidak seperti nasib makamnya yang kini belum mendapatkan perhatian oleh pemerintah.

Padahal, bila kuburan ini dijaga dan dirawat, bukan tidak mungkin ke depan akan menjadi tempat wisata religi dan budaya di Muna.

“Kami harapkan Pemda Muna agar menata kuburan istri raja ini. Kuburan ini bisa dijadikan tempat objek wisata,” harapnya.

Di lingkungan Benteng Wadolao ini ditemukan terowongan dengan panjang 70 meter yang mengarah ke laut. Konon, benteng ini sebagai bagian dari pertahanan Kerajaan Muna dari serangan musuh.

Selain kuburan Istri raja juga terdapat kuburan La Ode Hasani bergelar Sagia Wadolao.

Kuburan ini memiliki keunikan tersendiri karena tidak ditumbuhi rumput-rumput di atasnya.

“Dan tak ada satu pun daun pohon yang jatuh di atas kubur,” katanya heran.

Penulis : Iman Supa
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Koreksi : Sebelumnya ada kesalahan penulisan, harusnya kuburan ini diketahui sebagai pusara Wa Sope nanti tahun 1972.

Facebook Comments