ATAU TIDAK SAMA SEKALI

Demo mahasiswa di Jakarta. (Foto : HMJ Unpad)

Tadinya saya ingin menulis tentang aksi mahasiswa yang sekarang sedang bergerak. Tentang aksi heroik anak-anak STM yang memenuhi jalan menuju Senayan. Tentang pernyataan tokoh-tokoh mahasiswa yang fasih berbicara dalam bahasa kemanusiaan. Yang berseru lantang dalam sumpah bertanah air satu tanah air tanpa penindasan.

Ya. Tadinya saya ingin mengulang lagi kalimat yang diucapkan Atiatul Mutaqin, ketua BEM UGM. Benar Bung. Negara tidak sedang baik-baik saja. Ya. Tidak sedang baik-baik saja. Saya tidak akan menjelaskan soal rancangan undang-undang. Pelemahan KPK. Perihal intrik dan kongkalikong orang-orang besar, juga sikap diam dari sebagian yang lain. Saya hanya ingin mengutip sepenggal sajak Rendra:

Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu
maka kami mencurigaimu.

-Advertisement-

Demikianlah faktanya. Tiadanya keterbukaan. Serba tergesa-gesa, dan seterusnya dan sebagainya, membuatku tambah yakin bahwa memang ada yang disembunyikan dari mata rakyat. Mahasiswa membaca gejala itu. Lalu bertanya, Anda mewakili siapa? Anda atas nama siapa?

Ya. Gerakan mahasiswa sudah berlangsung beberapa hari. Masing-masing kota saling pantau saling menjaga. Lintas kampus saling menguatkan, saling berkabar. Jadi ramai. Jadi bertambah. Jadi gelombang. Kemudian media menulis berita-berita. Mengabarkan perkembangan dan kejadian-kejadian. Media sosial jadi lintasan pemberitaan. Cukup membantu sebetulnya, meski sebagian yang lain hanya menerangkan intrik, menuliskan sensasi. Jadinya subtansi kadang dikesampingkan. Dibuat jadi infotaimen.

Ada juga yang bicara sembarangan. Seolah gerakan mahasiswa tidak murni. Tidak steril. Katanya ditunggangi. Katanya disusupi. Mereka menakar idealisme mahasiswa dengan standar nafsu di kepala mereka, di hati mereka. Sangsi pada komitmen generasi sambil sesekali bernostalgia bahwa dulu mereka aktivis. Dulu mereka pernah berteriak di jalanan dan menggemakan suara rakyat. Tapi sekarang mereka menutup telinga karena terganggu suara-suara yang sama. Lalu ke mana jiwamu yang dulu itu? Ke mana lenyapnya suara-suara itu? Baiklah. Saya kutipkan satu penggalan sajak saya:
“Bukankan kita terlalu tua untuk tersesat?”

Kemudian teman mengirim video kepada saya. Di dalamnya tergambar jelas seorang mahasiswa dengan baju almamater dipukuli aparat. Tidak berdaya dan pasrah. Beramai-ramai mereka menendang dan memukul. Tak sudah-sudah mereka melampiaskan amarah. Mungkin karena lelah. Mungkin frustrasi. Saya lalu bertanya, masih harus begitukah sesama manusia saling menyapa? Kenapa bukan berjabat tangan saja. Sebaris sajak Rendra melintas lagi:

Karena kami cuma bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka tidak dan tidak kepadamu

Sekali lagi Bung, negara tidak sedang baik-baik saja. Ada sesuatu yang terlalu telanjang di mata. Rencana-rencana yang mengisyaratkan keangkuhan dan penindasan. Sekat-sekat yang menegaskan tiadanya kebebasan. Dan terang-terangan ingin memasung keadilan. Ini jelas tidak sehat Bung. Ketika mahasiswa berteriak dan turun ke jalan, kalian malah bilang ditunggangi. Disusupi. Dimanfaatkan. Tidak murni. Berpotensi makar. Dan lain-lain. Betapa susahnya hidup begini Bung. Wajarlah kiranya Gus Mus menulis sajak ini:

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kabut asapkah yang menghalangi pandangan Tuan, hingga tak kau lihat ceceran darah dari tubuh terluka para mahasiswa. Tidakkah mereka anak-anakmu juga. Anak-anak bangsa yang lahir dari keringat dan airmata para petani. Ayolah Tuan. Mari saling bicara. Dengarkan suara dari jiwa-jiwa yang tergerak oleh ikatan kemanusiaan ini. Jika tidak, bait terakhir sajak Rendra ini akan menggetarkanmu:

Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu.

Bersiaplah Tuan!

Tulisan ini pertama kali dimuat di fanpage Facebook Irianto Ibrahim

Facebook Comments