Mengenal dan Menjadi Antibody Penangkal Hoaks

Maul Gani (Facebook) 

Kendari, Inilahsultra.com – Hoaks diyakini berasal dari kata hocus pocus, semacam mantra yang kerap digunakan dalam pertunjukan sulap. Hoaks yang kini tercantum di Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan arti “berita bohong” terkesan manipulasi data dan fakta .

Virus Hoaks sendiri sebetulnya memiliki akar sejarah yang panjang dan komplit. Hoaks pertama kali dikenal sekitar tiga hingga empat abad silam, tepatnya pada tahun 1745, kalah itu Tokoh Besar Amerika yang juga seorang penulis , Benjamin Franklin yang menulis melalui harian ‘Pennsylvania Gazette’ mengungkapkan sebuah batu yang dapat mengobati berbagai macam penyakit, semisal rabies, kanker, dan penyakit-penyakit lainnya.

-Advertisement-

Kemudian berita batu yg disebutnya ‘Batu China’ tersebut dianggap kebohongan, setelah salah seorang pembaca Pennsylvania mengetahui jika pernyataan Benjamin adalah hoaks, ternyata batu tersebut terbuat dari tanduk rusa biasa yang tak memiliki fungsi medis seperti yang diberitakan.

Hoaks terus meningkat. Di dunia ada beberapa informasi hoaks yang pernah menggemparkan dunia, seperti kabar palsu seperti entitas raksasa seperti Loch Ness, tembok China yang terlihat dari luar angkasa dan hingga perdebatan mengenai bentuk bumi belakangan ini.

Hoaks Menjadi Mainstream di Indonesia

Sejak sindrom hoaks menjamur kita menjadi latah, cenderung mengikut yang banyak, bukan mengikut yang benar. Masyarakat dibuat bingung dengan informasi simpang siur dan bahkan saling menyerang. Media Indonesia menjadi tidak searah, menjadi sarana balas pantun antar elit, sehingga sajiannya kerap mengarah pada pemenuhan ‘syahwat’ kelompok tertentu.

Tak ayal, nama besar tidak menjamin menyajikan informasi bermutu, tampak latah dan subyektif. Logika sederhanya, jika dua pihak menyampaikan perbedaan laporan yang berbeda dan saling bertolak belakang, maka tentu ada yang dapat dipercaya di sisi lain ada yang patut dipertanyakan kebenaran. Nah, yang dipertanyakan inilah cikal bakal berita tidak benar atau hoaks.

Ironisnya, masyarakat sulit memilih dan memilah informasi hoaks dan bukan hoaks. Apalagi sasaran utama penyebaran berita hoaks melalui media sosial. Meningkat pesatnya pengguna media sosial dan kurangnya edukasi menjadi sasaran empuk ‘rudal’ hoaks itu sendiri.

Apalagi, ‘Penggoreng’ informasi kadang terlampau gosong kadang juga kurang matang, pilihannya mau tidak mau tetap disajikan. Kabar buruknya, masyakat yang menerima informasi belum memahami benar citarasa berita benar, lantas menshare dan menyebarluaskan secara langsung tanpa melakukan analisa dan pengkajian.

Meskipun sebenarnya, secara regulasi, aturan yang ada sudah menuntut pengguna sosial media agar lebih cerdas dan lebih berhati-hati. Kontrol sosial juga menjadi ‘melempem’ dan belum berjalan efektif.

Hoaks Dipelihara ?

Semua hoaks punya tujuan masing-masing, dari sesederhana publisitas diri hingga tujuan yang amat genting seperti politik praktis yang digunakan di negara negara penganut paham demokrasi.

Hoaks juga bisa menjadi salah satu strategi yang diterapkan dalam peperangan dan upaya memenangkan pertempuran tanpa senjata. Lazimnya propaganda dalam bentuk ini digunakan pihak yang ‘memiliki kekuasaan’ demi meraih empatik.

Virus Hoaks sendiri sebetulnya memiliki akar sejarah yang panjang dan komplit. Cara kerjanya melalui perang pemikiran dan cuci otak. Langkah ini tentu dianggap efektif meruba alur pikir masyarakat bawah yang minim referensi.

Kebohongan bisa disebut hoaks apabila dibuat secara sengaja agar dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Tak hanya itu, kebohongan baru bisa disebut hoaks apabila keberadaannya memiliki tujuan tertentu, seperti misalnya untuk memengaruhi opini publik.

Beberapa kasus yang berujung buih bagi pembuat dan penyebar berita yang dianggap palsu harusnya menjadi pelajaran. Sebaiknya harus dipastikan informasi tersebut benar, kapabel, terpercaya, sesuai fakta dan melalui pengkajian dan data serta dapat dipertanggung jawabkan.

Hampir dipastikan, ada pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi merebaknya hoaks ini dengan tujuan tertentu.

Solusinya,”Naikkan IQ anda maka Hoaks tidak akan pernah ada, ” sebab jika kita masih mempercayai hoaks, apalagi ikut serta menyebarkannya, sama dengan ikut andil dalam melakukan pembodohan. Orang intelek harus menjadi filter dan terus melakukan perlawanan terhadap hoaks. Virus ini harus dibasmi.

Maul Gani SE

Penulis adalah alumni Fakultas Ekonomi Universitas Halu Oleo Kendari

Facebook Comments