
Susi Pudjiastuti
Kendari, Inilahsultra.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyampaikan capaian penting selama menjadi menteri pada seminar internasional yang digelar di Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sabtu, 16 September 2017.
Menurut Susi, tekad Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) adalah menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan menjadikan laut menjadi masa depan Bangsa Indonesia.
“Menurut saya misi ini sangat realistis bila bersandar pada kondisi geografis Indonesia. Namun jika melihat capaian yang dimiliki Indonesia pada awal saya menjadi menteri sesungguhnya kita masih sangat jauh untuk menjadikan cita-cita tersebut,” paparnya.
Pada saat ini, jelas Susi, neraca perdagangan Indonesia hanya menempati posisi ketiga di Asia Tenggara. Peringkat tersebut tidaklah mereflesikan fakta bahwa luas laut Indonesia terluas kedua di dunia.
“Pertama menurunya rumah tangga nelayan berdasarkan Sensus 2003 hingga 2013 diketahui bahwa jumlah rumah tangga nelayan berkurang dari 1.600.000 menjadi 800.000 rumah tangga. Kedua 115 eksportif tertutup. Ketiga impor Indonesia berada diangka yang sangat tinggi, dan keempat maraknya ilegal fishing,” beber Susi.
Sebagai respon terhadap ilegal fishing, kata Susi, pemerintah menerapakan UU Nomor 45 tahun 2009 tentang perikanan. Dimana Indonesia berhak menenggelamkan kapal yang melakukan kegiatan penangkapan ikan secara ilegal.
Kemudian, lanjut Susi, mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan (KP) Nomor 56/PERMEN-KP/2014 tentang moratorium perizinan usaha perikanan tangkal. Selanjutnya, Permen KP Nomor 57/PERMEN-KP/2014 yang mengatur soal larangan transhipment, dan Permen KP Nomor 58/PERMEN-KP/2014 tentang disiplin PNS.
Penerapan aturan itu, jelas Susi, memberikan peningkatan pada beberapa aspek. Diantaranya, pertama nilai tukar nelayan yang awalnya 104 naik menjadi 110. Kedua, nilai tukar usaha perikanan naik dari 102 menjadi 120. Ketiga stok ikan Indonesia meningkat dari 6,5 juta ton menjadi 12,5 juta ton.
Keempat, konsumsi ikan nasional meningkat dari 36 kg menjadi 43,6 kg. Kelima ekspor Indonesia naik 5 persen dan Impor turun 70 persen.
“Saat ini usaha kelautan dan perikanan adalah usaha yang sangat menguntungkan, dan ini merupakan pertama kalinya neraca perdagangan ikan di Indonesia menempati posisi pertama di Asia Tenggara,” bebernya.
Reporter: Haerun
Editor: Herianto




