Tidak Gampang Menjadi Guru

Ilustrasi

Kendari, Inilahsultra.com – Tepat 25 November 2017, seluruh guru di Indonesia memperingati hari jadinya.

Hari Guru Nasional dicetuskan sejak tahun 1994 sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 dan juga di UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Hari itu pula bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

-Advertisement-

Namun, bila menilik sejarahnya, guru sudah ada seiring jejak peradaban manusia. Setidaknya, sejak ada manusia, sudah ada guru.

Di Indonesia, guru berada pada posisi tertinggi di masa kerajaan Hindu-Budha. Profesi ini masuk pada kasta tertinggi, Brahmana.

Kasta ini mengajarkan segala hal yang berhubungan dengan agama serta kitab suci. Termasuk ilmu filsafat, hukum, sastra, beladiri dan ilmu pengetahuan lainnya.

Di masyarakat pun, guru memiliki posisi terhormat. Saking berharganya, guru menjadi orang maha tahu di lingkungannya.

Begitu pentingnya keberadaan guru, pimpinan Negara Jepang, pasca-dua kotanya dibom, Hiroshima dan Nagasaki, lebih dulu menanyakan jumlah guru yang tersisa dibandingkan bala tentaranya.

Padahal, pada saat itu Jepang tengah luluh lantah akibat konflik Perang Dunia dengan negara sekutu.

Bagi negeri Sakura, guru adalah modal untuk membentuk generasi baru.

Sama halnya di Indonesia, peran guru sangat penting. Mereka menjadi panutan dalam bertutur kata dan berprilaku. Bahkan, guru menjadi kamus hidup bagi generasi.

Meski dikenal sebagai pahlawan peradaban, guru yang juga manusia tentu memiliki catatan hitam.

Jejak digitalnya masih terekam. Ada oknum guru menjadi pelaku kekerasan kepada anak muridnya.

Hal ini tentu menegaskan bahwa, tidak ada guru yang mulus dalam karirnya. Tak ada yang suci. Ada saja masalah dalam jalannya. Namun tidak untuk dicontoh.

Bukan berarti pula harus mengutuk untuk tidak mempercayai guru atas ulah oknumnya.

Guru tetap lah lentera bagi bangsa. Lewat tangan dan prilaku mereka, generasi diharapkan tercerahkan. Baik buruknya perjalanan bangsa ada di mereka.

Namun, tidak sedikit juga guru menjadi korban kekerasan. Di Kendari, baru-baru ini, seorang guru menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh orang tua murid.

Peristiwa penganiayaan ini turut memantik semangat kompatriot para guru. Melalui Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sultra, mereka menggelar demonstrasi di gedung DPRD Sultra.

Mereka menuntut adanya pembentukan peraturan daerah tentang perlindungan guru.

Menurut mereka, perda ini dianggap penting karena berkaca pada kasus kekerasan yang korbannya adalah guru cukup mencolok.

Ketua PGRI Sultra Halim Momo menilai, kasus kekerasan terhadap guru ini bak fenoman gunung es. Sebenarnya, kasusnya cukup banyak namun tak terdokumentasi. Beberapa korban enggan melapor karena mengabaikannya.

“Padahal, ini adalah masalah besar di negeri kita,” ungkap Halim Momo waktu usai menggelar demo di DPRD Sultra.

Dia menyebut, terjadi dekadensi moral dalam perspektif masyarakat terhadap guru. Paradigma telah berubah dan menganggap guru bukan lagi orang tua kedua bagi siswa.

“Di zaman saya, kalau ada guru tegur dan menghukum siswa, pulang di rumah kita dipukul lagi sama orang tua. Sekarang, kita harus serba hati-hati. Padahal teguran itu sebagai bentuk kecintaan kepada siswa,” jelasnya.

Data yang mereka terima, sejauh 2017 ini, sudah ada empat sampai lima kasus kekerasan yang korbannya adalah guru.

“Banyak guru tidak mau melapor,” ujarnya.

Bagi dia, Perda yang disuarakan itu penting. Namun, bukan berarti mengeklusifkan guru dalam hal tindakannya. Guru juga diharapkan bisa menjadi pencerah bagi generasi yang rawan hilang arah.

“Kita harap, guru tetap profesional. Menjalankan tugas sesuai kode etik dan aturan,” harapnya.

Memang, begitu susahnya menjadi guru. Dosa dan amalnya berbanding lurus. Salah mengajar, dapat dosa. Benar mengajar, dapat amal.

Pepatah lama, “guru kencing berdiri murid kencing berlari”, harus tetap jadi pegangan. Kalimat ini tak akan lekang kapan pun dan dimana pun. Tetap berlaku bagi guru siapa pun dia.

Terakhir, tanpa guru, tak ada presiden. Mereka lahir dari proses pendidikan pada umumnya. Selamat hari guru, jasamu sepanjang masa.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments