Sakit Infeksi Paru, Bayi Berusia 1 Bulan di Muna Butuh Uluran Tangan Dermawan

Fachrul tampak menderita saat bernapas

Raha, Inilahsultra.com – Pasangan suami istri (pasutri) Sofian (32) dan Sitti Saprianawati (34), warga desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna, tak bisa berbuat banyak terhadap kondisi anak semata wayangnya yang jatuh sakit.

Putranya bernama Fachrul yang baru berumur 1 bulan 16 hari didiagnosa mengalami infeksi paru-paru.

Keluarga yang tinggal di pesisir laut di Desa Labone ini hanya bisa mengandalkan doa dan uluran tangan
dermawan untuk kesembuhan bayinya.

-Advertisement-

Saat dikunjungi jurnalis Inilahsultra.com, Sabtu 4 Mei 2019, Fachrul sementara tertidur nyenyak.

Sesekali bayi itu menghembuskan napas cukup nyaring, seakan ada yang menghambat pernapasannya.

Saprianawati menceritakan, ia melahirkan Fachrul di sebuah klinik di desanya. Kelahiran bayi pertamanya itu berlangsung normal.

Hanya saja, usai dilahirkan, sekitar 1 jam, anak tersebut tidak menangis. Hal itu pun membuat keluarga dan budan di klinik itu panik.

“Pas lahiran Fachrul hanya bersuara seperti orang menangis satu kali. Setelah itu hampir satu jam tidak menangis lagi,” katanya saat ditemui di kediamannya, Sabtu 4 April 2019.

Bidan, lanjut dia, sempat mengerak-gerakan badan Fachrul. Hanya saja, Fachrul tetap saja tidak menangis.

“Badannya sudah menghitam keluarga makin panik,” jelas Saprianawati sambil mengayun Fachrul.

Keluarga Buruh Miskin Papah

Suami Saprianawati, Sofian, bekerja sebagai buruh pengangkut pasir di perairan Labone. Setiap hari ia mengambil pasir menggunakan perahu kayu. Ia jadi buruh untuk usaha orang lain.

Sofian, ayah Fachrul hanya bekerja sebagai buruh pengangkut pasir.

Dalam sehari, Sofian diberi upah Rp 30 ribu. Itu pun jika ada pesanan.

Pendapatannya dalam sehari itu, tentu tidak akan mampu membiayai kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk pengobatan putranya.

Karena tak ada uang, kini mereka memiliki utang Rp 12.678.000 atau Rp 12 juta untuk biaya pengobatan dan perawatan Fachrul selama 12 hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muna.

Biaya rumah sakit yang begitu besar, terlebih mereka tidak memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah, akhirnya bayi itu dibawa pulang ke rumah. Padahal, kondisi kesehatan bayi itu perlu penanganan serius dari dokter.

Fachrul saat digendong ibunya

Karena kendala biaya, bayi ini akhirnya hanya dirawat seadanya di rumah mereka yang berdindingkan papan. Plus tanpa tindakan medis.

Gejala Awal

Ia menyebut, saat usia Fachrul 24 hari, gangguan pernapasan mulai nampak. Lehernya terlihat membengkak dan susah untuk bernapas.

Karena khawatir terjadi apa-apa terhadap putranya, ia membawanya ke rumah sakit tanpa persiapan biaya.

“Petugas medis saat itu, sempat tanya apakah bersedia anak ibu dirawat pasien jalur umum? Dengan tegas saya sampaikan lakukan yang terbaik demi kesembuhan anakku walaupun nyawa yang menjadi taruhannya, karena kami tidak memiliki jaminan kesehatan yang bisa meringankan beban pembayaran rumah sakit ,” katanya.

Di situlah, Fachrul mulai dirawat. Putranya itu mulai dipasang selang infus dan diberikan oksigen.

“Diberikan oksigen dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore hingga menggunakan dua tabung besar barulah Fachrul sadarkan diri,” katanya.

Setelah dirawat selama 12 hari, pihak rumah sakit mengizinkan pulang. Namun, mereka harus lebih dulu menebus biaya pengobatan.

Jumlahnya di luar penghitungan mereka nan fantastis. Menembus Rp 12 juta lebih.

Tanpa perpikir panjang, ia kemudian keliling mengutang kiri kanan di keluarga dan kerabatnya di Kendari.

“Untung saja saat itu ada teman di Kendari meminjamkan uangnya 5 juta, kalau tidak terpaksa Fachrul harus berada dulu di rumah sakit sampai kita mengumpulkan uang sebanyak itu,” katanya.

Setelah menebus biaya rumah sakit melalui utang, mereka akhirnya pulang ke rumah. Namun, bukan berarti Fachrul sudah sembuh total. Dokter menyarankan agar setiap satu minggu Fachrul harus dikontrol.

Saprianawati saat mengayun putranya yang terbaring lemas karena infeksi paru-paru

“Fachrul satu kali satu minggu harus dikontrol itupun harus membayar sekitar 250 ribu padahal saat ini membayar utang saja sudah susah apalagi membayar kalau kontrol, selain itu juga dua hari lalu dokter minta diopname namun masih trauma membayangkan saat pertama dirawat di rumah sakit,” ujarnya.

Ia berharap, dengan segala keterbatasan ekonomi ada dermawan yang mau mengkurkan tangan. Terlebih, pemerintah kiranya bisa berbaik hati meringankan beban mereka yang cukup berat itu.

“Saat ini hanya bisa harapkan bantuan dari siapa pun, terlebih Pemda Muna dalam hal ini Rumah Sakit Muna memberikan kebijakan khusus karena penghasilan suami tidak banyak,” harapnya.

Penulis : Iman Supa
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments