TMMD Menyatukan Yang Terpecah di Selatan Pulau Buton

Mama Dewi tak kuasa menahan air matanya saat seorang prajurit TNI datang memohon pamit kepadanya.

Batauga, Inilahsultra.com – Aktifitas di masjid baru lingkungan Kolowu Morikana begitu sesak pagi tadi. Warga setempat disibukkan dengan menghidangkan makanan ‘terakhir’ bagi Satgas TMMD. Isak tangis emak-emak terdengar silih berganti mewarnai proses penghidangan makanan terakhir itu.

Ramlah (50) berdiri lesu disamping meja makan dan tampak sibuk mengambilkan piring untuk para prajurit TNI. Seolah tegar dengan memasang wajah teduh, air mata terus menetes membasahi pipi wanita paruh baya ini.

Tangannya yang memegang tisu, tak henti menghapus air mata yang telah melunturkan make up di wajahnya. Nampak dengan sangat jelas, kesedihan dan kehilangan menyelimuti wanita yang akrab disapa mama Ramlah ini.

-Advertisement-

Isak tangis pecah dengan teriakan histeris saat seorang prajurit TNI disusul beberapa kawannya berjalan kaki mendekati meja makan. Belum sempat mengambil piring, prajurit TNI ini langsung di peluk oleh mama Ramlah dengan suara tangis yang terus bergemah.

Prajurit TNI yang diketahui bernama, Prada Jefrin ini pun mencium tangan dan langsung membalas pelukan mama Ramlah. Prajurit TNI yang bertugas di Kompi 725 Woroagi ini berusaha menenangkan mama Ramlah dan terlihat menghapus air matanya.

Ternyata, kesedihan yang begitu dalam menyelimuti mama Ramlah karena teringat kepada anaknya yang juga seorang prajurit TNI yang terus membayangi pikirannya, tatkala para prajurit yang tergabung dalam Satgas TMMD memohon pamit.

Mama Ramlah tak kuasa menahan tangisnya saat hendak dipeluk salah seorang prajurit TNI.

Usai menikmati hidangan terakhir emak-emak, para prajurit TNI bergegas kembali ke posko dengan maksud akan kembali ke medan tugas. Rupanya para emak-emak bersama warga setempat enggan meninggalkan masjid sebelum para prajurit TNI melintas didepan masjid.

Saat deru mesin mobil mulai terdengar dari posko TMMD, para emak-emak ini mulai berjejer dipinggir jalan untuk melihat yang terakhir kalinya pra prajurit yang sudah dianggap sebagai anak sendiri itu.

Lagi-lagi isak tangis kembali pecah, kala mobil yang ditumpangi para prajurit TNI melintas di depan masjid. Tak tega mendengar tangisan yang kian histeris, sang driver (sopir) menghentikan laju kendaraannya. Dengan sigap, para prajurit melompat dari truk dan kembali berpelukan dengan warga lingkungan Kolowu Morikana.

“Saya sudah anggap mereka sebagai anakku. Saya sedih sekali kasian. Lihat mereka pamit, saya ingat lagi anakku yang lulus tentara tahun lalu yang tugas di Kalimantan,” tutur mama Ramlah terisak sambil menghapus air matanya.

Kenangan yang sulit dilupakan selepas kepergian Satgas TMMD adalah, para prajuit ini berperan aktif meringankan beban kerja para emak-emak di dalam rumah, maupun di dapur umum yang menjadi lokasi memasak makanan bagi pekerja yang membangun masjid.

“Kalau mereka lihat kita pegang apa-apa, mereka datang ambil itu barang yang dipegang dan bilang jangan mama, biar katong yang angkat. Walaupun mereka terlihat capek, tapi mereka tetap bercanda dengan mama-mama disini. Kadang mereka gendong dan pikul anak-anak disini,” ucap mama Ramlah yang masih terisak.

Disamping kanan masjid dibawah tenda, salah seorang emak-emak juga terlihat histeris. Duduk menyendiri di kursi, sambil menutup wajahnya seolah ingin menutupi kesedihannya, padahal isak tangis lantang terdengar dibalik wajah yang ditutupi baju merah yang dikenakannya.

Dia adalah Dewi Kurnia (45). Wanita yang akrab disapa mama Dewi ini juga tidak mampu membendung air mata kesdihannya saat para prajurit TNI memohon pamit.

“Sudah mereka mi kasian yang bantu-bantu di dapur. Sekarang sudah sunyi mi kasian, tidak ada lagi yang bercanda bercanda dengan orang kampung sini,” ucap mama Dewi sambil menghapus air matanya.

Sementara itu, Kepala Lingkungan Kolowu Morikana La Ode Tarmin menuturkan, asal mula munculnya ide pembangunan masjid ini karena melihat masyarakat terpecah belah kalau salat idulfitri atau iduladha. Bagaimana tidak, lingkungan Kolowu Morikana ini dihuni oleh dua komunitas masyarakat.

Diantaranya, warga eksodus (pengungsi dari Ambon) dan warga lokal. Jika lebaran datang, fokus salat ied terbagi dua yaitu warga eksodus salat di lingkungan Kolowu yang mayoritas semua warganya berasal dari Ambon sedangkan warga lokal Kolowu Morikana salat di lingkungan Kambe-Kambero.

“Melihat hal itu, kita sebagai tokoh disini berpikir membangun masjid agar tidak ada lagi yang terpecah belah. Saya juga sudah sampaikan kepada warga, Satgas TMMD sudah membantu kita membangun masjid, jadi jangan ada lagi sekat diantara kita. Kita adalah satu kesatuan,” pungkas Tarmin.

Laporan: Muhammad Yasir

Facebook Comments