
Kendari, Inilahsultra.com – Sungguh pilu nasib seorang kakek di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), hidup sebatang kara tanpa sanak saudara dan keluarga. Di usianya yang sudah senja, ia bekerja sebagai pemulung untuk menyambung hidup.
Usai mengumpulkan barang bekas untuk ditukarkan dengan uang, La Nggugu (80) juga bekerja sebagai petugas kebersihan di beberapa warung makan di Pelabuhan Nusantara Kendari.
Sejak 30 tahun, ia bekerja sebagai pemulung, kakek tua ini tinggal di sebuah rumah tanah yang tidak layak huni. Rumah yang ia tinggali hanya berukuran 1×2 meter, di Kelurahan Mangga Dua, Kecamatan Kendari.
Rumah itu tempat ia beristirahat di kala melepas lelah, usai mengumpulkan puing-puing sampah. Rumah yang hanya beratapkan seng-seng bekas, beralaskan tanah di Kebun milik salah seorang warga .
Bahkan, untuk keluar masuk ke dalam rumahnya pun harus merayap, disaat pagi hari dan menjelang malam hari.
Setiap pagi hari, kakek tua rentah melakukan aktivitas di Pelabuhan Nusantara Kendari untuk mengumpulkan plastik bekas. Untuk makan sehari-hari, ia mendapatkan dari pemilik warung tempat ia membersihkan, menyapu dan membuang sampah.
Walapun hidup sebatang kara, ia tak pernah menyerah dan mengharap belas kasihan. Ia tetap bekerja mencari plastik untuk dijual ke pengepul dan uangnya digunakan untuk membeli kopi dan beras.
Anehnya, hingga saat ini belum ada satupun bantuan dari pemerintah setempat. Baik itu bantuan makanan maupun tempat tinggal yang layak dari kelurahan, kecamatan dan pemerintah Kota Kendari. Termasuk, Pemerintahan Daerah (Pemda) Provinsi Sulawesi Tenggara.
Penulis : Onno




