(17 April 1960–17 April 2020), Cermin Diri 60 Tahun PMII

Jaelani

Jaelani, M.Si

(Ketua PB PMII 2011-2013)

Secara empiris Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII) telah mampu berkembang menjadi kurang lebih 252 cabang definitif di seluruh Indonesia. Dengan perkembangan positif ini, PMII telah menegaskan kemampuannya untuk berkembang dalam alam pergerakan mahasiswa dan kaum muda Indonesia. PMII dengan konsistensinya pada tradisi Islam ahlusunnah wal jamaah, Pancasila dan NKRI serta politik gerakan yang berpihak pada mereka yang dilemahkan (mustadhafi’en) menegaskan Positioning PMII sangat strategis terhadap arah depan bangsa Indonesia.

-Advertisement-

Dalam perhitungan waktu kronologis, warga PMII telah memasuki usia 60 tahun (1960-2020). Usia yang beranjak tua ini akan menjadi tantangan tersendiri, baik secara internal pun eksternal, bagi pembuktian diri warga PMII terhadap cita-cita membangun Indonesia Raya yang berdaulat, adil, makmur dan berwibawa dalam pergaulan dunia internasional. Tantangan yang pada muaranya harus diterjemahkan ke dalam ranah/medan gerak yang lebih berfokus pada perubahan-perubahan di setiap level.

Refleksi Sejarah PMII

Secara historis, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah mendedikasikan dirinya dalam setiap momentum perubahan di Nusantara. PMII yang lahir pada tanggal 17 april 1960 telah banyak berkontribusi dalam fase sejarah bangsa ini. Banyak momentum yang mesti digarisbawahi karena hal tersebut tidak semata menjadi peristiwa heroik melainkan menjadi penanda transformasi sosial.  Dalam fase gelombang sejarah bangsa, tercatat beberapa perubahan-perubahan fundamental maupun keterlibatan PMII, baik keterlibatan dalam pergumulan gerakan maupun dalam pemikiran.

Untuk keterlibatan PMII dalam pergumulan gerakan, bisa dipetakan dalam tiga (3) hal, Pertama, Peran-peran strategis PMII dalam konteks berbangsa dan bernegara. Dalam peranan ini, PMII membuktikan dirinya menjadi penggerak dalam setiap perubahan. Paling tidak, disini tercatat tiga (3) peranan PMII; i) keterlibatan PMII dalan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang salah satu tuntutannya adalah pembubaran PKI dan selanjutnya menjadi penopang berdirinya Orde Baru, ii) selama Orde Baru berdiri, meskipun PMII menjadi penopang berdirinya rezim Orde Baru, tetapi ketika kekuasaan semakin mengkristal menjadi rezim otoritarian, maka PMII menjadi garda terdepan dalam membangun barisan kesadaran bawah tanah dengan cara memperkuat basis civil society melalui pendirian jaringan LSM, kelompok-kelompok gerakan, dan pendampingan komunitas-komunitas marjinal, iii) bangunan civil society yang dibangun PMII, baik oleh PMII aktif maupun para alumninya, dan telah mampu  membawa gerakan rakyat vis a vis negara, hingga mampu menumbangkan Orde Baru. Peranan strategis PMII ketika peralihan kekuasaan, terlihat ketika PMII menjadi bagian penggerak jaringan aktivis melalui aksi-aksi ekstra parlementer dan mempelopori berdirinya FORUM KOTA, FAMRED, FRONT KOTA.

Kedua, Peran-peran strategis PMII dalam organisasi kepemudaan. Peran strategis yang diambil oleh PMII adalah keterlibatannya dalam organisasi-organisasi jejaring gerakan, organisasi kepemudaan, seperti, GEMUIS (Gerakan Muda Islam), KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), dan Kelompok CIPAYUNG (PMII, HMI, GMNI, PMKRI dan IMM). Semua keterlibatan PMII ini didasari oleh keyakinan bahwa proses perubahan tidak mungkin hanya dilakukan oleh satu organisasi, melainkan harus ada keterlibatan semua komponen.

Ketiga, Perubahan-perubahan fundamental dalam konteks kepentingan organisasi. Untuk menjaga eksistensi organisasi, dan keberlangsungan organisasi, maka PMII dalam fase pengembangan dan kebangkitannya telah memutuskan beberapa hal strategis, diantaranya adalah Deklarasi Murnajati, Manifesto Islam Indonesia dan sebagainya.

Keempat, Peranan PMII dalam transisi demokrasi. Momentum ini ditandai dengan adanya pemilihan umum (PEMILU) tahun 1999, pada saat ini keterlibatan PMII di wujudkan dengan mendirikan organisasi JAMPI (Jaringan Masyarakat pemantau Pemilih Indonesia) yang didirikan oleh kepengurusan PB PMII, tahun 1999 dan telah melakukan kerja-kerja pendidikan pemilih pada pemilu 1999, dan 2004.

Sementara keterlibatan PMII dalam pergumulan pemikiran, dapat di telusurinya beberapa hal ; pertama, keterlibatan PMII dalam pergumulan pemikiran, dalam sejarahnya harus diakui karena terjadinya transformasi dan migrasi buku-buku para pemikir Islam-kontemporer, seperti Hasan Hanafi, Fatima Mernisi, Asghar Ali Enginer, Nasr Hamid Abu-Zayd, Mohammad Arkoun. kedua, Sementara dari sisi ideologi, PMII juga sangat bersentuhan dengan berbagai kajian ideologi, dari mulai para pemikir kiri seperti Friedrich Engels, Karl Marx, Lenin, kajian terhadap madzhab frankfurt, kajian berbagai ideologi hingga kritik ideologi. Kesemuanya ini sangat berpengaruh pada pola pikir dan gerak PMII, hingga tersusunlah Paradigma Kritis Transformatif. Perubahan-perubahan kebijakan PB PMII maupun paradigma PMII sepenuhnya tidak terlepas dari terintegrasinya antara pengetahuan kritis dengan kerja-kerja strategis di lapangan.

Dari segenap dedikasi PMII sejak dilahirkan sampai hari ini menunjukan bahwa PMII adalah organisasi yang salalu memberi warna, tetapi kekurangan tentunya selalu hadir untuk menjadi refleksi bagi segenap kader PMII se-Indonesia. PMII terus tumbuh sebagai organisasi yang besar, tentunya semakin banyak pula tantangan yang kita hadapi dan inilah yang membuat Organisasi PMII tetap bertahan.

Cermin Diri PMII 60 Tahun

Berbeda dengan Harlah PMII sebelumnya, kali ini warga pergerakan merayakan hari lahirnya di tengah pandemi Covid-19. Virus ini menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut sampai pada kematian. Virus ini juga menyerang dihampir semua negara di Dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan Data Nasional (16/4/2020 pukul 15.30), Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 169.446 Orang, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) adalah 11.873 Orang, Positif Covid-19 sebanyak 5.516 Orang, Sembuh 548 Orang dan Meninggal 496 Orang (Sumber Gugus tugas Percepatan Penanganan Covid-19).

Dari data yang muncul, trend kenaikan masih terlihat jelas meskipun pemerintah kita telah melakukan langkah-langkah strategis termasuk lahirnya Peraturan Pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang kemudian kebijakan ini ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah. Selanjutnya, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No 20 tahun 2020 Corona Virus desease 2019 (Covid-19) juga telah ditetapkan sebagai bencana Nasional Non alam. Kita berharap pemerintah terus menghitung seluruh dampak yang ditimbulkan dari Covid-19 termasuk dampak sosial ekonominya.

Realitas telah kita lihat bersama bahwa penanganan Covid-19 membutuhkan peran serta semua pihak dalam membantu pemerintah termasuk organisasi mahasiswa dan kepemudaan. Ada beberapa hal yang mungkin penting dilakukan; pertama, Melakukan gerakan kemanusiaan– PMII diberbagai daerah telah melakukan langkah-langkah untuk ikut berkontribusi positif dalam penanganan Covid-19 mulai dari imbauan untuk hidup sehat, melakukan penyemprotan disenfektan, pembagian masker, hand sanitaizer dan juga sembako. kedua, Ikut membantu pemerintah, termasuk mengikuti himbauannya seperti Physical distancing, stay at home atau yang lainnya.

Terlepas dari Fenomena Covid-19 penting bagi PMII dalam Harlahnya yang ke-60 merefleksikan beberapa hal secara internal, Pertama; Keorganisasian,  PMII telah tumbuh menjadi organisasi yang besar–fenomena ini adalah kebanggaan bagi kita sebagai organisasi, karena telah mampu mengkonsolidasi kekuatan dengan pendekatan strktural yang begitu massif. Kedua; Kaderisasi – ini adalah inti utama dalam membangun pergerakan kita dengan tujuan sederhana yakni membangun manusia yang seimbang antara kapasitas tahukeagamaan, ilmu pengetahuan, dan rasa cinta dan pengabdian atas tanah air dan bangsa. Dimasa datang Kaderisasi jangan hanya berakhir diruang-ruang formal tetapi secara lebih substansi harus menyentuh seluruh kesadaran Kader PMII.

Ketiga; Sumberdaya Manusia — kedepan memaksimalkan konsolidasi di kampus umum menjadi keniscayaan untuk menambah Sumberdaya-sumberdaya PMII yang lebih banyak dan lebih multidisplin, Keempat; Networking, Enam Puluh tahun PMII merupakan momentum penting bagi perjalanan organisasi kita. Ini tentu kita maknai sebagai perjalanan historis dimana PMII menata dirinya terus menerus seiring perubahan yang terjadi disekitarnya, baik dilingkungan terdekat, yaitu Nahdlatul Ulama (NU), maupu lingkungan yang lebih besar, yakni tanah air dan bangsa. Memaksimalkan jaringan internal dan eksternal baik lokal, Nasional dan Internasional akan menjadi kunci bagi PMII dapat menjadi pemimpin pergerakan disetiap level pertarungannya.

Selamat Harlah PMII ke-60

Tangan Terkepan dan Maju Kemuka

 Wallahulmuwafieq ilaa aqwamithorieq

 

Facebook Comments