Konawe dan Konut Banjir, Ali Mazi : di Balik Itu Pasti Ada Berkah

Ali Mazi

Kendari, Inilahsultra.com – Gubernur Sultra Ali Mazi tetap kukuh pada pendiriannya bahwa banjir di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara bukan karena aktivitas tambang dan sawit di wilayah tersebut.

Padahal, hampir semua pihak menyebut, penyebab utama banjir di Konawe dan Konawe Utara adalah gegara aktivitas industri ekstarktif tambang dan perkebunan monokultur macam sawit.

Sebut saja Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sultra.

-Advertisement-

Organisasi yang bergerak di bidang lingkungan hidup ini menyebut, banjir di Konut dan Konawe akibat pendangkalan di beberapa sungai besar di daerah tersebut.

Umumnya, pendangkalan terjadi karena aktivitas di hulu atau di sekitar sungai.

Selain WALHI, pandangan serupa juga datang dari lembaga antirasuah semacam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Wakil Ketua KPK La Ode M Syarif menyebut delapan hal yang harus dilakukan Pemprov Sultra maupun pemerintah pusat terhadap aktivitas pertambangan di daerah itu.

Salah satunya, evaluasi izin usaha pertambangan (IUP) yang tidak clear and clean (CnC) dan melanggar aturan.

Namun, seluruh pandangan publik ini sepertinya tidak membuat Ali Mazi bergeming.

Ia tetap berada pada sikapnya, menyebut bencana karena azab tuhan semata.

Bukan karena campur tangan manusia melalui carut marutnya izin pertambangan dan perkebunan.

Ditemui usai rapat paripurna di DPRD Sultra, Senin 17 Juni 2019, Ali Mazi mengaku, tanggap darurat bencana di Konawe dan Konawe Utara akan terus dilakukan hingga daerah itu pulih sedia kala.

Menurutnya, setelah banjir, pemerintah akan membangun kembali pemukiman warga atau pada intinya akan dipulihkan kembali.

“Kita pulihkan mereka, nanti ada penyuluhan hukum ada wawasan kebangsaan dan turunkan dokter ahli jiwa.

Bagi mereka yang trauma kan,” kata Ali Mazi.

Sejauh ini, kata Ali Mazi, belum ada hitungan pemerintah terkait total kerugian akibat bencana banjir yang melanda Bumi Konawe, termasuk Kolaka Timur.

Meski demikian, ia memastikan, rumah warga yang hanyut dan rusak, akan dibangun seperti semula.

Anggarannya, sebut dia, bersumber dari APBD Provinsi Sultra.

Berkaca pada pembangunan rumah korban konflik di Buton, Ali Mazi menyebut, setiap rumah dialokasikan Rp 80 juta.

Tentu, jumlah serupa akan diberlakukan kepada korban banjir di Konawe dan Konawe Utara.

Terhadap evaluasi penyebab banjir dan apa yang akan dilakukan Pemprov Sultra, Ali Mazi mengaku hanya bisa berdoa saja.

“Doa saja. Minta kepada Allah. Sudah, itu bencana alam, dan tidak bisa diapa-apai. Tunggu air surut dan kita kerja,” katanya.
Ia juga membantah seluruh pandangan WALHI maupun KPK bahwa banjir di Konut dan Konawe diduga akibat aktivitas tambang.

“Tidak ada itu (pengaruh tambang dan sawit). (Itu) karena Allah.

Kalau gundul hutan, kalau Allah nda beri. Kan karena kehendak Allah yang memberikan itu.

Di balik itu semua ada berkah,” tuturnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments