
Oleh A. Tirta Wahyu Pratama
Mahasiswa Pendidikan Geografi FKIP UHO Angkatan 2018
Selepas Salat Subuh, seperti biasanya Kyai Engko mengisi pengajian. Kali ini topik bahasannya seputar dampak ekonomi di tengah pandemi virus corona.
Kyai Engko mengawali kajiannya dengan uraian “Awal tahun 2020 kita semua dibuat terguncang oleh pandemi global Covid-19. Bermula dari Wuhan Tiongkok virus mematikan ini menyebar ke seluruh dunia.
Negara –negara dalam pandangan awam sangat kuat dalam peningkatan kualitas kesehatan juga ambruk akibat serangan virus ini. Negara sekelas Amerika Serikat dan Eropa yang selama ini selalu menjadi rujukan kualitas pelayanan kesehatan tidak berdaya menghadapi kejamnya Covid-19.
Di Asia, negara sekelas Tiongkok dan Korea Selatan terlebih dahulu ambruk akibat serangan corona virus, uniknya negara kecil Vietnam dan Singapura justru dianggap berhasil mengendalikan keganasan covid-19 ini.
Tanpa harus menjelaskan bagaimana kondisi Indonesia menghadapi penyebaran Covid-19 kita secara gamblang dapat melihat bagaimana paniknya pemerintah baik pusat terlebih lagi daerah.
“Penyebaran Covid-19 tidak hanya dipandang dari sisi kesehatan masyarakat, efek social ekonomi adalah hal yang paling membahayakan, karena penyebaran virus ini melumpuhkan sendi–sendi kehidupan sosial ekonomi masyarakat,” urai Kyai Engko panjang lebar.
Salah seorang jemaah menimpali dengan mengajukan pernyataan pada sang Kyai eksentrik itu, “ Pak Kyai, saya pernah membaca tulisan Richard Baldwin dan Beatrice Weder di Mauro dalam Jurnal CEPR yang berjudul Economic in the time of Covid-19, menurutnya, “Covid-19 telah menyebabkan penderitaan di seluruh dunia, virus ini dapat mempengaruhi ekonomi sebagaimana pengaruhnya terhadap medis”.
Bahkan Uni Eropa dan IMF kompak memprediksi bahwa akan terjadi resesi ekonomi global sebagai dampak dari Covid-19”. Jemaah lainnya seorang mahasiswa Sosiologi juga turut nimbrung dengan mengajukan gagasannya, “yang saya takutkan Kyai adalah adanya penambahan jumlah orang miskin dan jumlah pengangguran seperti yang dilansir oleh sejumlah pengamat karena terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK), putusnya rantai pasokan dari produsen ke konsumen dan muaranya adalah rapuhnya ekonomi rumah tangga masyarakat”, tandas sang mahasiswa yang dikenal sebagai aktivis organisasi mahasiswa kaum sarungan itu.
Kyai Engko mendengarkan serius apa yang disampaikan jemaah, dia mencoba menyelami jalan pikir mereka. Dia paham bahwa lontaran pernyataan itu benar adanya, krisis ekonomi sudah di depan mata.
Bahkan kemarin, seorang tukang ojek mengeluh kepadanya karena sulitnya penumpang, penjual ikan keliling yang menjadi langganannya pun mengeluh karena pendapatannya berkurang, belum lagi sopir angkot yang biasanya berjemaah di musala juga mengeluhkan hal yang sama. “selama pandemi daya beli masyarakat menurun, tapi pemerintah bersama masyarakat bahu membahu untuk menyelamatkan ekonomi masyarakat.
“9 paket kebijakan pemerintah memang perlu diuji pada tingkat implementasinya, pekerjaan kita adalah mengawal kebijakan itu agar tepat sasaran”, ujar Kyai Engko dengan nada murung.
“Paket kebijakan pemerintah tersebut harus menyasar masyarakat yang betul-betul kurang mampu dan berpotensi miskin dan sangat miskin. Om Ege, Wa Ambe dan La Bionda harus disentuh paket kebijakan itu karena memang secara factual mereka yang menjadi tukang ojek, sopir angkot dan penjual ikan. Jangan sampai yang terkena bantuan adalah La Kadue yang punya 2 rumah makan besar dikota ini. Jika tepat sasaran maka kebijakan itu akan menenangkan masyarakat yang berada dalam kondisi panik akibat virus corona ini. Paket kebijakan pemerintah tidak hanya mengenyangkan tetapi juga menangkan”, jelas Kyai Engko.
Kyai Engko melanjutkan bahwa untuk mencegah terjadinya penambahan jumlah pengangguran dan orang miskin maka pemerintah baik pusat maupun daerah perlu memikirkan scenario penyelamatan pekerja sektor informal dan usaha kecil itu, peluang kerja baru harus diciptakan oleh pemerintah, seperti padat karya tunai, penundaan pembayaran kredit perbankan bagi usaha kecil serta stimulus permodalan bagi usaha kecil yang terkena dampak covid-19 ini.
“Om Ege, Wa Ambe dan La Bionda harus dipikirkan untuk memberi lapangan kerja baru atau akses modal sehingga ekonomi mereka dapat bergerak lagi. Kasihan mereka dengan covid ini mereka kesulitan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya”.
Tetapi kesyukuran kita di tengah pandemi ini muncul jiwa filantropi dari banyak organisasi dan komunitas, nilai ini yang harus didorong menjadi sebuah prilaku public agar kaum elite dan masyarakatnya tidak berjarak”.
“Filantropi inikan bahasa lain dari sedekah, jadi umat Islam sebetulnya sudah terbiasa dengan prilaku filantropi. Selain itu, dalam Islam juga kita diwajibkan untuk menyantuni orang miskin dan anak yatim. Jadi wabah corona virus ini harus dinilai sebagai upaya kita untuk mempertebal kualitas filantropi kita. Jika kemarin – kemarin kita bersedekah hanya sebagai upaya untuk memperkuat legitimasi sosial politik serta ekonomi kita, maka ditengah wabah ini seharusnya kita semakin menyadari bahwa penting menerapkan kalimat “tangan kanan memberi tangan kiri tak boleh mengetahui”, itu pakem dalam beragama apalagi ditengah bulan puasa seperti saat ini”, urai Kyai Engko menutup pengajiannya.
Proficiat




