
BURANGA, inilahsultra.com- Mama Olif bernafas ngos-ngosan sambil membanting pantatnya di bebatuan, ketika sebelumnya melepaskan pegangan eratnya dijergen berukuran 10 liter berwarna hijau. Sesekali terlihat meringis seakan menahan capek dan letih dibagian kakinya.
Ibu rumah tangga beranak satu ini tiap hari harus menuruni tangga yang sekitar kurang lebih 80-an anak tangga sampai mendapatkan mata air yang begitu jernih tepat berada dalam gua.
Mata air tersebut masyarakat menamakannya mata Air Ee Ngkineke.
Mata air ini berada dalam goa dengan kurang lebih lebarnya sekitar 2 meter. Kondisi yang begitu gelap dan suhu dingin ketika berada pas ditepi air itu membawah suasana tersendiri. Bahkan tergolong sangat menyeramkan.
Wanita yang tergolong masih muda ini, kemudian kembali menaiki anak tangga dengan sebuah jerigen yang sudah berisi air bersih dipundaknya. Selangka demi selangka terus ia taklukkan. Terkadang hitungan sepuluh anak tangga, ia harus berhenti dan seakan kembali mengumpulkan nafas.

Setelah istrahat sejenak, ibu yang mengaku sudah sejak lahir tinggal di sekitaran Gua Mata Air ‘Ngkineke ini, kembali berjuang untuk mengangkat jerigen dengan memegangnya menggunakan tangan kanan hingga sampai dipuncak. Begitu dilakukan silih berganti antara dipegang dan dipikul.
Mama Olif mengaku mengangkut air itu untuk berbagai keperluan. Mulai cuci piring, masak hingga air minum.
“Tiap sore kami ambil air disini untuk mandi, masak dan keperluan lainnya,” tutur Mama Olif.
Ia mengaku tak punya pilihan lain jika tidak melakukannya sendiri. Saminya harus pergi kerja dan pulang sore. “Makanya tiap sore harus ambil air sendiri,” imbuhnya.
Bersama dua orang temannya, Mama Olif beristrahat sambil menyempatkan bercerita kepada penulis mengenai kebutuhan air bersih bagi sebanyak 6 KK yang tinggal disekitaran mata air itu. Bahkan, dia sempat bertutur kata terkait asal usul ditemukannya mata air Ee’Ngkineke ini.
Ibu yang mengaku mempunyai dua buah hati ini, mengaku sebetulnya pekerjaan mengangkut air bukan perkara mudah baginya. Selain faktor kecapean karena sejak pagi hingga sore menghabiskan waktu untuk berkebun, juga karena dalamnya sumber air.
“Memang dalam sekali, tapi mau diapa lagi, sebanyak 6 kepala keluarga harus ambil air disini. Ada juga sumur tapi sangat jauh sekali,” pungkasnya.
Ia pun mengharapkan kepada pemerintah daerah maupun pemerintah desa memperhatikan kebutuhan air mereka. Solusinya membuat sumur.
“Mudah-mudahan pemerintah bisa mewujudkan itu,” harapnya.
Mama Olif bercerita, asal usul penemuan Mata Air Ee’Ngkineke berawal dari seekor burung merpati bertengker di ranting pohon. Kemudian burung tersebut masuk dalam lubang batu kecil. Tak lama berselang keluar dalam kondisi basah.
“Maka pada saat itu orang-orang langsung menyimpulkan bahwa ada air dalam batu, maka mulailah digali dan akhirnya didapat mata airnya,” akunya.
Mama Olif tak mengetahui persis hingga dinamakan Ee’Ngkineke. Namun, ia percaya bahwa nama tersebut punya makna tersendiri.
“Kalau sampai dinamakan Ee’Ngkineke saya juga kurang tau, tapi pasti ada artinya, kecuali orang-orang tua dulu yang tau. Kalau Ee artinya itu air, selebihnya saya kurang tau mi juga,” pungkasnya.
Usai bercerita, Mama Olif bersama dua teman lainnya pun meminta izin untuk melangsungkan perjuangan menenteng jerigen air di rumahnya.
Penulis sempat mengikuti arah kaki mereka. Sekitar 10 menit berjalan kaki baru sampai di kediaman mereka. (*)
Reporter : Rido
Editor: Jumaddin Arif




