
Amran Sulaiman
Kendari, Inilahsultra.com – Lesunya produksi rempah-rempah nasional menjadi bahan perhatian serius Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman.
Menilik history kejayaan swasembada rempah-rempah di Indonesia, Kementerian Pertanian (Kementan) RI pun mulai menggagas program budidaya tanaman rempah-rempah dalam skala besar.
Kementan melakukan telaah pemetaan wilayah untuk pembentukan cluster budidaya tanaman rempah di Indonesia. Khusus di Sultra, Mentan Amran telah menunjuk Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) sebagai sentra pengembangan tanaman pala.
Penetapan cluster budidaya salah satu rempah-rempah unggulan ini berbarengan dengan kunjungan kerja Amran ke Sulawesi Tenggara.
“Sekarang kita gerakkan rempah-rempah. Dulu Belanda datang kerena rempah-rempah. Intinya kita bangkitkan kembali. Di Wawonii (Konkep, Red), (Pala, red) sangat cocok. Sejak 500 tahun lalu pulau Sulawesi terkenal dengan rempah-rempah ini,” cetus Amran usai rapat bersama Plt Gubernur Sulawesi Tenggara, Salah Lasata di Kantor Gubernur Sultra, Rabu, 3 Agustus 2017.
Dalam kunker beberapa hari di Sultra, Amran diketahui sempat bertandang ke Kabupaten Konkep. Kunjungan ini berkaitan erat dengan program unggulan Kementan RI yakni mendorong produktifitas tanaman rempah-rempah di Indonesia.
Disana, ia mengaku melihat sendiri bagaimana prospek budidaya tanaman pala di DOB pemekaran Kabupaten Konawe itu. Kondisi geografis Konkep disebutnya sangat potensial menjadi pusat produksi pala nasional.
“Ada pala malah tumbuh liar. Padahal ini barang ekspor,” ujarnya.
Potensi lahan dimiliki Konkep pun masih sangat luas dan memadai untuk program budidaya pala dalam skala besar. Kata dia, jika dikelola maksimal, produksi pala di Konkep diyakini bisa menembus pasar ekspor.
Hal ini, lanjut Amran, sesuai dengan target kinerja Mentan yakni menjadikan Indonesia sebagai basis produksi rempah-rempah dunia.
Trend permintaan pala di luar negeri diakui Amran cukup tinggi. Kondisi ini bisa menjadi peluang positif bagi petani pala di Indonesia bergiat meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi pala.
Reporter: Alin
Editor: Herianto




