
Wa Ode Dai, ibu Saddil Ramdani
Kendari, Inilahsultra.com – Barangkali, kalimat perempuan tangguh pantas disematkan kepada Wa Ode Dai. Tanpa rumah pribadi, mampu membesarkan dan mendidik keempat anaknya hingga saat ini.
Wa Ode Dai adalah tulang rusuk yang terpaksa menjadi tulang punggung
Untuk berlindung dari dinginnya malam dan teriknya matahari, mereka terpaksa harus menumpang di rumah keluarganya. Sejak menikah, hingga anaknya menjadi pesepakbola nasional.
Wa Ode Dai menikah pada medio 1995 silam. Hingga sekarang, mereka masih tinggal menumpang di rumah keluarganya.
Dai tak punya uang untuk membangun rumah. Pernah mendirikan pondok-pondok, tapi akhirnya minggat setelah mahligai pernikahannya berujung di meja hijau. Itu lah satu-satunya rumah yang dibangun dari tangan mereka. Selebihnya, menumpang.
Di Kendari, saat dirinya selesai menikah, dirinya tinggal bersama suami dan empat anaknya di rumah jabatan guru di Jalan Jati Kelurahan Wuawua Kota Kendari.
Begitu pula di Buton saat dirinya honor di sana, tempat tinggalnya di indekos.
Pindah dari Buton lalu ke Kendari lagi. Lalu ke Muna dan di kampung suaminya di Barangka.
Di sini, mereka tetap menginap di rumah keluarganya.
“Kita pernah tinggal di depan SMP Matakidi,” kenang Wa Ode Dai.
Tidak nyaman di Barangka, mereka kembali lagi ke Bonea. Tetap saja, mereka masih teta tinggal di rumah yang bukan miliknya.
Mendirikan pondok-pondok di tengah kebun di Bonea bersama suami dan empat anaknya.
Namun, karena ada masalah dengan suaminya (cerai), Dai terpaksa memboyong keempat anaknya di sebuah sekolah di SD Roda Desa Bonea Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna.
Dengan cekatan, Dai menata satu ruangan sekolah menyerupai rumah. Walaupun hanya sekadar pinjam.
Alasannya, hanya ingin melindungi keempat buah hatinya dari hujan dan terik.
Di sini, cukup lama dia tinggal. Hampir sekitar empat tahunan, setelah itu pindah kembali ke Kendari.
“Di sana, (Muna) saya tidak mau tinggal di rumah keluarga. Saya tidak mau dibicarakan sama keluarga,” imbuhnya.
Di Muna, dia tidak nyaman. Kerasnya “politik” dalam proses rekruitmen putranya dalam skuad LPI Muna, membuatnya hengkang kembali di Kendari.
Sepindahnya di Kendari, kondisinya tetap sama. Mereka masih menginap di rumah keluarga hingga kini.
Meskipun Saddil sudah menjadi pemain profesional hingga namanya menggaung di timnas, pendapatannya belum cukup untuk dibangunkan rumah.
“Belum cukup. Mahal bangun rumah,” katanya.
Dai mengaku, sejak awal tak ada keluarga yang respek terhadap kondisinya. Untuk itu, dia lebih selektif memilih tempat menumpang.
Di Kendari, hingga saat ini, Dai menginap di rumah mantan iparnya (mantan istri familinya), di Jalan Mekar Indah, Kelurahan Kadia Kecamatan Kadia Kota Kendari.
“Biar keluarga, kalau tidak nyaman juga kan tidak enak,” ujarnya.
Setiap Saddil balik ke Kendari, selalunya kumpul di rumah keluarga. Bukan di rumah sendiri.
Kini Dai sudah berusia kepala 5, atau kelahiran 1967 silam. Dia sudah tidak kuat lagi bekerja.
Titik harapannya ada pada Saddil. Di tengah karir putranya yang makin bersinar, terbesit harapan dari Wa Ode Dai untuk bisa memiliki rumah hasil jerih payah anak keduanya itu.
“Saya jngin punya rumah sendiri juga. Supaya kalau saya meninggal di rumah sendiri,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Di setiap sujudnya, Dai terus mendoakan anak kebanggannya itu sehat dan sukses. Dia juga berharap, putranya tetap menganut filosofi padi, makin tua makin menunduk.
“Doa saya, Saddil tetap sehat dan tidak sombong. Biarkan kehidupan lalu itu adalah ujian. Semoga kehidupan ke depan akan lebih baik,” harapnya.
Dai mengaku, sudah banyak menikmati hasil keringat putranya. Selama memperkuat tim nasional Indonesia dan Persela Lamongan, sekitar Rp 100 juta diterimanya dari Saddil.
Tapi, uang itu bukan untuk bangun rumah. Semua digunakan untuk bayar utang, belikan motor untuk adiknya, bayar kuliah kakaknya dan membangun warung untuk persiapan masa tuanya.
“Saya sedang bangun warung dj depan. Saya sudah dilarang Saddil bekerja sejak akhir 2016 lalu. Tapi, baru saya putuskan berhenti bekerja dj bulan ini,” ujarnya.
Sebelum dilarang bekerja oleh Saddil, Dai selama inj mencari rejeki sebagai kuli bangunan, tukang cuci dan mencabut rumput.
Namun, pekerjaan itu sudah tidak pantas lagi dilakoninya di usia yang mulai senja.
Kini, Saddil tumpuan Wa Ode Dai. Menggantikan dirinya yang bertahun-tahun menjadi tulang punggung dan kepala keluarga. (Habis)
Penulis : La Ode Pandi Sartiman




