
Asrun bersama putranya Adriatma Dwi Putra saat memantau pengerjaan proyek outer ringroad. (istimewa)
Kendari, Inilahsultra.com – Senyap, tanpa hiruk pikuk dan konflik, Bakal Calon Gubernur Sultra Asrun melenggang mulus mengamankan kendaraan politik.
Setidaknya, sudah lima partai (memiliki B1-KWK) yang dipastikan mantan Wali Kota Kendari itu menuju singgasana 01 Sultra. Adalah PAN, PKS, PDIP, PPP dan Hanura.
Kelima partai ini diamankan Asrun dalam suasana adem tanpa ada riak sekalipun.
Namun, lima partai itu belum cukup bagi Asrun. Setidaknya di baleho yang ramai terpampang di sudut Kota Kendari, menyertakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Gerindra.
Kedua partai ini pun tanpa gejolak yang signifikan. Hanya Gerindra yang sebelumnya dikabarkan tengah didekati oleh pasangan Rusda Mahmud-LM Sjafei Kahar.
Namun, dilihat peluang, Asrun memiliki kedekatan dengan Gerindra, terkhusus ketuanya di provinsi adalah besannya. Untuk PKB, melalui ketuanya di Sultra, dikabarkan telah memutuskan Asrun-Hugua. Tinggal menunggu SK yang diteken Muhaimin Iskandar.
Tentu, bila tujuh partai yang dikumpulkannya itu, bisa membuat pupus harapan kandidat lain untuk maju.

Situasi nyaman serupa dapat dilihat dari perjalanan berpaketnya Asrun dan Hugua yang pertama kali diumumkan PDIP dan PAN ke publik. Praktis tak ada gejolak politik yang muncul. Penetapan pasangan ini mengalir tanpa hambatan.
Menilik capaian Asrun dalam mengumpulkan partai ini, sejalan dengan pernyataannya di berbagai pertemuan.
Sejak awal, Asrun secara tegas menyatakan akan membangun koalisi “bosar” (baca : besar) dalam hal ini partai dengan jumlah kursi besar di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sultra.
Ketujuh partai itu adalah bidikannya sejak awal. Bila dikalkulasi, jumlah partai (memiliki B1-KWK) yang dikumpulkan Asrun, sudah ada 24 kursi. Yaitu, PAN 9 kursi, PDIP 5 kursi, PKS 5 kursi, PPP 2 kursi dan Hanura 3 kursi.
Bila ditambah lagi dengan Gerindra sebanyak 4 kursi dan PKB 1 kursi maka Asrun bisa mengantongi 29 kursi secara keseluruhan.
Dari tujuh partai itu, masih ada tersisa dua partai yang juga diincar oleh Asrun.
Adalah Demokrat sebanyak 6 kursi dan Golkar 7 kursi. Sedangkan NasDem dengan 3 kursinya, secara politik sudah menyatakan sikap untuk mendukung Ali Mazi-Lukman Abunawas karena Ali Mazi adalah kader NasDem.
Khusus Golkar, meski rekomendasi sudah dipegang oleh Ali Mazi, bisa saja mentah. Sebab, hingga saat ini, DPP Golkar belum mengeluarkan SK yang berlogo B1-KWK.
Belum lagi, wacana perombakan wakil Ali Mazi, yakni Lukman Abunawas dari internal Golkar sendiri.
Partai Golkar Sultra melalui plenonya, mencoret nama Lukman Abunawas sebagai wakil Ali Mazi. Sebagai gantinya, mereka mendorong dua kadernya. Dewiyanti Tamburaka, Muh Basri dan Imam Al Gazali.
Rencana pergantian pimpinan DPP Golkar juga bisa menjadi batu sandungan Ali Mazi-Lukman Abunawas. Pasalnya, wacana yang bergulir, ketua umum berubah, dukungan ke calon juga bisa ikut berubah.
Sebelumnya, dukungan Golkar ke Ali Mazi-Lukman Abunawas telah disahkan oleh DPP Golkar yang ditandatangani oleh Ketua Harian Nurdin Halid dan Sekjen Idrus Marham.
Partai terakhir yang kondisinya masih ngambang adalah Demokrat. Partai berlambang mercy ini sudah memberikan surat tugas kepada Rusda Mahmud-LM Sjafei Kahar untuk mencari koalisi.
Namun, dengan fakta yang ada, mayoritas partai sudah merapat ke Asrun-Hugua, maka nasib pasangan Rusda-Sjafei maju Pilgub Sultra di ujung tanduk. Begitu pula Demokrat terancam hanya jadi pelengkap.
Apakah sebagai pelengkap ke Asrun-Hugua atau menjadi oposisi koalisi “bosar” dan bergabung dengan Ali Mazi-Lukman Abunawas.
Atau pula bersiap menggantikan posisi Golkar di Ali Mazi yang dikhawatirkan mentah ke calon lain.
Kita tunggu langkah Demokrat, Golkar Ali Mazi dan Rusda.
Penulis : La Ode Pandi Sartiman




