
Kendari, Inilahsultra.com – Sejumlah kabupaten mulai bergegas mempersiapkan atribut gelaran Pakande-Kandea Pesta Rakyat di MTQ Kendari sejak siang. Pesta makan gratis ini rencana dimulai usai magrib, Sabtu 22 September 2018.
Pantauan Inilahsultra.com, ruang tribun MTQ sudah dihias cantik. Nuansa adat tradisional begitu kental.
Arena VIP ini disulap bak bangsal pesta adat. Lengkap dengan tabere.
Di sisi utama tempat perjamuan Gubernur, Ali Mazi dan Wakil Gubernur, Lukman Abunawas tertata apik perangkat makan. Terlihat berbeda dari yang lain, perangkat makanan ini keseluruhan terbuat dari material kuningan.
Zaman dulu, piranti makanan kuningan dikhususkan hanya bagi para sultra atau raja. Namun dalam Pesta Rakyat Pakande-Kandea, Gubernur layaknya Sultan. Mereka dijamu istimewa.
Sang pemilik, Jaeruddin mengatakan perangkat makanan ini diboyong dari kota asalnya daratan Buton. Meski hanya terdiri dari beberapa set, piranti makanan ini bernilai fantastis.
Satu paket perangkat makan sultan dihargai Rp 50 juta lebih.
Piranti makan dikhususkan untuk menjamu tamu spesial terdiri dari satu set peralatan makan. Berisi gelas, piring, sendok dan talang. Seluruhnya murni terbuat dari material kuningan. Sepintas terlihat seperti emas.
Dilengkapi bosara. Disinilah talang berisi aneka kuliner tradisional disajikan. Makanan tradisional yang wajib dihidangkan dalam tradisi Pakande Kandea antara lain lapa-lapa, cucur, wajik, baru ada, onde onde pisang goreng, ikanidole, hingga nasu wolio.

Dalam tradisi Buton, semua makanan tradisional ini wajib disajikan dalam jumlah bilangan genap.
“Kalau acara kedukaan makanan ditata di bosara semua dalam satuan ganjil. Tapi karena ini adalah acara suka cita jadi disajikan dalam jumlah genap. Ini adalah aturan adat yang mesti dipatuhi,” urainya.
Adapula pakapera sejenis tempat khusus menampung sampah sisa makanan di perjamuan Pakande-Kandea.
Tak kalah penting dan wajib dalam piranti makanan sultan ini adalah set perlengkapan makan sirih dan lampu Kanturuna Wolio.
“Semuanya mesti lengkap. Pakemnya seperti ini. Penyajian makanan semua ditempatkan di bahan kuningan. Zaman dulu ini hanya untuk raja atau sultan dalam acara Pakande Kandea,” jelas Jaeruddin.

Ketika ritual Pakande Kandea dimulai, para petinggi negeri yakni Gubernur dan Wakil Gubernur duduk bersila di atas Ponda menghadap langsung bosara makanan.
Ponda sejenis tikar anyam dari pandan yang selau dipakai dalam ritual adat dari suku-suku di Sulawesi Tenggara.
Penulis : Siti Marlina
Editor : La Ode Pandi Sartiman




