Tenun Muna Pewarna Alami Bernilai Jutaan Rupiah Dipamerkan di Ajang TTG XX

Ketgam : Ketua Dekranas Muna, Yanti Rusman Emba memamerkan kain tenun berbahan pewarna alami di ajang TTG XX di Bali.

Kendari, Inilahsultra.com – Kabupaten Muna turut berpartisipasi dalam Ajang Pameran Temu Karya Teknologi Tepat Guna (TTG) XX berlangsung di GWK Bali Jumat 19 Oktober 2019. Kabupaten dipimpin LM Rusman Emba menampilkan aneka corak tenun khas Muna pada gelaran tahunan dibuka Presiden RI, Joko Widodo.

Tak seperti tenun pada umunya, kain khas daerah Muna dipamerkan merupakan jenis tenun yang diolah dengan pewarna alami.

Ketua Dekranas Muna, Yanti Setyawati menuturkan proses yang cukup rumit dan lama membuat harga kain tenun berbahan pewarna alami dibanderol jutaan.

-Advertisement-

“Proses dari awal sampai jadi selembar kain bisa sampai 2 minggu. Harga antara Rp 1 juta – Rp 2 juta perkain. Kalau yang biasa antara Rp 200 ribu- Rp 700 ribu” jelas Yanti Setyawati di lokasi Stand Provinsi Sultra.

Meski dihargai cukup tinggi, lanjut Yanti, tenun Muna tersebut diburu dan menjadi primadona. Dalam berbagai pameran, kain tenun berbahan baku pewarna alami selalu dipajang sebagai ciri khas brand Kabupaten Muna.

“Pameran ini membuka jaringan pemasaran produk kita. Semoga dengan adanya program inovasi desa, bisa mengangkat produk lokal sehingga bisa dikenal sampai kancah internasional,” ujar Yanti.

Mendukung kemajuan industri tenun lokal sekaligus menjaga kelestariannya, Pemda Muna dibawah koordinasi Dekranas Muna telah membentuk Kampung Tenun.

Kampung Tenun tersebut dipusatkan di Desa Masalili. Peresmiannya sejak era Ketua Dekranas Sultra Tina Nur Alam Tahun 2016.

Kata Yanti, Kampung Tenun membina sekitar 20 kelompok penenun. Layaknya galeri wisata, pengunjung bisa menyaksikan proses awal pemintalan, penyusunan benang hingga menghasilkan kain bernilai seni tinggi dengan alat tenun bukan mesin.

Termasuk bagaimana menghasilkan aneka warna warni corak kain dari bahan baku alami bersifat ramah lingkungan.

“Alhamdulillah ekonomi masyarakat desa disana meningkat seiring meningkatnya juga orderan kain tenun. Kita bahkan kewalahan layani permintaan. Di sana sekarang bukan hanya kalangan tua, remaja muda mudi mulai berminat menenun. Ini sangat positif. Untuk tenun bahan pewarna alam kita upayakan ada inovasi corak tapi tanpa menghilangkan pakem asli ,” urai Yanti panjang lebar.

Selain kain tenun, pengunjung TTG dari seluruh provinsi di Indonesia bisa menyaksikan beragam olahan produk makanan/cemilan khas Sultra yang sudah dikemas modern. Diantaranya jambu mete, beragam abon hingga minuman tradisional cepat saji seperti sarabba.

Penulis : Siti Marlina
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments