
Kendari, Inilahsultra.com – Antisipasi genangan hingga banjir di Kota Kendari bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah. Masyarakat pun sebagai bagian dari “pemilik” kota ini harus turut berbenah.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kendari meramalkan hujan akan mengguyur Kota Kendari pada pertengahan November hingga Desember.
Sudah menjadi hal yang biasa, bila musim hujan tiba, Kota Kendari selalu ditemukan genangan dan banjir dimana-mana.
Hal ini pun telah disadari oleh Pemerintah Kota Kendari. Sebelum ancaman itu datang, Pemkot telah mulai berbenah.
Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir mengatakan, saat ini pemkot Kendari terus berupaya melakukan penanganan banjir dengan memperbaiki beberapa drainase dibeberapa titik yang menjadi langganan banjir.
“Kita saat ini melakukan pembongkaran drainase untuk diperlebar, kalau drainase diperlebar secara otomatis air yang akan masuk dalam drainase akan lancar, dan mudah-mudahan ini bisa selesai secepatnya,” kata Sulkarnain Kadir, di Kantor Wali Kota Kendari, Kamis 8 November 2018.
Selain drainase, kata Sulkarnain, saat ini pihaknya telah berusaha melakukan normalisasi bantaran di beberapa sungai yang ada di Kota Kendari.
Sebab, penyumbang terbesar banjir yang terjadi berasal dari aliran sungai yang tidak mampu menampung debit air yang masuk.
“Normalisasi sungai akan terus kita lakukan agar tidak masuk lagi di pemukiman warga, dan sesuai program kita 2019 nanti akan terus melakukan pembangunan untuk mengatasi banjir,” katanya.
Di tempat terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota Kendari Mahmud Buburanda mengatakan, untuk banjir di Kota Kendari merupakan masalah sejak lama terjadi dan ini juga merupakan masalah bersama seluruh masyarakat Kota Kendari.
Sebenarnya, kata dia, drainase-drainase di Kota Kendari sudah bagus. Tapi kesadaran masyarakat masih kurang, membuang sampah sembarangan.
Banyak warga masih membuang sampah di saluran drainase sehingga menghambat aliran air. Kemudian, banyak masyarakat mendirikan bangunan tak jauh dari bantaran sungai.
“Kita berharap pemerintah bersama masyarakat untuk bersama-sama melakukan penanggulangan banjir, dan permintaan maaf kami karena masih ada beberapa titik ketika hujan terjadi cepat banjir, tapi kami tidak akan menutup mata persoalan itu dan kami akan tangani,” kata Mahmud Buburanda di Kantornya, Kamis 8 November 2018.
Ia menyebut, ada dua fokus Dinas PU Kota Kendari dalam penanganan banjir. Yakni, melakukan perbaikan drainase dan penanganan bantaran sungai.
“Beberapa drainase sudah dilakukan pembangunan. Namun saat ini belum tuntas semua karena spot air masih tergenang atau masih ada air-air yang tertampung di drainase-drainase yang sudah dibongkar,” bebernya.
Beberapa titik yang telah dilakukan pembongkaran drainase agar bisa diperluas adalah di Anduonohu sepanjang HBM, Kampung Jawa, Perumahan Dosen, Jalan Sapati, Jalan Saosao, Jalan Syech Yusuf. Kemudian, beberapa titik di Mandonga.
“Untuk pembangunan drainase kita perkirakan menelan anggaran kurang lebih Rp 10 miliar,” katanya.
Selain itu, bersama Dinas Kebersihan, Dinas PU Kota Kendari memanfaatkan sumur retensi di Kendari Beach.
“Karena di area itu hujan sedikit pasti banjir. Maka kami menggali sumur, supaya kalau hujan bisa menampung sementara air tersebut,” tambahnya.
Selanjutnya, penanganan bantaran sungai. Pemkot Kendari telah berkordinasi dengan Pemprov Sultra dan Kementrian PU terkait hal ini.
Sebab, kata dia, terhambatnya aliran air di sungai atau kali jadi penyumbang terbesar banjir di Kota Kendari.
Untuk melakukan normalisasi bantaran sungai, Dinas PU Kota Kendari mendapatkan anggaran Rp 5,5 miliar. Ini dialokasikan di empat kali bantaran sungai yang sering terjadi banjir.
Kali Mandonga mendapat kucuran dana sebesar kurang lebih Rp 1,5 miliar, sungai Hangomete Puuwatu kurang lebih Rp 500 juta, kali Anawai kurang lebih Rp 2,5 miliar dan kali Watubangga kurang lebih Rp 1 miliar.
“Saat ini pembangunan normalisasi kali atau sungai sedang berjalan dan kita usahakan akan selesai secepatnya,” katanya.
Ia menyebut, kapasitas kali saat ini sudah tidak bisa menampung volume air yang ada. Akibatnya, air meluber ke pemukiman warga.
Untuk itu, solusinya adalah dilakukan perluasan atau melebarkan saluran sungai dengan cara membersihkan sendimen-sendimen, dan meninggikan talud sungai.
“Ini tergantung lokasi, kalau lokasi bisa dimasuki alat berat maka kami melakukan normalisasi, tapi kalau tidak bisa dimasuki alat seperti kali Mandonga hanya dilakukan peninggian talud kali,” katanya.
“Kami targetkan akan menuntaskan semua pembangunan darinase maupun bantaran sungai tahun 2019 nanti,” tambahnya.
Apabila ada wilayah dalam Kota Kendari belum bisa dijangkau yang sering terjadi banjir, diharapkan masyarakat dapat menginformasikan ke kantor Dinas PU Kota Kendari.
“Apabila bisa kami bantu tanpa menggunakan biaya besar, maka kami siap dengan alat untuk mengali dan membuatkan saluran air,” tutupnya.
Banjir adalah momok yang menakutkan bagi kota yang tengah berkembang ini. Tentu, yang berbenah bukan hanya pemerintahnya. Masyarakatnya pun harus berubah dan menghilangkan kebiasaan buruknya dalam membuang sampah sembarangan. Sebab, yang menyesal kemudian hari adalah kita, masyarakat Kota Kendari.
Penulis : Haerun
Editor : La Ode Pandi Sartiman




