Tradisi Kansoda Even Budaya Maritim Paling Menghibur di Wakatobi Wave 2018

Remaja cilik didandani mengunakan pakaian adat usai menjalani ritual sunat. Mereka mengikuti Tradisi Kansodaa yang dipertontonkan di ajang Wakatobi Wafe 2018.

Kendari, Inilahsultra.com – Tradisi Kansodaa sukses memukau penonton di Event Wakatobi Wave di Kota Wangi-Wangi digelar Minggu 11 November 2018. Dibuka langsung oleh Gubernur Sultra, Ali Mazi, Tradisi Kansodaa kali ini melibatkan lebih dari 100 orang peserta.

Ali Mazi bersama Bupati Wakatobi Arhawi beberapa kali terlihat bersorak ketika barisan pemuda dan ibu- ibu melaju mengiringi Kansodaa.

Suasana menjadi makin heboh ketika para pemikul Kansodaa kompak mengangkat tinggi tandu yang beratnya mencapai ratusan kilogram.

-Advertisement-

Meski terik, mereka tetap tampil maksimal mempertontonkan tradisi turun temurun leluhur masyarakat Wakatobi.

Tradisi Sunatan Suku Maritim Wakatobi

Para pemuda memikul Kansodaa berisi remaja putri yang baru saja disunat.

Kansodaa sendiri merupakan tradisi turun temurun wajib bagi perempuan maupun laki-laki yang akan beranjak dewasa suku-suku maritim di Kepulauan Wakatobi.

Dibeberapa daerah lain di Sultra mengenal istilah Kansodaa dengan nama Karia.

Anak-anak yang telah memasuki masa transisi menuju akil baliq wajib mengikuti tradisi tersebut. Setelah melalui ritual sunatan dan adat, para remaja itu akan dirias secantik mungkin memakai pakaian adat khas Wakatobi.

Khusus laki-laki yang mengikut ritual ini dinamai Lengko. Usai didandani, mereka didudukkan ke sebuah tandu kursi berhias pernak-pernik adat. Tandu dirakit menggunakan dua buah bambu besar sebagai penyangga

Mereka lantas diarak keliling kampung oleh beberapa pria dewasa. dalam satu tandu “Kansodaa” bisa berisi dua atau empat orang muda-mudi peserta Karia.

Khusus pada event Wakatobi Wave, para muda mudi yang telah disunat dikirab mengelilingi arena panggung pusat acara di Lapangan Merdeka Wangi-Wangi.

Ibu-ibu yang mengiringi rombongan kansoda di acara Wakatobi Wafe

Ada pula ibu-ibu berdandan mengenakan pakaian adat turut dalam iring-iringan. Sepanjang jalan para pria dan ibu-ibu yang mengawal Kansodaa terus menari diiringi tetabuhan musik tradisional.

Tradisi ini menggambarkan suka cita dan kebanggaan orang tua termasuk keluarga yang memiliki putra putri beranjak dewasa.

Peserta Terbanyak

Kepala Dinas Pariwisata Wakatobi, Nadar mengatakan, ini adalah Even Wakatobi Wave 2018 perdana dihadiri Gubernur Sultra, Ali Mazi.

Gubernur Sultra, Ali Mazi terpukau tradisi Kansodaa yang dipertontonkan di Event Wakatobi Wave 2017

Sepanjang empat tahun penyelenggaraan event nasional tersebut, jumlah peserta tahun ini merupakan yang terbanyak. Hampir seluruh desa di Kepulauan Wakatobi berpatisipasi dalam tradisi Kansodaa.

“Kita tidak sangka juga sampai sebanyak ini. Ada lebih 100 perserta. Hampir semua desa ikut,” ujarnya.

Peserta Tradisi Kasodaha terunik di ajang Wakatobi Wave 2018.

Menurut, semua gerakan dalam tradisi Kansodaa mengandung makna dan simbol istimewa sebagai bagian identitas budaya maritim Wakatobi.

Goyangan tandu saat iring-iringan Kansodaa bermakna ayunan ombak di tengah laut. Ini dimaknai para muda mudi yang telah memasuki usia dewasa harus bisa melewati pasang surut dinamisnya kehidupan.

Kadis Pariwisata Wakatobi

Sementara tandu Kansodaa merupakan representasi simbol kapal. Oleh masyarakat maritim Wakatobi, kapal menjadi simbol kehidupan. Sebagai daerah yang menggantungkan hidup dari laut, kapal menjadi alat utama menyambung hidup.

“Semua punya simbol yang mendalam. Mengapa ditandu diarak keliling ini menggambarkan suka cita dan kebanggaan. Suku disini sangat menggagungkan wanita, bentuk kebanggan memiliki anak perempuan sehingga mereka didandani dan ditandu keliling kampung ketika memasuki usia dewasa,” ujar Nadar.

Penulis : Siti Marlina
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments