FAO : Masyarakat Indonesia Harus Perbaiki Pola Makan untuk Atasi Masalah Gizi

HPS 2019 di Konawe Selatan dibuka secara resmi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Kendari, Inilahsultra.com – Dalam beberapa dekade terakhir, akibat globalisasi, urbanisasi dan mayoritas pertumbuhan pendapatan kebanyakan masyarakat dunia mengubah pola makan dan kebiasaan makannya. Masyarakat di dunia beralih dari pola makan musiman dari hasil tanam yang kaya akan serat menjadi pola makan yang kaya akan tepung olahan seperti gula, lemak, dan garam.

Meski lebih dari 800 juta orang yang menderita kelaparan, dan lebih dari 790 juta orang sekarang mengalami obesitas karena kombinasi diet yang tidak sehat dan kurangnya olahraga di semua kategori negara. Situasi ini mendorong FAO untuk merayakan Hari Pangan Sedunia tahun ini, dengan tema global “Tindakan kita adalah masa depan kita. Diet sehat untuk #Zero Hunger”.

Pola makan secara umum di Indonesia tidak sama dengan negara berpenghasilan menengah, karena Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi pada beras. Namun, konsumsi sayuran, buah, daging, dan lemaknya rendah.

-Advertisement-

Faktanya Indonesia memiliki porsi asupan energi tertinggi dari biji-bijian khususnya beras di dunia, porsi makanan bukan tepung di Indonesia adalah 30 persen, sedangkan rata-rata global adalah 50 persen.

Tingkat konsumsi buah dan sayuran kurang dari setengah asupan harian yang rekomendasikan secara nasional. Pola makan di indonesia umumnya rendah lemak dan minyak, sekitar 20 persen dari total kalori yang dikonsumsi dibandingkan dengan Eropa yang mencapai 30-50 persen.

Indonesia memiliki salah satu keanekaragaman hayati terkaya di dunia, dan beragam tanaman pangan dan jenis hewan ada di Indonesia, namun pola makan di Indonesia bergantung pada sejumlah jenis tanaman dan hewan yang jumlahnya menurun.

“Di Indonesia harga makanan pokok cukup tinggi, dan kami melihat kenyataan bahwa harga-harga makanan merupakan salah satu termahal di Asia Tenggara. Faktanya, kelaparan dan obesitas hidup berdampingan di seluruh Indonesia, dan kadang-kadang bahkan berada di rumah tangga yang sama,” jelas

Stephen Rudgard Perwakilan FAO dalam pidatonya di pembukaan perayaan nasional Hari Pangan Sedunia di Desa Puudambu, Kecamatan Angata, Kabupaten Konsel Sultra, Sabtu 2 November 2019.

Prevalensi nasional jumlah stunting pada anak-anak di bawah usia 5 tahun sangat signifikan yakni lebih dari 30 persen dan prevalensi kondisi kurus untuk kelompok usia yang sama juga sangat signifikan pada 10 persen di sisi lain, 8 persen anak-anak di Indonesia mengalami obesitas.

“Satu-satunya jalan keluar, kata dia, Hari Pangan Sedunia tahun ini dengan tema “Teknologi Pertanian dan Industri Makanan menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045” sangat penting,” jelasnya.

Di Indonesia, kata dia, lahan pertanian produktif diperkirakan telah berkurang 600.000 hektare dalam lima tahun terakhir, karena adanya pergeseran pemanfaatan termasuk untuk urbanisasi. Selain itu, ada persaingan dalam penggunaan lahan untuk produksi tanaman pangan dan komoditas lainnya.

Pergeseran demografis yang signifikan sedang terjadi di Indonesia, dan tenaga kerja pertanian telah turun hampir 9 persen dalam lima tahun terakhir, terutama karena adanya migrasi desa ke kota. Orang-orang muda berpindah sehingga generasi petani semakin tua dan sektor ini menghadapi kesenjangan generasi.

FAO, IFAD dan WFP berusaha membantu pemerintah dalam mengidentifikasi bagaimana kebijakan, dan institusi dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung melalui telaah sistem pangan dimulai dari produksi hingga pemprosesan dan ritel.

“FAO bekerja sama dengan Pemerintah dalam mengidentifikasi cara-cara untuk meningkatkan efisiensi rantai makanan dari pertanian hingga proses akhir untuk dimakan, dalam mengurangi biaya transportasi dan pemprosesan, dan untuk mengurangi limbah makanan. Semua tindakan ini akan membantu orang untuk menjalankan diet yang lebih baik,” tambah Rudgard.

FAO telah berkolaborasi dengan Pemerintah dalam pendekatan untuk mendorong petani menerapkan pengetahuan dan sumber daya lokal mereka untuk mengadopsi teknologi dan praktik inovatif untuk meningkatkan efisiensi produksi pangan, seperti menjaga tanaman dengan lebih efisien untuk mengurangi kerugian, dan memilih mekanisasi yang tepat untuk mengurangi tenaga kerja.

“Tindakan yang dibutuhkan harus melalui rantai makanan untuk mengurangi biaya dan memastikan diet sehat dan berkelanjutan dapat diakses dan terjangkau bagi semua orang,” ujar Rudgard.

Penulis : Haerun

Facebook Comments