
Labungkari, Inilahsultra.com – Sebanyak 117 penerima manfaat Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Mawasangka Tengah (Masteng) Kabupaten Buton Tengah (Buteng) mengalami muntah-muntah, Selasa 16 Desember 2025.
Mereka diduga keracunan massal usai menyantap MBG. Makanan MBG yang dikonsumsi para penerima manfaat tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Lakorua, Kecamatan Masteng.
MBG tersebut berupa nasi, telur, tahu, acar, dan jeruk santang.
Akibanya, 117 orang yang terdiri dari balita, anak-anak hingga orang dewasa ini dilarikan ke Puskesmas Masteng dan Puskesmas Watorumbe Bata, Selasa 16 Desember 2025.
Adapun warga Buteng yang dilarikan ke Puskesmas diduga keracunan MBG mulai dari Balita 47 orang, anak-anak 24 orang, remaja 18 orang, dewasa 27 orang, dan satu Lansia.
Dokter Puskesmas Masteng, dr Sitti Ismina Sartika Dewi mengatakan, gejala awal itu para pasien masuk karena mengalami mual dan muntah hingga diare. Sebagian besar para pasien usai mengosumsi makanan yang sama.
“Makanan yang mereka konsumsi dari MBG, namun kita juga masih menunggu hasil dari laboratorium, apakah benar kesalahanya ini dari kosumsi makanan atau ada penyebab lain,” jelasnya.
Sementara itu, Kapolsek Masteng Ipda Raboding mengungkapkan, dugaan sementara penyebab keracunan mengarah pada olahan telur, meskipun hal tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
“Menurut penjelasan Kepala SPPG, gejala muntah-muntah ini tidak terjadi langsung setelah konsumsi MBG, tetapi ada jeda waktu sekitar dua hingga tiga jam. Dugaan sementara memang mengarah ke telur, namun ini masih perlu pembuktian,” ungkapnya.
Polisi saat ini telah mengamankan sampel makanan MBG untuk selanjutnya dilakukan uji laboratorium guna memastikan penyebab keracunan massal tersebut.
“Saat ini kita masih menunggu hasil pemeriksaan apakah kejadian ini murni disebabkan oleh makanan atau ada faktor lain,” tuturnya.
Berdasarkan keterangan pihak SPPG, sebagian penerima MBG tidak langsung mengonsumsi makanan saat dibagikan, melainkan menyimpannya terlebih dahulu selama sekitar satu jam sebelum dimakan.
Hal ini dinilai sejalan dengan laporan anggota di lapangan bahwa terdapat jeda waktu hingga dua jam sebelum warga mengalami muntah-muntah. (R1)




