
Asrun-Hugua
Kendari, Inilahsultra.com – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Sultra memastikan Asrun dan Hugua berpasangan di Pilgub Sultra 2018 mendatang.
Bila keduanya berpasangan, maka sudah dua partai besar yang dipastikan mengusung mereka. Adalah PAN dengan sembilan kursi di DPRD Sultra dan PDIP sebanyak 5 kursi. Totalnya, 14 kursi.
Meski tanpa PDIP, PAN sudah bisa mengusung sendiri. Namun, bila ditambah dengan PDIP, maka kekuatan keduanya sangat besar.
Setidaknya, dua partai ini merupakan partai dengan kepala daerah yang paling banyak memimpin di Sultra. Bahkan, di setiap daerah memiliki basis masing-masing. Di Pilkada lalu, kedua partai ini saling berlawanan.
Kekuatan PAN di Sultra
Di Sultra, selama Nur Alam memimpin PAN, hampir semua kepala daerah didominasi oleh bendera partai berlambang matahari terbit.
Hingga saat ini, PAN menempatkan kader murninya di tujuh daerah. Adalah Konawe dengan Kerry Syaiful Konggoasa, Bombana ada Tafdil, Kota Kendari Adriatma Dwi Putra, Muna Barat LM Rajiun Tumada, Buton La Bakry, Kota Baubau AS Thamrin dan Wakatobi Arhawi.
Belum lagi wakil. Khusus 02, PAN menempatkan kadernya di Konawe Utara, Raup.
Kekuatan PDIP
Di Sultra, kekuatan PDIP tidak perlu diragukan juga. Di Pilkada 2015 dan 2017 kemarin, PDIP tiba-tiba tancap gas dan ingin menyaingi dominasi PAN.
Setidaknya, ada tiga kepala daerah yang berhasil menempatkan kader murninya.
Adalah Buton Utara, Abu Hasan. Muna, LM Rusman Emba dan di Buton Selatan ada LM Agus Faisal Hidayat.
Bila digabungkan, PAN dan PDIP memiliki 10 kepala daerah dengan kader murninya. Ditambah lagi daerah-daerah yang sebelumnya diusung PDIP bersama partai koalisi lainnya turut memenangkan pertarungan.
Misalnya, di Kolaka Timur. PDIP bersama NasDem dan Demokrat mengusung pasangan Tony Herbiansyah dan Andi Merya Nur. Namun, Koltim tidak bisa diklaim karena secara jelas Tony yang juga Ketua DPW NasDem Sultra telah menyatakan dukungannya kepada pasangan Ali Mazi-Lukman Abunawas. Namun, kekuatan PDIP di daerah ini patut diperhitungkan juga.
Daerah selanjutnya yang turut dimenangkan PDIP adalah di Buton Tengah.
PDIP bersama PKB, PPP, PKS serta NasDem berhasil memenangkan pasangan Samahuddin-Lantau.
PAN dan PDIP Saling Berlawanan di Pilkada
PDIP dan PAN memiliki jejak saling berlawanan di pilkada. Baik 2015 dan 2017 kemarin.
Di Pilkada 2015, PDIP bentrok di arena politik di lima daerah.
Pertama, di Muna. PDIP mengusung pasangan LM Rusman Emba-Malik Ditu. Sedangkan PAN mengusung LM Baharuddin-La Pili. Kekuatan kedua paslon ini berimbang. Sama-sama memiliki basis massa ril. Hingga akhirnya keputusan menang dan kalah ditukan oleh palu Mahkamah Konstitusi. Kemenangan LM Rusman Emba – Malik Ditu tidak sampai 100-an. Dengan digabungnya kekuatan PDIP dan PAN di Pilgub nanti, bukan tidak mungkin Asrun-Hugua akan meraup suara cukup besar.
Di Buton Utara pun demikian. Pasangan Abu Hasan-Ramadio yang juga diusung PDIP memenangkan pertarungan atas Ridwan Zakaria-La Djiru. Suara kedua pasangan ini tidak terlalu jauh selisihnya.
Selanjutnya di Wakatobi. PDIP mengusung Haliana-Muh Syawal. Sedangkan PAN mendorong Arhawi-Ilmiati Daud. Selisih suara keduanya pun juga tidak jauh beda. Pilkada ini dimenangkan oleh Arhawi-Ilmiati.
Jika kekuatan itu disatukan, bukan tidak mungkin Wakatobi menjadi lumbung Asrun-Hugua.
Selanjutnya di Konawe Utara. PAN dan PDIP saling berlawanan.
PAN mengusung pasangan Ruksamin-Raup sedangkan PDIP mendukung Aswad-Abuhaera. Namun, kemenangan dipihak Ruksamin-Raup.
Di Koltim pun demikian. PDIP mengusung Tony Herbiyansyah-Andy Merya Nur. Sedangkan PAN mendorong Syamsu Alam dan Farida Harianti.
Di Pilkada 2017 pun demikian. PAN dan PDIP saling berhadapan.
Di Kota Kendari, PAN mengusung Adriatma Dwi Putra-Sulkarnain. Sedangkan PDIP mendorong Muh Zayat Kaimoeddin-Suri Syahriah Mahmud.
Keduanya memiliki basis yang cukup besar.
Selanjutnya di Pilkada Buton Selatan. PDIP mengusung Agus Faisal Hidayat-La Ode Arusani sedangkan PAN mendorong Sattar-Welson.
Di Buton Tengah juga demikian. PDIP mengusung Samahuddin-Lantau sedangkan PAN menjagokan pasangan Mansur Amila-Saleh Ganiru. Perolehan suara mereka tidak terpaut jauh.
Di Buton, PAN dan PDIP juga berseberangan dukungan. PDIP mendukung Hamin-Farid. Sedangkan PAN memenangkan Umar Samiun – La Bakry.
Di Kolaka Utara, meski PDIP dan PAN bukan pemenang. Namun, perolehan suara mereka cukup signifikan.
PDIP mengusung Boby Alimuddin – Maksum Ramli dan PAN mendorong Anton – Haidirman Sarira.
Terakhir, kedua partai ini saling berlawanan di Bombana. PAN mengusung Tafdil-Johan sedangkan PDIP mendorong Kasra Jaru Munara-Man Arfah.
Keduanya head to head dan suara mereka tidak jauh berbeda selisihnya.
Kekuatan Asrun-Hugua dimungkinkan bertambah bila menggunakan pendekatan keluarga.
Di Konawe Selatan misalnya. Bupati saat ini Surunuddin Dangga merupakan keluarga dekat dari Asrun. Begitu juga di Kolaka, Ahmad Sjafei merupakan besan dari Asrun.
Penulis : La Ode Pandi Sartiman




