
Kendari, Inilahsultra.com – Jelang pemilihan 17 April 2019, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sultra terus mengingatkan kepada jajarannya untuk meningkatkan pengawasan di lapangan.
Saking waspadanya, Bawaslu mulai di tingkat provinsi hingga di tingkat lapangan dilarang untuk sakit.
“Satu minggu sebelum pemungutan suara, kami sampaikan ke seluruh jajaran dilarang sakit sampai selesai tahapan pemilu selesai,” kata Ketua Bawaslu Sultra Hamiruddin Udu saat membuka sosialisasi pemetaan TPS rawan pada Pemilu 2019 di Sulawesi Tenggara, Sabtu 13 April 2019.
Ia mengaku, karena dilarang sakit, Bawaslu harus membawa obat saat melakukan pengawasan.
“Semalam pak Munsir bawa kantong obatnya demi tugas negara,” jelasnya.
Menurut Hamiruddin, pengawasan Pemilu 2019 cukup berat di tengah sedikitnya sumber daya penyelenggara.
Terhadap seluruh potensi pelanggaran Pemilu 2019, Bawaslu telah melakukan riset indeks kerawanan pemilu hingga pemetaan TPS rawan.
“Di kesempatan ini, kami menyampaikan pemetaan itu. Hal ini dimaksudkan agar ada fokus pengawasan yang harus maksimal dengan strategi tertentu,” jelasnya.
Menurut Hamiruddin, setiap tps memiliki tingkat kerawanan tersendiri. Untuk itu, pastinya, perlakuan pengawasan akan berbeda.
“Untuk itu undang para pihak dengan harapan setelah mengetahui peta kerawanan ini, kita semua bisa bergerak bersama baik dalam rangka antisipasi mencegah pelanggaran kecurangan yang sudah kita petakan,” ujarnya.
Ia juga mengajak agar masyarakat ikut terlibat dalam pengawasan pada Pemilu 2019 ini. Sebab, peserta pemilu yang akan dipilih nanti akan menentukan nasib masyarakat lima tahun ke depan.
“Semua yang kita pilih adalah orang diberikan kewenangan oleh negara menggunakn uang rakyat dan mengatur kita semua lima tahun yang akan datang,” pungkasnya.




