
Kendari, Inilahsultra.com – Di tengah pandemi virus corona, DPP KNPI mendorong Presiden Joko Widodo untuk kembali membuka keran ekspor.
Ketua Bidang ESDM DPP KNPI Syahrul Beddu menyatakan, pandemi Covid-19 telah membuat situasi ekonomi Indonesia memburuk.
Salah satu yang paling terlihat adalah nilai tukar dolar terhadap rupiah sudah menembus angka Rp 16 ribu per USD.
Atas situasi ini, Syahrul berpandangan bahwa Indonesia harus segera mengambil langkah darurat dalam penyelamatan ekonomi dari ancaman resesi dan tetap menjaga keseimbangan devisa.
Salah satu kebijakan ekonomi pemerintah yang bisa ditempuh, sebut Syahrul adalah melakukan relaksasi di sektor pertambangan mineral dan batubara (minerba), khususnya komoditi nikel.
“Dalam situasi sekarang, pemerintah harus mulai memikirkan menggenjot sektor pertambangan dengan membuka keran ekspor ore nikel. Seba, ini bisa menghasilkan devisa untuk negara di tengah kondisi ekonomi yang melemah,” kata Syahrul Beddu, Selasa 7 April 2020.
Ia melanjutkan, peningakatan pengiriman ore perlu ditingkatkan agar ada pemasukan negara di tengah covid-19 terlebih Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tengah mengalami devisit kurang lebih Rp450 triliun.
Syahrul menyebut, kebijakan relaksasi di sektor pertambangan bukan dalam konteks ingin mengambil keuntungan, namun lebih pada menyelamatkan devisa dan ekonomi negara.
“Untuk kebijakan ini, negera tidak perlu mengeluarkan anggaran. Pemerintah pusat cukup mengeluarkan kebijakan relaksasi ekspor dengan limit waktu yang terbatas,” katanya.
Ia mengkalkulasi, kebijakan relaksasi tersebut bisa diterapkan selama enam bulan bahkan setahun, dengan perkiraan wabah virus ini selesai.
“Jika keran ekspor ini dibuka, saya yakin pemerintah China pasti membeli nikel. Sebab, kebutuhan nikel di beberapa industri saat ini tetap tinggi,” pungkasnya.
Penulis : Jusbar




