
KENDARI/inilahsultra.com- Perbuatan tidak terpuji yang dilakukan Ketua Komisi III DPRD Sultra Tahrir Tasruddin tidak bisa jadi contoh. Hanya karena dipindahkan dari kursi pimpinan, dia tega menampar salah seorang staf dewan bernama Alfian Syahputra.
Kini sang wakil rakyat yang terhormat, telah dilaporkan ke Badan Kehormatan (BK) oleh Alfian.
Dari penjelasan Alfian Syahputra, peristiwa penamparan saat sidang paripurna HUT Kabupaten Konawe, Jumat 3 Maret 2017 lalu.
Dalam rapat paripurna, sedianya dihadiri Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh dan Ketua Komisi III Tahrir Tasruddin. Hanya saja, Rahman Saleh tidak hadir dan merekomendasikan kepada Syamsul Ibrahim untuk mewakilinya.
Melalui surat resmi dari dewan, Alfian yang juga sebagai protokoler ketua, langsung mendampingi Syamsul Ibrahim.
“Namun, pada saat itu pak Syamsul masih di perjalanan. Sementara pak Tahrir sudah tiba dan langsung duduk di kursi yang ditempati pak Syamsul Ibrahim yang mewakili ketua DPRD,” jelasnya.
Saat Syamsul tiba, Alfian berisiatif untuk menyampaikan ke Tahrir bahwa kursi yang diduduki itu bukan tempatnya. Tahrir sedianya punya tempat duduk di baris kedua.
“Saya sampaikan secara sopan, tapi tiba tiba dia pukul pipi saya. Katanya, bodoh kamu, bodoh, bodoh,” katanya sambil menirukan perilaku Tahrir.
Karena merasa bersalah, Alfian mencoba minta maaf kepada Tahrir. Bukannya dimaafkan, malah Tahrir menampar dia sebanyak dua kali.
“Dia tampar saya sebanyak dua kali. Di situ ada banyak orang di depan umum. Ada juga staf lain yang saksikan,” bebernya.
Keberatan dengan perbuatan Tahrir, Alfian langsung melapor ke atasannya, Kabag Persidangan, Protokoler dan Humas Robert Piter Raru.
“Saya serahkan sepenuhnya kepada atasan saya seperti apa ditangani kasus ini. Yang jelas, saya keberatan,” ungkapnya.
Sementara itu, Robert saat dikonfirmasi terkait stafnya yang ditampar, mengaku keberatan. Dia mengaku, akan memproses kasus ini di Badan Kehormatan.
“Kita akan laporkan ke BK. Karena ini sudah tidak manusiawi lagi,” katanya.
Robert mengaku, mengetahui kasus ini dari Tahrir sendiri. Dari pengakuan Tahrir, menyebut Pian tidak profesional dalam melaksanakan tugasnya.
“Katanya Tahrir, Pian menarik pada saat diminta pindah ke belakang. Namun, tidak lama pak Amal telpon saya kalau Pian telah ditampeleng oleh Tahrir. Di situ, saya langsung telpon balik pak Tahrir. Saya langsung tanya kenapa kita tampeleng staf saya,” jelasnya.
Dia menuturkan, akan memproses kasus ini hingga di BK.
“Kalau pun Pian salah, harusnya tidak ditampeleng. Cukup diingatkan saja. Sebagai atasan, kami sangat keberatan,” pungkasnya.
Sementara itu, Tahrir Tasruddin mengaku terpaksa menampar Pian karena kesal dipindahkan di belakang sementara paripurna sudah mulai berlangsung.
“Kalau saya tidak tampeleng, berarti saya bencong,” tegasnya.
Tahrir juga mengaku tidak takut kalau pada akhirnya dilaporkan ke BK atau pun di polisi.
“Silahkan saja melapor, saya tidak masalah,” tuturnya. (Ifan)




