
Ketua Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Risiko Bencana Sultra, Dr Eng Jamhir Safani, saat memimpin aksi bersih-bersih pantai di daerah rawan banjir di wilayah Anduonohu, Kendari, Selasa 23 Mei 2017. (Pandi/Inilahsultra)
Kendari, Inilahsultra.com – Sejumlah dosen bersama ratusan mahasiswa yang terbangun dalam Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Risiko Bencana Sultra, Selasa 23 Mei 2017, bahu membahu membersihkan sampah yang tertumpuk di aliran sungai rawan banjir di sekitaran Aundonohu Kendari, Selasa 23 Mei 2017.
Ketua Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Risiko Bencana Sultra Dr Eng Jamhir Safani mengaku, ada tiga kampus besar yang turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini, yakni, Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Akademi Kesehatan Lingkungan, dan Stikes Mandala Waluya Kendari.
Menurut Jamhir, mahasiswa perlu turun langsung melihat penyebab terjadinya banjir di sekitaran Anduonohu. Kata dia, wilayah HBM Aundonohu ini adalah paling rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya.
“Karena dua aliran air waktu hujan ada yang dari bagian Pasar Aundonohu dan dari timur bertemu di sini. Dan di wilayah sini paling rendah sehingga sangat rentan terjadi genangan,” ungkap Jamhir, usai memimpin aksi bersih-bersih di wilayah Aundonohu, Selasa 23 Mei 2017.
Jamhir mengaku, turun ke lapangan adalah bagian pengetahuan baru bagi mahasiswa untuk mencocokan ilmu yang diperoleh di kampus.
“Mahasiswa ini terbiasa mencari solusi di kampus. Kadang solusi di kampus tidak sesuai fakta di lapangan. Turun ke lapangan bagian upaya sinkronisasi model solusi di kampus dan fakta di lapangan,” jelasnya.
Selain itu, turun ke lapangan untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan. Masalah banjir adalah tantangan ke depan di Kota Kendari. Untuk itu, ke depan akan dibentuk satuan tugas bencana dari mahasiswa.
“Bila terjadi bencana, satgas dari mahasiswa ini tinggal diinstruksikan untuk turun membantu. Begitu ada komando, langsung bergerak,” jelasnya.
Jamhir menyebut, di sekitaran HBM hanya ada aliran dan tidak ada kanal untuk mengalirkan air ke laut.
“Di HBM ini tidak ada kali hanya dataran rendah. Di belakang juga sudah menjadi kebun. Makanya, jalan rusak karena air menggenang dan membuat jalan labil setelah dilewati kendaraan dengan beban berat,” ujarnya.
Reporter: La Ode Pandi Sartiman
Editor : Jumaddin Arif




