Bakat Saddil Mulai Kelihatan di Tengah Ujian Kemiskinan dan Kelaparan

Kendari, Inilahsultra.com – Kemiskinan dan serba kekurangan, seperti cambuk api buat Saddil Ramdani. Pemantik bakat yang terpendam dalam dirinya.

Episode sebelumnya, menceritakan banyak hal tentang kekerasan yang dialami Wa Ode Dai, ibu Saddil yang akhirnya memilih menjanda.

Namun, bukan berarti episode ini tak kalah menguras air mata. Wa Ode Dai harus merawat anak tanpa pekerjaan. Keluarga semua membuang muka, abai terhadap keluarga kecilnya.

-Advertisement-

Wa Ode Dai melanjutkan bahtera hidupnya tanpa pantang mundur, mendidik anaknya dengan tangan dingin. Mewujudkan semua ambisi keempat anaknya, terutama Saddil yang sejak berusia kelas 3 SD sudah menanamkan di benaknya, kelak jadi atlet berprestasi.

Uang yang didapat melalui mencabut rumput Rp 25 ribu, tak mampu menunjang sekolah tiga anaknya.

Jangankan untuk sekolah, makan sehari untuk mereka berlima tak cukup. Satu hari bisa makan, tiga hari kelaparan.

Uang Rp 25 ribu yang didapat Dai dalam sehari, diatur dengan irit. Harga beras satu liter dengan kualitas rendah saat itu Rp 5 ribu. Satu hari menghabiskan dua liter. Belum lagi ditambah ikan kering seharga Rp 10 ribu. Belum lagi kebutuhan dapur lainnya.

Bila dihitung, dalam satu hari Rp 25 ribu tak cukup. Bila jumlah pembelian lebih dari itu, maka harus puasa.

“Kita tidak beli apa-apa karena kalau mengutang tidak bisa. Tidak ada yang mau utangkan. Mau minta sama keluarga juga malu karena jangan sampai dibicarakan,” urainya, Sabtu 19 Agustus 2017.

Di tengah serba kekurangan, Saddil juga sudah menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Porsi makan Saddil turut membuat ibunya berpikir bukan kepalang.

Satu liter beras, kadang tak disisakan oleh Saddil. Padahal, masih ada adik-adiknya yang butuh makan.

“Saat itu, Saddil sudah banyak makan (kelas 3 SD). Saya masak pagi satu litet dan malam satu liter. Jadi, kalau sore dia itu sudah mandi mau ke masjid. Habis mandi dia habiskan makanan. Kadang adiknya disisakan sedikit. Mereka bilang, yah minum air putih saja. Kalau sudah mengantuk pasti tidur,” ucapnya.

“Kalau sudah habis beras, mau diapa, kita makan apa adanya saja,” imbuhnya.

Dai mencari jalan. Dia tidak berpatok pada pekerjaan mencabut rumput. Malamnya dia mencari pekerjaan lain, mencari teripang di laut.

Pekerjaan ini, taruhannya nyawa. Terpeleset sedikit, Wa Ode Dai tamat. Untungnya, tuhan masih memberikan waktu untuk hidup baginya.

“Setiap malam, saat anak-anak sudah tidur, saya ke laut cari teripang. Biasa saya pulang subuh. Kadang Saddil sudah bangun dan anggap saya cepat bangun. Padahal, saya barusan dari laut,” kenangnya.

Pendapatan tambahan itu, membuat kantongnya sedikit lega. Bisa menjadi uang tambahan kebutuhan sekolah anaknya.

Di usianya masuk kelas 3 SD, Saddil sudah begitu agresif di bidang olahraga. Hampir semua cabang olahraga diikuti.

Saddil pertama kali tertarik dengan olahraga bulu tangkis.

Namun, Saddil tak punya raket. Saddil harus meminjam peralatan temannya.

Hanya dengan meminjam, prestasi Saddil di bidang ini mulai kelihatan. Dia sudah ikut kejuaraan tingkat kecamatan di usianya.

Bahkan, ibunya tak menduga, anaknya itu sudah membuatnya bangga dengan prestasi yang dicapai.

“Dia ikut kejuaran tingkat kecamatan SD kelas 3. Saat itu, dia dapat juara dan diberiman hadiah dari KUD Tunas Sari. Dia jalan kaki, dia pulang ke rumah sambil berteriak bawa amplop. Mama, mama, ini ada saya dikasi,” kisahnya.

Pada saat dibukannya amplop itu, dada Wa Ode Dai sesak. Air matanya tumpah.

“Saya menangis dan sesak napas, kasian anaku bisa bawakan uang Rp 1,2 juta. Dia juga dikasikan raket,” katanya.

Mulai di situ, Sadil mulai giat ikut pekan olahraga dan seni (porseni) tingkat SD.

“Selain suka olahraga, Saddil juga ini pintar di kelasnya. Mulai dari kelas 1 sampai kelas 6, dapat juara terus,” pujinya.

Naik kelas 4 SD, Saddil tidak semangat lagi latihan bulu tangkis. Dia mulai kepincut dengan sepakbola. Saddil mendesak dibelikan bola di penjual keliling (koke-koke).

“Saya bilang sama dia, kau ini mau jadi apa. Kalau jadi pemain bola itu mahal. Kita makan saja susah, apalagi mau beli bola itu,” kata Dai kepada Saddil.

Karena ditolak ibunya, Saddil usaha sendiri. Dia mencoba kumpulkan botol untuk ditukar dengan bola.

Ternyata, botol yang dikumpulkannya tidak laku. Saddil kecil menangis.

“Dia datang ke saya katanya tidak laku botol jenever. Yang laku itu botol bir. Saya kasitahu, kalau tidak bisa, jangan dipaksakan,” paparnya.

Tak dapat bola, Saddil berontak. Setiap benda yang menyerupai bola ditendangnya. Dia menjelaskan kepada ibunya bahwa ingin menjadi pemain bola dan masuk di timnas.

“Dia kumpulkan kain, baru dia ikat seperti bola. Dia tetap minta beli bola, dia mainkan bola dari kain baju dengan cara digulung dan diikat dengan tali rafia. Saya pukul, dia tetap mau main bola,” ujarnya.

Dai mengaku, sempat mengikat Saddil agar berhenti berontak. Dia diikat seperti lapa-lapa (makanan khas Muna) dan mulutnya dilomboki.

“Tapi saya kasian juga. Saya sedih kasian anaku saya begitukan. Makanya, saya belikan bola saja hasil dari menjual teripang,” katanya.

Saddil Sempat Dikira Gila

Besar harapan Wa Ode Dai anaknya bisa mewujudkan cita-citanya menjadi pesepakbola terkenal.

Namun, kata Dai, adanya bola tersebut, membuat Saddil berperilaku seperti orang gila.

“Ternyata, itu bola hanya dicium-cium saja. Dia tidur sambil peluk bolanya,” kenangnya lagi.

“Tiga malam begitu, saya langsung bilang, kasian kamu ini. Saya kira kamu bisa gantikan bapakmu ternyata jadi orang gila,” tambahnya.

Saddil lantas menjawab pernyataan ibunya dengan semangat berapi-api.

“Saya ingin jadi pemain timnas dan bisa masuk televisi,” ucap Dai menirukan kata-kata Saddil.

“Kalau kau mau masuk televisi, buka layar tv baru komasuk di dalam sana. Kalau mau main bola, harus pakai sepatu dan baju bola anak,” balas Dai.

Hari berlalu, Saddil tetap ngotot ingin main bola. Dia sempat main di lapangan. Hanya saja, dia diusir karena tak pakai sepatu.

“Saya juga takut jangan sampai patah,” jelasnya.

Saddil tak patah arang, setiap pulang sekolah, Saddil tidak makan. Langsung pergi dengan membawa kampak ibunya.

“Sudah 10 hari dia begitu. Dia pulang denga bajunya yang kotor,” urainya.

Ternyata, Saddil baru saja dari hutan bakau. Dia mencari kayu untuk dijualnya. Satu ikat kayu bakau kala itu dihargai Rp 2 ribu. Saddil mampu menjual 10 ikat bakau ke bibinya.

“Padahal dia pergi bela kayu dan dia jual. Dia jual Rp 20 ribu untuk beli sepatu katanya. Dia sampaikan ke saya bahwa dia punya uang. Tapi saya tidak percaya. Saya pikir dia mencuri dimana. Setelah bibinya jelaskan, ternyata dia pergi jual kayu. Saya menangis, kasian anakku ini,” bebernya.

Dengan modal Rp 20 ribu itu, Saddil sempat meminta mamanya untuk sama-sama ke Pasar Sentral Laino Kota Raha sekadar melihat-lihat sepatu.

“Ternyata, dia tiba di pasar bukan hanya cek sepatu, dia juga mau beli VCD Jet Lee. Dia suka nonton orang baku pukul,” katanya.

Niatan Saddil ingin belajar taekwondo, tambah membuat geger otak ibunya.

Saddil semakin menjadi. Tapi bukan berarti menyusahkan ibunya. Karena menganggap uangnya tidak cukup membeli sepatu bola, dia mencoba membantu neneknya untuk memungut jambu.

Setelah jambu itu laku dijual, Saddil membeli sepatu bola harganya Rp 100 ribu.

“Dia sampai pergi main bola di Labunti, di Tampo sampai di beberapa kecamatan. Doa saya, semoga dia tidak patah,” katanya.

Dengan kemampuannya itu, Saddil yang sudah masuk sekolah menengah pertama (SMP) mulai dilirik.

Dia mulai menunjukkan diri sebagai Saddil yang sebenarnya. Kuat, ulet, sabar dan tekun. (Bersambung) 

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments