
Ilustrasi
Kendari, Inilahsultra.com – Seorang ibu berinisial SR (38) melaporkan oknum polisi IPTU SN ke Polda Sultra karena anaknya disekap.
Peristiwa ini terjadi pekan lalu. SR mengaku, lapornnya sudah masuk di sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) Polda Sultra. Namun sudah sepekan laporannya tidak diproses oleh Polda Sultra.
“Sudah satu minggu laporan saya tidak diproses oleh polisi,” ungkap SR kepada awak media, Jumat 11 Mei 2018.
SR mengaku, SN adalah iparnya, menikah dengan adiknya. Namun belakangan, internal keluarga SN sedang bermasalah.
“Mereka ribut tapi dia mau bawa nama keluarga kami. Dia selalu tuduh istrinya selingkuh, tapi tidak bisa buktikan. Bahkan dia kasi malu istrinya di depan umum,” tuturnya.
SR menjelaskan penyekapan dan intimidasi putranya itu oleh oknum polisi tersebut di tengah proses belajar mengajar di Madrasah Ibyidaiyah Ummusabri Kendari.
Peristiwa penyekapan itu terjadi pada Senin 30 April 2018 sekira pukul 15.30 WITA.
Oknum perwira polisi itu dengan berseragam lengkap datang ke Madrasah Ibyidaiyah Ummusabri Kendari.
Di depan kelas I.B-Cibi Oknum Perwira Polisi IPTU SN itu berpapasan dengan dirinya. Kebetulan, pada saat itu ia ke sekolah datang melunasi kewajiban anaknya (membayar katering, biaya operasional dan buku Ramadan).
“Pada saat bersamaan terdengar suara keras bernada tinggi dari SN dan berkata “Ini biang keroknya” sambil menunjuk ke arah saya,”
SR hanya bisa diam dan berlalu meninggalkan kelas menuju parkiran di belakang Masjid Sekolah. Di situ, suaminya tengah menunggunya.
Ternyata, sebut SR, oknum polisi itu sudah mengadang mobil mereka.
Polisi itu berkata dengan nada tinggi dan kasar sambil menunjuk-nunjuk ke dirinya.
“Mana Yuni (istri SN)?” kata SR menirukan pertanyaan SN.
Suaminya langsung menjawab dengan heran.
“Saya tidak bersama istri bapak, saya bersama istri saya,” ujarnya.
Mendengar itu oknum perwira polisi tersebut langsung mengatakan lagi dengan nada kasar.
“Kasitau istrimu, jangan turut campur urusan rumah tangga saya,” kata SN.
SR mengaku tidak pernah mengurus rumah tangga SN sekalipun bertengkar dengan istrinya.
Usai pertengkaran itu, SR bersama suaminya langsung pulang.
Namun, dalam perjalanan pulang, SR mendapatkan kabar bahwa anaknya, berinsial R ditahan oleh SN di sekolahnya.
“Oknum polisi itu kembali ke ruang kelas mengambil dan menahan tas anak saya kemudian menggertak serta mengancam akan menahannya. Tas tersebut dimasukkan di dalam mobil sedan hitam berplat DT 548 AR,” jelasnya.
Beruntung kata SR, putranya diamankan oleh guru dengan cara dipeluk.
Tidak berapa lama, SR bersama suaminya tiba dan meminta agar tas anaknya dikembalikan.
“Tapi oknum polisi itu tidak peduli sampai terjadi keributan,” jelasnya.
Berdasarkan informasi diperoleh di lingkungan sekolah, Iptu SN ini kerap membuat onar di Madrasah Ibtidaiah Ummusabri Kendari. Kadang dia berteriak-teriak di halaman sekolah dengan memperlihatkan foto istrinya.
Bahkan, videonya tersebar di berbagai group whastapp.
Selain melapor di Polda Sultra, kasus ini juga telah dilaporkan di Direktorat Pengamanan Profesi (Propam) Polda Sultra.
“Tapi tidak diterima dengan alasan sudah banyak kasus yang masuk terkait polisi itu,” tuturnya.
Tak puas dengan pelayanan polisi, kini mereka melapor di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).
“Nanti mereka yang akan dampingi ini. Kita harap kasus ini segera diselesaikan,” tuturnya.




