Gadis Muna Barat Jadi Pengacara Kondang di Amerika Serikat

Sitti Nurlin, gadis Muna Barat yang jadi pengacara di Amerika Serikat. (Istimewa)

Laworo, Inilahsultra.com – Akhir-akhir ini, jagad maya dihebohkan dengan adanya status beberapa pegiat media sosial terkait gadis asal Kabupaten Muna Barat yang menjadi pengacara di Amerika Serikat.

Beberapa kalangan netizen, banyak yang tidak percaya. Mereka sanksi bahwa gadis kampung tak mungkin bisa berkarir secara profesional di negeri Paman Sam.

Namun, informasi itu benar adanya. Perempuan itu bernama Sitti Nurlin yang beralamat di Desa Konawe Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Barat.

Jurnalis Inilahsultra.com mencoba mencari tahu asal usul perempuan berambut lurus itu.

Perempuan itu merupakan anak dari Almarhum La Pela dan Wa Ode Samu Sayala.

Di kediaman Sitti Nurlin, jurnalis bertemu dengan ibu dan kakak kandungnya bernama Herman.

Herman bilang, adik kandungnya itu sementara meniti karir profesional di Amerika Serikat.

“Iya, benar itu adik saya,” kata Herman membuka percakapan dengan jurnalis Inilahsultra.com, Muh Nur Alim, Senin 11 Juni 2018.

Bagi keluarga, Sitti Nurlin biasa dipanggil Adel. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan bakat yang luar biasa. Ia merupakan anak kelima dari enam bersaudara.

“Hobinya dari kecil memang suka membaca,” timpal ibundanya, Wa Ode Samu.

Ia menjelaskan, setelah tamat di SMA Negeri Kusambi pada 2009, Adel mengambil bebas tes Universitas Hasanuddin (UHNAS) Makassar Jurusan Ilmu Hukum–Tata Negara. Ia mampu menyelesaikan studi selama tiga tahun tiga bulan.

Hanya itu yang bisa dijelaskan Herman, selebihnya, ia menyerahkan nomor telepon Adel agar bisa berkomunikasi langsung dengannya.

Melalui pesan WhatsApp, perempuan kelahiran 21 Juni 1990 ini membenarkan seluruh keterangan yang disampaikan ibu dan kakaknya.

Ia mengaku sudah menyelesaikan studi S2 dan sekarang bertitel SH LLM.

Selama kuliah di UNHAS, dia menorehkan berbagai prestasi. Ia menjadi juara satu dalam debat hukum se-Indonesia mewakili kampusnya.

Bahkan, ia mampu menyelesaikan studi S1 selama 3 tahun tiga bulan dan didaulat sebagai wisudawan terbaik 2012 dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,98.

Selepas studi S1, ia diutus langsung pemerintah Indonesia- Menteri Pendidikan dan Menteri Keuangan untuk melanjutkan S2 di salah satu universitas yang ada di Amerika Serikat melalui beasiswa Lembaga Pengelolah Dana Pendidikan Indonesia (LPDP).

“Untuk S2, saya ambil Jurusan Internasional Commercial Arbittration And Litigation Yayasan Presi Pennysilfania State Univesity of Law,” katanya.

Ia menyebut, kampus tempat kuliahnnya itu adalah universias terbaik urutan ke 50 dunia. Jebolan universitas ini salah satunya Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Tempat studinya ini pun mengantarnya menjadi pengacara di sana. Sembari kuliah, ia mengambil peruntungan sebagai lawyer.

Saat ini, selain fokus persiapan Bar Exam New York, ia juga ditunjuk sebagai Director Global Program Penn State Law.

Ia juga telah menjembatani program kerjasama beasiswa antara Unhas dan Penn State Law.

“Untuk ke depannya saya mau menjembtani kerjasama Universitas Halu Oleo dengan Penn State University,” katanya.

Waktu saya jadi mahasiswa di kampus ini ia adalah Assistant Professor dan sampai saat ini disaat dirinya sebagai Director Global Program, ia juga sebagai Research Fellow yang bekerja untuk professor dalam hal analisis kasus, baik kasus di Amerika maupun kasus yang ada di luar Amerika.

Ia juga saat ini tercatat sebagai Associate Lecturer pada Online Course Yang fokus pada International Commercial Arbitration. Pada online course yang didirikan oleh Robert A. Creo, Esquire Arbitrator, Mediator & Educator 1151 Freeport Rd, Suite 347, Pittsburgh.

“Jadi yang jelasnya saya juga ngajar online course,” bebernya.

Atas prestasi yang telah selama ini, ia akhirnya masuk 10 besar wisudawan terbaik di kampus tersebut.

Rindu Katumbu, Masakan Ibu Tercinta

Sebagai orang asli Muna, sudah barang tentu tahu kambose (Bahasa Ibu = Jagung tua yang direbus), katumbu (jagung kukus).

Adel mengaku sangat rindu masakan ibunya yang pastinya tak ada di Amerika Serikat.

“Saya rindu dan saya ingin makan katumbu dengan kaondonya, lompa, lure, dengan sayur beningnya dan parendenya ayam kampung,” katanya.

“Saya ingat terus masakan mamaku,” imbuhnya.

Ia mengaku, prestasi yang diperolehnya ini tak terlepas dari doa dan dorongan keluarga, lebih khusus ibu dan bapaknya. Segala yang diperoleh hari ini sebagai bentuk persembahan kepada almarhum bapaknya.

“Saya berharap bisa membanggakan orang tua meskipun hanya dibesarkan seoarang ibu. Sejak kecil tidak pernah melihat sosok ayah seperti apa. Untuk itu, doa terbaik buat ayah semoga baik-baik di sana dan khusnul khotimah,” katanya berdoa.

Wa Ode Samu mengaku, tak ada tips khusus hingga ia menjadikan anaknya lebih sukses di negeri orang. Ia hanya mendorongnya dengan doa dan dukungan semangat.

“Semoga ia menjadi manusia yang berguna untuk masyarakat khususnya generasi muda yang ada di Muna Barat (Mubar),” harapnya.

Hingga saat ini, komunikasi Adel dan ibunya cukup lancar. Dalam setiap sujudnya, anak perempuannya yang belum menikah itu terus berkarya untuk kepentingan bangsa.

“Semoga semua apa yang dia inginkan bisa tercapai dan semoga di sana sehat-sehat dan bisa jaga diri. Ia tetap beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT,” ujarnya.

Penulis : Muh Nur Alim
Editor : La Ode Pandi Sartiman

1 Comment

Leave a Response