Mewujudkan Kendari Kota Layak Huni Melalui Seni

Pose bersama pegiat seni dan Plt Wali Kota Kendari. (Foto : Istimewa)

Kendari, Inilahsultra.com – Sekitar 10-an orang pegiat seni dari berbagai latar belakang, bertemu dengan Plt Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir di rumah jabatannya, Minggu 23 September 2018.

Pertemuan itu berlangsung hangat nan serius. Pelbagai isu tentang kota turut dibahas, tidak terkecuali soal seni dan budaya.

Bagi pegiat seni, pertemuan ini amat penting. Sebab, ada kegundahan dari kalangan seniman, penyair, penulis esai, sastrawan, fotografer dan media terkait kondisi seni dan budaya di Kota Kendari.

-Advertisement-

Dalam kebatinan yang sama, Sulkarnain pun menganggap, kehadiran para pegiat seni menjadi amunisi baru baginya dalam memoles Kota Kendari menjadi kota yang benar-benar layak huni.

Soal identitas seni dan budaya Kota Kendari, Sulkarnain sudah membayangkannya.

Sedari awal lepas perkenalan, Plt Wali Kota Kendari sudah menunjukkan perhatiannya terhadap komunitas ini. Sul, sapaan akrabnya, sudah menyiapkan durasi panjang untuk berbincang dengan para pegiat.

Kebiasaannya bercerita dengan santai tapi serius, ia membuka diri terhadap segala masukkan dari pegiat seni. Ia juga tak segan meminta kritikan terhadap kebijakan di Kota Kendari.

Irianto Ibrahim pun selaku pembuka diskusi tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan gayanya ia berucap, tagline Kota Layak Huni yang diusung Pemkot Kendari tidak berdiri sendiri. Persoalannya kompleks.

Kota layak huni, tidak hanya berbicara kebersihan lingkungan dan keterpenuhan infrastruktur. Lebih dari itu, Kota Kendari dengan warganya yang heterogen, membutuhkan payung sebagai perekat keragaman menuju kebahagiaan bersama.

Seni dan nilai budaya menjadi elemen perekat dimaksud. Mengenang budaya dan menghidupkan seni, dapat melahirkan kebahagiaan tersendiri serta rasa akan memiliki daerah ini.

Kebahagiaan ini lah merupakan wujud nyata dari kota yang benar-benar layak dihuni.

Sementara itu, Ahid Hidayat, selaku penulis, ikut menyampaikan berbagai hal yang terganjal dalam hatinya.

Misal, soal cerita rakyat. Ia berangkat dari pengalamannya berbicang dengan seorang guru. Satu pertanyaan yang dikemukakan kepada sang guru itu adalah mengenai cerita rakyat yang disampaikan kepada muridnya.

“Ternyata jawabannya adalah soal Malin Kundang,” kata Ahid mengisahkan.

Menurut Ahid, cerita Malin Kundang berasal dari tanah Sumatera. Jauh dari identitas Kota Kendari.

Ia menyebut, Kota Kendari secara heterogen memiliki banyak cerita rakyat yang patut digelorakan dalam dunia pendidikan. Tujuannya, peserta didik dapat mengetahui dan mencintai identitasnya sendiri.

“Kenapa tidak cerita rakyat asal daerah kita saja yang disampaikan di bangku sekolah,” katanya.

Sebagai daerah dengan kekayaan budaya dan seninya, tentu tidak boleh jadi masyarakat penonton terlebih suka menceritakan identitas daerah lain.

Hal seperti ini lah yang membutuhkan terobosan dari pemerintah. Tentu pula, tak lepas dari peran masyarakat dalam hal ini dari pegiat seni.

Sementara itu, penulis esai, Andi Syahrir menyebut, identitas Kota Kendari hampir tidak dijumpai di daerah ini.

Tugu yang harusnya menjadi tempat memamerkan identitas daerah, malah ditempatkan patung militer berupa pesawat dan tank.

Terkait hal ini, Andi juga pernah menulis di dinding Facebooknya. Banyak netizen yang sepakat. Tulisan itu juga turut dibaca Sulkarnain.

Sekitar hampir satu jam para pegiat berbincang, unek-unek yang muncul bermuara pada pembentukan Dewan Kesenian Kota Kendari.

Penulis Syaifuddin Gani menganggap, Dewan Kesenian Kota Kendari sudah perlu dibentuk agar kegiatan lebih terstruktur dan terorganisir..

“Hal ini juga sebagai bentuk langkah awal dalam mensukseskan program Pemerintah Kota Kendari menuju kota layak huni melalui seni dan budaya,” kata Syaifuddin Gani.

Sulkarnain sendiri mengapresiasi segala usulan yang disampaikan para pegiat seni.

“Saya merespon baik bila ini dibentuk dslam satu kelembagaan. Ini akan dibuat dalam kebijakan daerah,” katanya.

Ia pun sadar, identitas Kota Kendari belum terlalu terlihat. Untuk itu, ia berharap Dewan Kesenian ini nantinya bisa menjadi tonggak awal untuk menghidupkan kembali identitas daerah, terlebih turut mendukung program pemerintah.

“Ini ide konstruktif. Ini kesempatan kita untuk berbuat dan bentuk pertanggungjawaban kita di masyarakat,” tuturnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments