Lukman : Pekerja Tambang di Sultra Didominasi TKA

Lukman Abunawas

Kendari, Inilahsultra.com – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Lukman Abunawas mengungkapkan, setiap hari
tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok berdatangan di Bumi Anoa untuk bekerja di perusahaan tambang.

“Cina-cina itu datang bekerja setiap hari. Ini diakibatkan karena belum ada batasan-batasan atau regulasi pekerja luar negeri,” ungkap Lukman Abunawas saat menghadiri acara Bank Indonesia Perwakilan Sultra di Hotel Claro Kendari, Kamis 17 Oktober 2019.

Lanjut dia, ada beberapa perusahan tambang banyak menpekerjakan TKA, salah satunya terdapat di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) Morosi, Kabupaten Konawe. Pasalnya, kata dia, pada saat dilakukan pengecekan di lapangan terdapat TKA asal Tiongkok bekerja sebagai buruh kasar, bahkan ada yang menjadi tukang pikul dan pekerjaan lainnya.

-Advertisement-

“Seharusnya ini bisa dikerjakan warga setempat, dan seharusnya kita utamakan atau prioritaskan tenaga kerja lokal sebagai putra daerah asli. Tapi kenyataan masih didominasi oleh pekerja asing,” ungkapnya.

Mantan Bupati Konawe ini mengatakan, hadiranya TKA ini memberikan kesan bahwa masyarakat lokal tidak diperhatikan untuk bekerja di tambang. Bahkan masyarakat Sultra menilai masih ada pengkotak-kotakan atau kubu-kubuan.

“Masyarakat lokal menilai saat ini kita belum berpihak kepada mereka yang memiliki potensi dan skil dalam memberdayakan untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Seharusnya, kata dia, pemerintah daerah dan pemerintah pusat dapat membuat regulasi atau aturan untuk membatasi masuknya TKA di Sultra. Kemudian pengawasan dan pengendalian terhadap TKA harus diperketat.

“Regulasi mesti diperbaiki dan diperjelas untuk membatasi TKA masuk di Sultra. Sehingga pengawasan ketat, karena fakta di lapanga visa-visa TKA tujuannya untuk wisata tapi mereka bekerja di tambang,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari Lembaga Adat Tolaki, Lukman menjelaskan, kehadiran TKA asal Tiongkok di Morosi bernilai negatif dan tidak nyaman untuk adat Tolaki.

“Kita punya adat itu merasa tidak nyaman karena mereka punya prilaku kurang menghargai terhadap tradisi kita, prilaku mereka tidak berprikemanusiaan dan kawin seenaknya. Jadi regulasi atau aturan harus diperbaiki lagi,” tutupnya.

Penulis : Haerun

Facebook Comments