Sengketa Tanah, Oknum TNI AL Todongkan Pistol ke Ustad di Kolaka

19847
 

Kendari, Inilahsultra.com – Diduga karena kasus sengketa tanah, seorang oknum TNI AL Letkol Marinir AF menodongkan pistol ke pimpinan Pondok Pesantren Ihya Ahsunnah Muhammad Sutamin, Kamis 9 Januari 2020.

Sutamin mengaku, ia didatangi oleh tiga anggota TNI dan satu warga sipil bernama Mardin More di Pondok Pesantrennya di Kelurahan 19 November Kecamatan Wundulako Kabupaten Kolaka bakda Zuhur.

Usai salat Zuhur, seorang guru bernama Muhammad Dzul datang menyampaikan bahwa seorang warga Mardin More bersama tiga orang TNI mengambil gambar lokasi pondok. Letkol AF ini diketahui adalah putra Mardin More.

Setelah dipersilakan masuk, Letkol AF malah marah dan menodongkan pistol ke kepala Sutamin.

“Mardin More mendekati anaknya seraya berkata ‘Awas kamu ya. Sudah lama saya tahan anak saya. Sekarang rasakan. Mau cari mati. Sekarang saatnya,” kata Sutamin menirukan ucapan Mardin More.

Aksi TNI itu sempat divideokan oleh santri namun beberapa kali dilarang dan hal itu membuat santri ketakutan.

Intimidasi terhadap Sutamin tidak sampai di situ. Saat akan digiring ke mobil, Sutamin sempat kembali ditodongkan senjata.

Setelah naik di mobil, Sutamin dibawa ke Kantor POM AL Kolaka. Ia pun dilarang menghubungi siapa pun termasuk pengacaranya.

“Hp saya dirampas. Saya meminta untuk dibawa ke polres namun mereka tidak mau,” jelasnya.

Di dalam mobil, sebut dia, ia beberapa kali mendengar nada ancaman dari tiga oknum TNI itu. Bahkan, ia akan ditenggelamkan di laut dengan cara dicor lalu dibuang ke laut.

Setibanya di Pos POM AL Kolaka, ia dituduh telah membayar hakim karena menang dalam sengketa tanah atas Mardin More. Selain itu, ia juga diancam agar segera menyerahkan sertifikat tanah yang telah dikuasainya.

“Pistol ini jauh jauh saya bawa dari Surabaya untuk ditembakkan ke kepala kamu. Kamu bisa membeli hukum. Hukum sekarang sudah bisa diperjualbelikan. Tapi TNI punya hukum sendiri dan inilah hukum TNI. Berapa miliar kamu bayar hakim. Saya mendapat info dari oknum hakim bahwa kamu membayar hakim. Kalau kamu mau saya akan panggilkan sekarang,” ungkap Sutamin menirukan kembali ucapan Letkol AF.

Sutamin mengaku, ia sempat diancam menggunakan sangkur dan tembakan peringatan ke udara oleh oknum TNI tersebut jika tidak menyerahkan sertifikat tanah.

Penyerahan sertifikat ini, kata Sutamin, disaksikan oleh beberapa orang, termasuk keluarganya. Meski demikian, ia berada dalam suasana tertekan dan ketakutan.

“Saya sudah melapor ke polisi terkait kasus ini,” imbuhnya.

Pada April 2012 lalu, kata Sutamin, dirinya membeli lahan seluas 7.000 hektare dari Mardin More sebanyak Rp 100 juta.

Uang tersebut ditransfer ke rekening Mardin More dan Mardin menyerahkan sertifikat tanah.

Namun belakangan, Mardin menggugat dirinya ke Pengadilan Negeri Kolaka. Di PN Kolaka, Sutamin menang begitu pula saat banding di Pengadilan Tinggi Sultra.

Sekarang, kata dia, proses hukum tanah tersebut sementara bergulir di Mahkamah Agung.

“Kita lagi tunggu putusan kasasinya. Tanah itu sudah menjadi milik pesantren setelah adanya jual beli pada 2012 lalu,” tutupnya.

Dikonfirmasi terpisah, Komandan Lanal Kendari I Putu Darjatna menyebut, informasi yang sudah tersebar itu tidak benar.

Menurutnya, tanah yang dikuasai pesantren itu merupakan miliki orang tua Letkol FA.

Hal itu dibuktikan dengan sertifikat yang juga atas nama orang tuanya yang kini dipegang oleh ustad Sutamin.

Darjatna juga membantah Letkol FA telah mengeluarkan senjata dan menembakan ke udara.

“Lokasinya bersebelahan dengan kantor POM AD. Jika bunyi tembakan pasti sudah ramai, jadi tidak ada kejadian tersebut,” jelasnya.

Keberadaan tiga anggota TNI di Kolaka itu, lanjut dia, hanya membantu memediasi di kantor agar tidak terjadi keributan di lokasi.

Penulis : Onno

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Komentar
loading...