Balita Gizi Buruk Asal Kapontori Buton Kekurangan Biaya

Kapolres Baubau AKBP Daniel Widya Mucharam saat menjenguk bayi penderita gizi buruk di RSUD Baubau, Senin 22 Januari 2018.

Baubau, Inilahsultra.com – Muhammad Hasiruddin Syawal balita 10 bulan asal Desa Barangka Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton kini dalam kondisi memprihatinkan. Balita buah pernikahan Anwar dan Samnah itu kini harus mendapat perawatan medis di RSUD Baubau.

Orang tua Syawal sudah berpisah terlebih dulu ketika Syawal masih berusia tiga bulan dalam kandungan. Parahnya lagi, ketika Syawal lahir ibunya pun memilih merantau dan meninggalkan buah hatinya itu dirawat kakek-neneknya.

Setelah ditinggal ibunya, kondisi Syawal kian hari kian memburuk. Syawal didiagnoza menderita gizi buruk oleh dokter.

-Advertisement-

Berbagai upaya telah dilakukan Saharuddin (kakek Syawal) demi kesembuhan cucunya itu. Tetapi keterbatasan biaya, sehingga kakek-nenek Syawal tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Ibu Syawal yang tengah merantau di Sorong Papua pun tak kunjung ada kabar. Padahal, kakek Syawal sudah memberitahukan kondisi cucunya tersebut. Sempat diminta untuk pulang atau setidaknya kirim uang untuk biaya perawatan Syawal, Samnah (ibu Syawal) menghilang tanpa kabar.

Sejak dirawat di RSUD Baubau 12 Januari 2018 lalu, Syawal terus mendapatkan uluran tangan dari berbagai pihak. Jika sebelumnya, Syawal mendapat bantuan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Baubau, kini balita asal Desa Barangka Kabupaten Buton itu mendapat bantuan dana dari Polres Baubau.

Bantuan tersebut diserahkan langsung Kapolres Baubau AKBP Daniel Widya Mucharam beserta komunitas pemusik Baubau. Tetapi sebelumnya, Polres Baubau dan komunitas pemusik Baubau terlebih dulu mengumpulkan dana lewat “Ngamen Kemanusiaan” yang berlangsung di gedung Kemitraan Polres Baubau, Senin 22 Januari 2018.

“Mungkin bantuannya tidak terlalu besar tetapi bisa mengurangi sedikit beban kakek-nenek Syawal. Kepedulian ini merupakan panggilan jiwa untuk kita semua. Dengan kita budayakan rasa peduli sesama, mudah-mudahan kedepannya Baubau lebih baik lagi karena masyarakatnya saling peduli,” kata Daniel.

Kakek-nenek Syawal mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu meringankan beban biaya yang masih menghantui pikiran mereka.

“Terima kasih banyak atas bantuannya. Tanpa bantuan itu mungkin kami sudah tidak tahu lagi kondisi cucu saya kedepannya seperti apa,” kata Saharuddin, kakek Syawal usai menerima bantuan di RSUD Baubau.

Saharuddin merasa kesal dengan sikap Samnah (ibu Syawal) yang tidak ada rasa kepedulian sama sekali. SMS dan telepon tidak pernah di gubris oleh Samnah hingga sekarang.

“Kita sempat komunikasi dengan ibunya ketika belum lama dia tiba di Sorong. Terakhir mengirim itu 22 Oktober 2017 lalu. Setelah itu sampai dunia sekarang ini tidak ada kabarnya,” tandasnya.

Reporter: Muhammad Yasir
Editor: Din

Facebook Comments