Semua Calon Sekda Sultra Membantah Punya Wanita Idaman Lain dan Terlibat Korupsi

Kantor Gubernur Sultra. (Foto : Zonatiket.com)

Kendari, Inilahsultra.com – Rilis yang disampaikan Direktur AMAN Center La Ode Rahmat Apiti terkait ada calon Sekretaris Daerah (Sekda) memiliki wanita idaman lain (WIL) dan terlibat korupsi, sontak membuat jagad media sosial ramai.

Soal WIL, telunjuk publik langsung mengarah ke Roni Yacob, Syafruddin dan Nurdin Pamone. Soal korupsi ikut mengarah ke ketiganya, plus calon sekda perempuan Nur Endang Abbas.

Terhadap isu yang dihembuskan AMAN Center ini kemudian dibantah ramai-ramai oleh keempat calon sekda.

-Advertisement-

Syafruddin yang kini menjabat sebagai Sekretaris KPU Sultra membantah tudingan Rahmat Apiti soal WIL dan korupsi.

Ia menilai, pada prinsipnya, seleksi seperti saat ini ada saja pihak berupaya untuk menjatuhkan calon tertentu karena dianggap tidak sejalan.

“Ini upaya pembusukan dan pembunuhan karakter serta cenderung fitnah,” kata Syafruddin dikonfirmasi Inilahsultra.com.

Ia meminta, AMAN Center tidak segampang itu melempar isu ke publik yang tidak bisa dibuktikan kebenaranya. Menurutnya, tiga calon sekda yang sementara saling berebut, memiliki keluarga yang sedang akur-akurnya.

“Ini menyangkut harkat martabat kita bertiga sekalipun tidak ditahu siapa dilaporkan tersebut,” jelasnya.

Syafruddin berujar, ia sempat ditanya anak dan istrinya soal isu ini. Ia menganggapnya, isu ini hanya disebar segelintir orang untuk kepentingan menjatuhkan.

“Kalau saya dimaksud, maka saya tidak rukun dengan keluarga saya. Saya tidak mungkin melakukan tindakan tidak bermoral ini. Saya menghargai istri saya. Dan indikatonya saya rukun dan tidak ada hal yang membuat istri saya murka,” jelasnya.

Mengenai isu korupsi, ia juga membantahnya. Menurutnya, korupsi bisa dibuktikan oleh lembaga hukum dan diputus pengadilan.

“Itu akan mengarah pada penegak hukum, alhamdulillah saya tidak ada seperti itu. Tidak pernah menggunakan kewenangan untuk lakukan korupsi. Saya pegang prinsip integritas saya. Saya jaga dengan baik,” tegasnya.

Senada dengan Syafruddin, calon sekda lainnya, Roni Yacob membantah isu miring itu.

Menurut dia, isu ini dihalalkan oleh agama, maka sejatinya bukan jadi alat menjatuhkan orang. Namun, ia merasa tidak punya WIL seperti isu yang berhembus saat ini.

“Saya tidak rasa itu (punya WIL), karena semua keluarga kami utuh,” kata Roni.

Menurutnya, isu WIL ini hanya mengada-ada saja dan tidak tepat untuk diperbincangkan.

Ia mengaku, semua calon sekda laki-laki saling kenal. Bahkan istri masing-masing cukup akrab. Jadi, ia memastikan WIL itu hampir tidak ada.

“Semua kita baku kenal. Pak Nurdin ipar, pak Syafruddin juga ipar. Kita baku tahu satu keluarga utuh. Tidak menarik isu itu,” tuturnya.

Ia mengaku, mereka bertiga bersama istri sempat bertemu dalam satu acara pesta. Isu WIL ini membuat istri mereka tertawa dan mengingatkan agar saling menjaga.

“Saya lihat para istri hanya tertawa saja, karena semalam ketemu di pesta,” ujarnya.

Menurutnya, isu yang paling tepat diangkat saat ini adalah soal seleksi yang menggunakan sistem merit.

“Ada tiga penilaian secara general, dilihat kapabilitasnya, kredibilitas dan aksesbilitasnya. Sebab, sekda ini melayani semua suku. Akan menjadi pejabat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut saya isu WIL itu tidak benar,” tuturnya.

Sama halnya dengan Nurdin Pamone. Sekda Muna ini mengaku tidak tahu siapa yang dimakud Rahmat soal WIL.

Menurutnya, isu ini harus disampaikan terbuka dan jelas siapa dimaksud.

“Dan statemen itu harus dipertanggungjawabkan. Siapa dimaksud. Jangan sampai fitnah,” tegasnya.

Menurutnya, isu seperti ini bisa merusak nama baik apabila tidak jelas.

“Kita berempat ini siapa yang punya WIL yang dimaksud,” ujarnya.

Ia menegaskan, dirinya tidak punya WIL termasuk kekasih gelap di luar sana. Ia hanya punya satu istri dan hanya berurusan kantor dan rumah.

“Perasaan tidak ada begitu. Padahal kita ini akur-akur saja. Harus dibuktikan itu. Minimal ada rujukan, ada yang melapor dan membuat pengakuan di depannya, apakah istri keberatan atau anak atau orang lain,” jelasnya.

Agar isu ini tidak menjadi fitnah, maka AMAN Center diminta untuk membuktikannya.

“Saya tidak tahu siapa dimaskud. Harus jelas ini maksud WIL ini. Jangan hanya dengar cerita lalu dilempar ke publik. Sekarang buktikan ada yang mengadu,” tegasnya.

Berkait isu korupsi, ia pun senada dengan Syafruddin. Gampang untuk membuktikan pejabat bermasalah dalam mengemban amanah.

Cukup dicek di penegak hukum semisal kejaksaan atau kepolisian.

“Kalau tentang korupsi, silakan menduga,” tuturnya.

Endang Enggan Tanggapi Isu Korupsi

Dari empat calon sekda yang masuk pada tahapan seleksi wawancara, hanya Nur Endang Abbas yang mewakili kaum perempuan.

Endang mengaku semua memiliki peluang yang sama termasuk gender. Pada prinsipnya, sistem seleksi ini tidak mengenal diskriminasi.

“Karena saya memenuhi syarat maka saya ikut mewarnai ini,” ujarnya.

Ia pun tidak terganggu isu rasial yang selama ini terkooptasi bahwa jabatan Sekda hanya untuk komunal tertentu.

“Itu bukan domain saya, saya hanya hadir untuk seleksi untuk mengkonfirmasi kemampuan saya,” ujarnya.

Menyangkut isu korupsi seperti yang diungkap AMAN Center, Endang tidak ingin menjawab panjang lebar.

“Saya ndak tahu, fokus saja ikuti tahapan,” katanya.

Ia mengaku tidak terganggu dengan isu korupsi yang dihembuskan.

“Saya ikuti sesuai prosedur saja dan mekanisme,” pungkasnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments