
Kepala BKD Sultra Nur Endang Abbas.
Kendari, Inilahsultra.com – Publik Sultra kembali dikagetkan adanya isu dugaan plagiat disertasi program doktor di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang dilakukan oleh beberapa pejabat di lingkup Pemerintah Provinsi Sultra.
Berdasarkan pemberitaan Tirto.id, selain nama Gubernur Sultra nonaktif, Nur Alam, dugaan plagiat juga menyeret beberapa kepala satuan kerja pemerintah daerah (SKPD).
Di antaranya, Hado Hasina (Kepala Dinas Perhubungan), Muhammad Nasir Andi Baso (kepala badan perencanaan pembangunan daerah), Nur Endang Abbas (kepala badan kepegawaian daerah), dan Sarifuddin Safaa (asisten I sekretariat provinsi).
Kelima nama itu, disematkan oleh Tirto.id sebagai blok Kendari.
Baik Nur Alam maupun keempat pegawai itu ialah mahasiswa program doktor Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia Pascasarjana UNJ Angkatan 2014. Dalam data mahasiswa, nama mereka tercatat dalam kelas kerja sama yang disebut Blok Kendari.
Namun, tiga pejabat dari empat nama yang disebutkan di atas, membantah telah melakukan plagiat seperti yang dituduhkan oleh tim EKA bentukan Kemenristekdikti itu.
Nasir Andi Baso
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sultra ini membantah telah melakukan plagiat. Berkait tuduhan yang dialamatkan kepadanya, itu diangganya tidak benar.
Namun, Nasir menolak menjelaskan secara detil terkait tuduhan seperti yang dituliskan Tirto.id.
“Ada tim di kampus yang tangani. Kami serahkan sepenuhnya ke kampus (UNJ). Kami hanya ikuti proses akademis biasa saja,” ungkapnya, Senin 28 Agustus 2017.
Menurut dia, dalam menyelesaikan studinya di UNJ, telah melalui proses panjang. Bahkan, dia mengaku dibantai oleh tujuh profesor penguji pada saat ujian disertasi.
“Saya mau terusik gimana, saya diuji, saya dibantai dan ujian tertutup dilakukan,” jelasnya.
Menurut dia, dugaan plagiat ini hanya subyektifitas tim yang dibentuk Kemenristek Dikti. Dia juga menilai, terseretnya nama mereka karena dikaitkan dengan Nur Alam yang sebelumnya diduga telah melakukan plagiat doktornya.
“Ini kan masalah beliau. Ini bagian dari permainan. Saya juga nda tahu (dimana plagiatnya). Kita sudah jalani sesuai koridor, kita sudah kuliah bolak balik. Ini dikait-kaitkan saja dan ini bola liar,” tuturnya.
Hado Hasina
Sama dengan Nasir Andi Baso, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sultra Hado Hasina membantah telah melakukan plagiat.
Dia lanjut studi di UNJ, bukan karena dia merupakan bawahan Nur Alam melainkan adalah niatannya sendiri untuk kuliah.
Dia membantah seluruh tudingan yang dialamatkan kepadanya. Dia juga menantang kepada tim EKA untuk menunjukkan disertasinya yang dihasilkan melalui plagiat.
“Saya yakin tidak (plagiat). Mereka tidak uji saya punya disertasi. Haram hukumnya kalau saya plagiat. Saya tidak pernah merasa begitu dan normal kerjakan dalam satu tahun,” tekannya.
Hado menyebut, masa studi doktornya di UNJ sekitar tiga tahun terhitung sejak 2014 sampai Agustus 2016.
Dia menuebut, telah menjalani kuliah seperti biasanya selama mendapatkan program doktornya itu.
“Saya tidak pernah perhitungkan itu dan tidak terganggu juga,” katanya saat ditanyakan dampak dugaan plagiat itu.
Nur Endang Abbas
Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Sultra ini menyebut, disertasi yang dibuatnya adalah murni hasil karyanya meskipun dibantu oleh beberapa stafnya di BKD Sultra.
“Saya turun meneliti, menulis. Nggak (plagiat). Saya lama kerjakan dengan staf saya. Kerjakan masing-masing selama tiga bulan, dan hampir berkantor tidak pas. Pulang lagi tidak tidur dan bikin lagi (disertasi). Saya pakai komputer kantor, karena saya tidak terlalu mahir komputer dan dibikinkan (stafnya),” bebernya.
Dia juga menjelaskan, disertasi miliknya berjudul “Evaluasi Program Keluarga Berencana (KB) Bahteramas Di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara”,. Namun, dia membantah telah mencatut blog Tri Nugroho Adi seperti diberitakan Tirto.id.
Dia juga membantah beberapa potongan tulisan dari sejumlah blog disalinnya. Dia juga menolak dikatakan telah menyalin tugas kelompok mahasiswa D3 Kebidanan dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo sebagaimana dalam halaman 102.
“Kami ujian dan semua kontennya berbeda. Kita sudah lakukan dengan tahapannya. Saya tidak pernah mengambil tulisan lain. Hanya KB Bahteramas dan itu hanya ada di Sultra,” paparnya.
Sebagai mantan kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Pemprov Sultra, lanjut Endang, memiliki data tentang evaluasi program KB Bahteramas. Sehingga, dia menganggapnya sinkron dengan disertasi doktornya.
“Tuduhan plagiat benar atau tidak, kita serahkan ke tim. Kami kuliah benaran, Jumat, Sabtu, Minggu kadang-kadang. Kami mahasiswa tidak mungkin ujian kalau proses itu tidak dilalui. Itu (ujian) berdasarkan surat keputusan semua,” tuturnya.
Harusnya, lanjut dia, tim EKA mengkonfirmasi ke UNJ terkait dugaan plagiat itu.
“Itu semua bisa dipertanggungjawabkan dan proses berjalan sesuai aturan. Itu versi EKA dan UNJ kan beda. Nanti tim yang jelaskan. Saya tidak lakukan plagiat, judulnya saja beda. Boleh tanya semua camatnya, lurahnya, dan saya turun langsung meneliti. Saya biaa pertanggungjawabkan bila kemudian haei bermasalah,” pungkasnya.
Penulis : La Ode Pandi Sartiman




