Parpol Gemuk Bukan Garansi Menangi Pilgub Sultra

Kendari, Inilahsultra.com – Ada banyak cara dilakukan figur calon gubernur untuk bisa memenangi pertarungan pertarungan Pemilihan Gubernur Sultra 2018 mendatang. Salah satunya membentuk koalisi partai gemuk seperti ditarget pasangan duet Asrun-Hugua.

Jelang pendaftaran pasangan Calon Gubernur Sultra Januari mendatang, pasangan berakronim SURGA ini masih terus bergerilya mengumpulkan pundi-pundi dukungan dari sejumlah parpol besar di Sultra.

Sejalan dengan itu, Sekprov Sultra, Lukman Abunawas terlihat santai melihat strategi dimainkan rivalnya yang berencana mengakuisisi semua parpol di Sultra.

-Advertisement-

“Silahkan saja, itu strategi. Bagi kami (AMAN,red) tidak masalah,” ujar Lukman

Wakil Ali Mazi di Pilgub Sultra ini menilai koalisi gemuk tak menjamin kemenangan suatu figur. Fakta ini banyak terjadi di sejumlah ajang Pilkada di Indonesia.

Makanya, dalam gerbongnya AMAN tak begitu getol menghimpun banyak partai. Asal seat yang disyaratkan KPU terpenuhi, pasangan ini memilih berkonsentransi mendekatkan diri dengan masyarakat sebagai wajib pilih agar bisa meraih dukungan tinggi di Pilgub Sultra.

Memang, kekuatan partai memiliki kontribusi mengantarkan balon diusung menuju singgasana kekuasaan. Namun, sambung Lukman, sosok figur tetap menjadi magnet bagi masyarakat pemilih di Pilgub Sultra.

“Kalau partai sekitar 10 sampai 20 persen. Rakyatlah penentu kemenangan 80-90 persen. Nah, ini kembali ke figur,” ujar Lukman.

Sejalan dengan itu, Akademisi Universitas Halu Oleo (UHO), Prof Eka Suaib menilai kompetisi Pilkada di Sultra saat ini cenderung ditentukan kekuatan figur itu sendiri. Kendati, basis parpol tetap membayangi.

“Dalam beberapa kasus banyak partai bukan referensi memenangi pertarungan. Saya liat (Pilgub Sultra,red) ini cenderung ke pertarungan figur. Bagaimana masing-masing calon ini memetakan kekuatan. Secara teoritis untuk memenangan kontestasi ini kekuatan figur dominan,” terang Dosen UHO ini.

Kata dia, koalisi gemuk bisa menjadi senjata ampuh memenangi Pilkada jika seluruh mesin parpol mampu mengorganisir kekuatan hingga level akar rumput. Dengan begitu figur yang diusung bisa mulus melenggang sebagai jawara Pilkada.

“Di Sultra, tidak semua parpol bisa begitu. Di kalangan elite partai (kadang,red) menentukan pilihan, tapi basis partai di bawah tidak kuat. Ini jadi kelemahan. Kembali lagi ke kekuatan figur,” ujar Eka Suaib.

Hal sama diungkap Ketua BEM UHO, Sarlan. Mahasiswa Fakultas Kesmas UHO ini menyebut dalam konteks Pilkada figur calon masih berada diperingkat teratas mendongkrak perolehan suara. Potensi kekemangan bukan semata karena dominasi partai pengusung.

“Masyarakat melihat latar belakang figur. Sosok figur bukan ke kekuatan partai. Boleh saja (menghimpun partai,red) itu strategi cara untuk meraih kemenangan. Tapi rakyat sudah pandai memilih,” ulasnya.

Penulis: Siti Marlina

Facebook Comments