La Ode Koso : Tak Ada Perkebunan Tebu Sejahterakan Masyarakat

1800
La Ode Koso

La Ode Koso

Kendari, Inilahsultra.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Muna Barat La Ode Koso turut menolak langkah pemerintah menghadirkan perkebunan tebu di daerahnya.

- Advertisement -

Menurut dia, tak ada di daerah di Indonesia yang masyarakat sekitar perkebunan tebu mengalami peningkatan kesejahteraan.

“Dimana pabrik gula membuat masyarakat sejahtera? Tidak ada itu. Sebagai wakil rakyat, saya punya kajian sendiri dan telah turun langsung melihat kondisi di lapangan,” ungkap La Koso, Selasa 17 Juli 2018.

Lahan 4 ribu hektare yang rencananya akan digunakan untuk perkebunan tebu di Mubar sejak dulu ditempati warga untuk berkebun.

Dahulu, status lahan tersebut, kata dia, merupakan hutan produksi. Hanya saja, setelah perusahaan tebu itu masuk, pemerintah menurunkan status lahan menjadi areal penggunaan lain (APL).

“Kebijakan pemerintah ini jelas tidak berpihak pada kepentingan rakyat,” katanya.

La Koso menyebut, mestinya sebelum pemerinth menetapkan lokasi perkebunan tebu di Kecamatan Wadaga, harus melihat dulu topografi dan sosiologis masyarakat.

Di lokasi yang akan dijadikan perkebunan tebu, telah lama didiami masyarakat untuk berkebun.

“Itu sudah puluhan tahun sejak leluhur kita di sana ada. Kita sepakat diturunkan statusnya, tapi bukan untuk kepentingan perusahaan. Kalau pemerintah menurunkan status lahan hanya untuk kepentingan perusahaan, maka rakyat akan melawan. Mau hidup dimana mereka jika lahannya sudah diambil perusahaan?” katanya.

Ia mengaku khawatir, dengan hadirnya perusahaan tebu, akan berdampak pada kebutuhan air di sekitarnya

Sebab, Wadaga selama ini merupakan daerah penyangga kebutuhan air di sekitarnya.

“Wadaga ini sumber air bagi kecamatan di Tiworo. Kalau itu hilang, maka kebutuhan air di sawah tidak akan terpenuhi,” bebernya.

Ia menyebut, hadirnya program perkebunan tebu bukan kali pertama ada di Muna Barat.

Perusahaan tebu pernah masuk di Tiworo, tapi belakangan tidak berfungsi lagi. Masyarakat pun sudah terlanjur menjual lahannya.

“Ada kecurigaan negatif perusahaan ini. Di Tiworo sudah ada program bahkan mereka beli dua juta perhektar lahan warga untuk tanaman tebu. Tapi sekarang tidak ada lagi,” tuturnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...