RHI Gagas Diskusi “Ngopi” Lintas Komunitas di Sultra

405
Presiden RHI, Triyas Munarsyah bersama Direktur Pandawa Institut, Qadaruddin Fajri Adi, Penulis Cerita Anak, Desy Tysaroh, dan Eks Ketua Gerakan Kendari Mengajar, Asniwun Nopa. Tiga tokoh inspiratif Sultra ini menjadi pembicara dalam diskusi "NGOPI" RHI di Talk Cafe Kendari Selasa 12 Maret 2019.

Kendari, Inilahsultra.com – Komunitas Rumah Hijau Indonesia (RHI) menggagas diskusi lintas komunitas dan organisasi kepemudaan Sulawesi Tenggara di Talk Cafe, Selasa 12 Maret 2019.

Sejumlah organisasi kepemudaan dan komunitas di antaranya adalah DPD PCMI-Sultra, DPD KAKPN-Kendari, Trash Hero Kendari, KAMMI Kota Kendari, GKM-Kendari, Kelas Inspirasi Kendari, LSIP-FKIP UHO, Kendari Kreatif, Inodi-Indonesia, dan Rintara Jaya Kendari ikut andil dalam diskusi bertajuk “Ironi Kontribusi Pemuda Masa Kini”.

- Advertisement -

Ajang Ngobrol Pintar (Ngopi) digelar RHI kali ini menghadirkan tiga pembicara dari tokoh muda inspiratif Sultra.

Diantaranya Direktur Pandawa Institut, Qadaruddin Fajri Adi, Penulis Cerita Anak, Deasy Tirayoh, dan Eks Ketua Gerakan Kendari Mengajar, Asniwun Nopa.

Presiden RHI, Triyas Munarsyah mengatakan, gerakan kepemudaan Komunitas Rumah Hijau Indonesia sengaja menginisasi sebuah kegiatan yang disebut NGOPI (Ngobrol Pintar) sebagai media pencerahan dan penyadaran kritis bagi kalangan pemuda.

Gerakan ini diharapkan bisa memberi motivasi positif kalangan pemuda dan mahasiswa agar bisa bergerak dan berkontribusi positif bagi perubahan daerah, bangsa dan negara.

Meski baru kali pertama berjalan, kata Triyas “Ngopi” Rumah Hijau Indonesia yang menggaet pembicara dari kalangan muda inspiratif Sultra berhasil menarik simpati sejumlah pegiat sosial, komunitas dan organisasi kepemudaan yang ada di Kota Kendari.

“Tidak hanya organisasi dan komunitas di Sultra yang tertarik bergabung dalam diskusi kemarin, bahkan hadir pula teman-teman luar daerah yang berasal dari Jakarta, Makassar dan Kalimantan. Di luar ekspektasi kegiatan ini mendapat respon positif. Tiap entitas yang hadir tidak hanya menggambarkan terkait ranah kegiatan di lingkup komunitasnya masing-masing, akan tetapi juga ide dan gagasan solutif terhadap berbagai problem pemuda di Kota Kendari khsusus nya dan negara ini pada umumnya,” ungkap Triyas

Baca Juga :  BKKBN Ajak Masyarakat Bose-Bose untuk Ber-KB

Sesuai tema “Ironi Kontribusi Pemuda Masa Kini”, ketiga pembicara membeber makna pemuda yang memegang tombak perubahan. Bagi mereka pemuda harus mampu menjadi jembatan penyelesaian masalah di masyarakat melalui solusi cerdas serta menghindari sikap anarkis mengatasi problem yang terjadi. Para pemuda juga dituntut saling berkolaborasi, menjaga semangat satu sama lain hingga tujuan yang dinginkan dapat tercapai.

Direktur Pandawa Institute, Qadar mengatakan semangat dan gerakan pemuda yang begitu kuat mengakar bakal berefek pada perubahan masyarakat. Namun begitu, urai mantan Presiden Mahasiswa Universitas Gajah Mada itu menyebut gerakan pemuda mesti disuport perubahan sistem pemerintahan negara. Pasalnya pengembangan kegiatan komunitas maupun organisasi kepemudaan selama ini banyak terganjal akses finansial.

Hal itu juga diakui perwakilan dari Trash Hero Kendari.

“Kami bingung ketika ingin melakukan banyak aktivitas positif di masyarakat. Banyak ide-ide perubahan yang ingin kami bawa dan sampaikan ke masyarakat. Akan tetapi kami selalu terkendala funding untuk menghidupkan kegiatan itu. Dukungan finansial maupun support dari pemerintah bagi komunitas pemuda sangat penting “ tutur Iyan perwakilan Trash Hero Kendari.

Ketua Gerakan Kendari Mengajar, Asniwun Nopa, berbagi cerita inspiratif bagaimana menggalang kekompakan antarpemuda memajukan dunia pendidikan. Khususnya di wilayah pinggiran Sultra lewat gerakan Kendari Mengajar. Di tengah dukungan pemerintah yang minim, organisasi non-profit ini terbukti berhasil menggalang kepedulian kaum muda menjadi volunter pendidikan di desa-desa terpencil di Sultra.

Sementara itu, cerpenis andal Sultra Deasy Tirayoh memotivasi pemuda melakukan gerakan perubahan lewat tulisan. Bagi Deasy, kritik mengenai persoalan sosial masyarakat tidak mesti disampaikan secara frontal dan anarkis ke pemerintah. Ada banyak cara halus semisal lewat karya coretan pena.

Baca Juga :  Dinas Infokom Buton Akan Sediakan Wi-Fi Gratis Bagi Warga

Lebih jauh, Triyas menyatakan Gelaran “Ngopi” akan menjadi diskusi tematik Rumah Hijau Indonesia. Ajang ini akan menjadi ruang sharing baru dan kerjasama positif lintas komunitas/organisasi pemuda di Sultra.

“Ada banyak hal positif dari diskusi kemarin. Trash Hero-Kendari mengundang kegiatan bersih-bersih di area MTQ-Kota Kendari. KAMMI Kota Kendari mengajak tiap peserta yang hadir bersama memikirkan solusi terbaik Pekerja Seks Komersial (PSK) kalangan anak-anak yang banyak terlihat di area Kendari Beach, Kota Kendari,” ujar Triyas.

Diskusi dan sharing produktif “Ngopi RHI”, lanjut Triyas, sekaligus menjadi wadah silaturahim dan tukar pendapat satu sama lain mengenai isu-isu yang hangat berkembang di Sultra.

“Kita berharap ke depannya difollow up lebih lanjut. Diskusi kedepan bisa menghadirkan pejabat pemerintah terkait, agar dapat mendengar suara pemuda, keluh kesahnya dan berbagai kendala yang dialami pemuda di komunitas untuk bergerak, hingga membuka akses kolaborasi bersama dalam membangun Kota Kendari yang lebih baik,” pungkasnya.

Penulis : Siti Marlina

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here