Yang Mengumbar Janji Kemenangan Jokowi 70 Persen di Sultra

Ridwan Bae.

Kendari, Inilahsultra.com – Satu bulan sebelum pelaksanaan pemilihan umum, Calon Presiden Joko Widodo menggelar safari politik di beberapa daerah yang dianggap masih rendah elektabilitasnya. Salah satunya, Sulawesi Tenggara.

Joko Widodo hadir di Sulawesi Tenggara pada 2 Maret 2019. Selain menggelar kegiatan kepresidenan, ia juga melakukan kegiatan politik di beberapa titik. Termasuk bertemu elit politik di Sultra yang punya background kepala daerah.

Dalam pertemuan itu, terungkap sikap politik para kepala daerah yang membuat Jokowi sedikit terbuai.

-Advertisement-

Para kepala daerah yang dikomandoi politikus NasDem yang juga Gubernur Sultra Ali Mazi menjanjikan perolehan suara pasangan nomor urut 1 itu di atas 70 persen di Bumi Anoa.

Jokowi pun manggut-manggut. Berangkat dari janji itu, ia punya feeling angka 70 hingga 80 persen bisa diperoleh di Sultra.

Sayang fakta berkata lain setelah pemilihan 17 April 2019. Meski belum ada hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jokowi-Maruf tumbang di Bumi Anoa berdasarkan quick count yang dilakukan The Haluoleo Institut (THI).

Lembaga survei lokal Sulawesi Tenggara ini mencatat, pasangan capres cawapres nomor urut 1 memperoleh 39,89 persen. Kalah telak dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mengantongi suara sebesar 60,11 persen suara.

Komitmen politik para kepala daerah hingga menargetkan 70 persen telah diragukan sejak awal oleh Direktur The Haluoleo Institut Naslim Sarlito Alimin.

Menurutnya, untuk mencapai angka 70 sampai 80 persen kemenangan sangat lah sulit. Ia menilai, target itu hanya semacam janji politik yang sulit ditunaikan.

“Namanya optimisme akan dibangun. Hanya saja, apakah selaras yang terjadi di lapangan, di pemilih di bawah,” jelas Naslim saat mensurvei elektabilitas calon sebelum pelaksanaan Pemilu 2019.

Ridwan Sudah Sampaikan ke Jokowi

Terhadap janji para kepala daerah itu, Jokowi sempat memanggil Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Sultra Ridwan Bae.

Kepada Jokowi, Ridwan mengaku, janji politik para kepala daerah itu sulit dipenuhi. Alasannya banyak hal.

Pertama, semenjak Pilkada digelar, perolehan suara para kepala daerah tidak ada yang sampai 70 persen apalagi 80 persen.

“Saya sudah melaporkan langsung kepada pak Jokowi. Saya dipanggil khusus oleh beliau di hotel. Saya melaporkan bahwa, angka 70 persen itu sulit,” kata Ridwan.

Menurut Ridwan kekalahan Jokowi tidak terlepas kurangnya informasi di bawah akan program Jokowi yang selama ini turun di Sultra.

Harusnya, kata dia, program Jokowi ini disampaikan secara jujur oleh kepala daerah, khususnya yang berlatar partai koalisi kepada masyarakat.

“Hal ini yang tidak kesampaian di bawah. Harusnya, para kepala daerah dari partaj pengusung menyambungkannya ke bawah bahwa program Jokowi ini dan itu,” ujarnya.

Selama empat tahun di DPR RI, sebut Ridwan, dirinya selalu menggaungkan banyak program Jokowi di Sultra. Misal, program pembangunan Bendungan Pelosika, Jembatan Buton-Muna, pembangunan kereta api, pembangunan dermaga, serta pembangunan jalan.

Meski itu adalah program Jokowi, tapi tidak terlepas dari perjuangan dirinya di DPR RI.

Ridwan menyebut, Bendungan Pelosika sempat terancam dicoret dari program prioritas pemerintah pusat. Hanya saja, melalui kursi dewan, ia meminta agar bendungan ini tetap diutamakan.

Selain karena hal itu, kalahnya Jokowi-Maruf di Sultra karena isu hoaks yang beredar di masyarakat.

Menurutnya, banyak masyarakat menerima mentah-mentah informasi itu tanpa verifikasi.

“Tapi, ini sudah selesai. Meski pun kalah di Sultra, secara nasional pasangan Jokowi-Maruf menang. Kita tinggal tunggu hasil dari KPU,” ujarnya.

Bagi kepala daerah berlabel kader partai pengusung yang sudah menjanjikan kemenangan di atas 70 persen, ia meminta harus menjelaskan secara detil masalahnya. Termasuk Gubernur Sultra Ali Mazi yang juga kader Partai NasDem.

“Mereka harus bisa menjelaskan ke pak Jokowi apa kendalanya,” pungkasnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments