Tari Kolosal Menutup Rangkaian Festival Pesona Budaya Tua Buton

217
Para siswa saat mengikuti Tari Kolosal pada acara puncak Festival Pesona Budaya Tua Buton ke 7, Sabtu 24 Agustus 2019.

Pasarwajo, Inilahsultra.com – Puncak pelaksanaan Festival Pesona Budaya Tua Buton 2019 menampilkan tari kolosal yang melibatkan 5019 penari di Alun-alun Kantor Bupati Buton di Takawa. Konfigurasi tari kolosal membentuk dua wanita yang sedang menari bosu, nenas, dan tameng.

Konfigurasi yang membentuk nenas melambangkan Buton sebagai daerah yang kuat. Dimana nenas tanaman buah yang dapat hidup di segala tempat, baik di tanah subur maupun tandus dengan aroma yang sangat harum dan mempunyai rasa yang cukup manis, serta mempunyai daun yang berduri-duri.

- Advertisement -

Selain sebagai tumbuhan peliharaan, nenas juga juga sebagai tanaman benteng pertahanan. Sementara dua perempuan menari bosu menceritakan perempuan pekerja keras dan tameng sebagai perisai masyarakat.

Bupati Buton La Bakry bersama Gubernur Sultra Ali Mazi saat membuka Festival Pesona Budaya Tua Buton di Takawa, Sabtu 24 Agustus 2019.

Bupati Buton La Bakry mengatakan, Festival Pesona Budaya Tua Buton merupakan refleksi kegiatan budaya yang menjadi panutan terintegrasi dalam kehidupan, baik pribadi maupun masyarakat yang telah diwariskan turun temurun.

                       

“Festival ini setiap tahun digelar. Ini juga untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) RI dan juga untuk menyambut pesera sail yang setiap tahun melintas di Indonesia, sekaligus hiburan untuk masyarakat,” katanya.

Sesuai tema, kata La Bakry, ‘Budaya Buton dan Masa Depan’ ini menandakan kuatnya budaya Buton yang tetap dijaga hingga saat ini.

Tradisi Pedole-dole atau dikenal sebagai imunisasi bagi bayi.

Dalam even ini, lanjut La Bakry, pemerintah daerah menggelar tradisi Posuo (ritual bagi wanita yang beranjak dewasa) bagi warga yang tidak mampu. Ada juga ritual Tandaki (sunatan) dan Pedole-dole (Ritual untuk menjaga daya tahan tubuh bagi bayi).

Semua kegiatan ini dilaksanakan secara massal yang melibatlan siswa sekolah mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA.

Baca Juga :  Empat SMP di Buton Meriahkan Lomba Permainan Budaya
Para wisatawan mancanegara saat mengikuti tradisi Pekande-kandea.

La Bakry juga menambahkan, pada tahun ini wisatawan nusantata dan wisatawan mancanegara ikut memeriahkan Festival Pesona Budaya Tua Buton. Bahkan mereka juga mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI di Pasarwajo.

Para wisatawan mancanegara yang datang berkunjung menggunakan 34 kapal Yacth. Mereka berasal dari negara Kanada, Norwegia, Swedia, Spanyol, Australia, dan Amerika Serikat.

“Para wisatawan datang dan melakukan Diving, melihat penyulingan aren, berbelanja di pasar tradisional, berwisata di kampung tenun juga wisata aspal Buton,” urainya.

Gubernur Sultra Ali Mazi berharap, festival tersebut terus berlanjut untuk para generasi muda. Festival Pesona Budaya Tua Buton ke 7 ini dilaksanakan secara berturut-turut di tempat dan waktu yang sama.

“Even ini murni promosi budaya untuk mempertontonkan kebudayaan. Sehingga kebudayaan tetap kokoh dan bertahan sebagai karakter kuat dalam maysarakaat yang telah menambah khasanah kekayaan Indonesia sebagai identitas tersendiri,” jelasnya.

Artis Stevy Cheribelle ikut menenun kain khas Buton.

Dia juga mengapresiasi kegiatan yang digagas Pemda Buton yang tetap memelihara kebudayaan dan memperlihatkan kepada dunia luar betapa kuat peradaban manusia di Buton.

Dengan melihat kenyataan selama festival, lanjut Ali Mazi, banyak wisatawan yang berkunjung. Bila didukung dengan insfrastruktur maka wisatawan akan lebih lama tinggal di Buton.

“Melalui kesempatan ini saya perintahkan OPD di lingkup Sultra mendampingi Pemda Buton khususnya Dinas Pariwisata untuk menjadikan Teluk Pasarwajo sebagai kawasan pariwisata,” terangnya.

Bukan hanya itu, Ali Mazi juga menyarankan agar masyarakat banyak yang membangun home stay. Namun mereka harus menjaga kebersihan linkungannya. Pmerintah akan mengupayakan Pelabuhan Marina sebagai tempat berlabuh kapal-kapal para wisatawan.

Reporter: Wa Ode Yeni Wahdania

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...
     
Baca Juga :  Bank Indonesia Dorong Pengembangan Tenun Tradisional Masalili Muna