BEM Teknik Serahkan Dua Saksi dan Dua Bukti Selongsong ke Ombudsman

Ketua BEM Teknik La Ramli menyerahkan barang bukti selongsong peluru ke Ombudsman Sultra. (Pandi/Inilahsultra)
Bacakan

Kendari, Inilahsultra.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo Kendari menyerahkan dua bukti selongsong peluru ke Ombudsman Perwakilan Sultra, Kamis 3 Oktober 2019.

-Advertisements-

Selain itu, mereka juga menyerahkan dua saksi penembakan kepada Ombudsman untuk dimintai keterangan seputar kronologi meninggalnya Muhammad Yusuf Kardawi.

-Advertisements-

Tak hanya itu, satu korban lainnya bernama Oksa Putra Palulun, mahasiswa Program Pendidikan Vokasi (PPV) Teknik Mesin Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari.

-Advertisements-

Ketua BEM Teknik UHO La Ramli menyatakan, kasus meninggalnya Yusuf dan Randi harus segera diungkap oleh polisi.

“Kami bawa dua saksi dan dua selongsong peluru,” katanya di Ombudsman Sultra.

Dua selongsong ini ditemukan mahasiswa usai Randi dan Yusuf terkapar di lokasi bentrokan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Ombudsman Sultra Mastri Susilo mengaku, dua saksi dan alat bukti ini akan didampingi Ombudsman untuk memberikan keterangan ke tim Mabes Polri yang tengah menyelidiki kasus meninggalnya dua mahasiswa UHO Kendari.

“Nanti mereka juga akan didampingi oleh LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban),” jelasnya.

Ia menyebut, keterangan saksi dan barang bukti lainnya bjsa mempercepat proses investigas dan penyeldikan atas meninggalnya dua mahasiswa.

“Kita berharap, kasus ini segera dituntaskan dan diketahui siapa pelaku penembakan Randi dan penyebab meninggalnya Yusuf,” jelasnya.

Sebelumnya, penanganan kasus penembakan terhadap mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) mulai menemukan titik terang. Dari 13 oknum anggota polisi yang diperiksa, kini tersisa enam orang.

Enam oknum polisi ini, satu berpangkat perwira Ajun Komisaris Polisi (AKP) dan lima berpangkat bintara bertugas di Polres Kendari dan Polda Sultra.

Karo Div Propam Mabes Polri, Brigjen Pol Hendro Pandowo mengatakan, enam oknum polisi yang masih status terperiksa, satu berpangkat AKP berinisial DK sedangkan berpangkat bintara berinisial GM, MI, MA, H, dan E.

“Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan saksi-saksi khusus Propam, kami menemukan beberapa anggota tidak disiplin dan melanggar SOP dalam mengamankan aksi unjuk rasa,” tegas Hendro Pandowo saat ditemui di Polda Sultra, Kamis 3 Oktober 2019.

Menurutnya, pelanggaran SOP enam anggota ini karena membawa senjata api (senpi) dalam mengamankan aksi unjuk rasa di kantor DPR Sultra, Kamis 26 September 2019 lalu.

“Jenis senjata yang digunakan saat pengaman aksi, yakni senjata laras pendek, senjata SNB, HS dan MAG,” sambungnya.

Padahal, kata Hendro Pandowo, sebelum aksi unjuk rasa Kapolri, Jenderal Tito Karnavian selalu menyampaikan dalam setiap pengarahan kepada pejabat utama Mabes Polri dan jajaran Kapolda serta pejabat Kapolda dalam menangi unjuk rasa diperintahkan untuk tidak membawa senpi.

“Arahan terakhir Kapolri, pada tanggal 25 sept 2019. Ternyata di Kendari ada aksi ujuk rasa, dua korban meninggal dunia. Salah satunya dari korban dari hasil outopsi mengalami luka tembak,” tuturnya.

Sehingga, Kapolri membentuk tim investigasi dengan melibatkan pucuk pimpinan strategis di tubuh Polri, diketuai lrwasum Polri melibatkan Kabareskrim, Kabaintelkam dan Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri.

“Status mereka masih terperiksa, selanjutnya akan segera pemberberkasan dan akan disidang agar semua masyarakat bisa melihat kesalahan mereka seperti apa,” tutupnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman dan Onno

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
-Advertisements-
loading...