Malam Minggu di Kemah Literasi Bumi Anoa

1191
 

Kendari, Inilahsultra.com – Bagi Anda yang ingin mengenal lebih jauh tentang literasi dan sastra, tidak salah bila Anda datang di Kemah Literasi Bumi Anoa yang akan digelar di Pelabuhan Bungkutoko Kecamatan Abeli Kota Kendari, Sabtu 7 Desember sampai Minggu 8 Desember 2019.

Bincang kali ini dikemas lebih milenial dengan cara berkemah. Tentunya, malam minggu Anda tidak akan rugi bila dihabiskan bersama para pegiat literasi di Sulawesi Tenggara.

- Advertisement -

Kemah literasi yang mengambil tema “Literasi Untuk Kita Semua” ini menghadirkan pemateri yang tak kalah keren. Bukannya berlebihan, setidaknya mereka sedikit khatam dan bertanggung jawab soal bidang pengetahuannya masing-masing.

Sebut saja, Ahid Hidayat. Pria kelahiran Majalengka, Jawa Barat, 30 Agustus 1967 ini punya banyak pengalaman soal sastra.

Semenjak lulus sarjana, ia sering menyajikan makalah pada seminar atau pertemuan ilmiah, antara lain : Pertemuan Ilmiah Nasional Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia V di Bogor, 1992, dengan judul makalah “Memahami Drama Gerr Karya Putu Wijaya”.

Kemudian, Pertemuan Ilmiah Nasional Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia XII di Pusat Bahasa, Jakarta, 1999, judul makalah: “Guru dan Kakilangit Pengajaran Sastra”

Selain itu, ia punya beberapa artikel penelitiannya dimuat dalam buku, diantaranya dalam Sastra Masuk Sekolah suntingan Riris K. Toha-Sarumpaet (IndonesiaTera, 2002). Cakrawala Karya yang disuntingnya bersama Nikolaus Pasassung (Penerbit FKIP Unhalu, 2006). Kontrapropaganda dalam Drama Propaganda, Sejumlah Telaah (Penerbit FKIP Unhalu, 2009).

Tak hanya itu, pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Haluoleo sejak 1993 ini aktif menulis puisi dan cerpen dan dimuat di media nasional dan lokal.

Saat ini Ahid Hidayat dikenal sebagai kritikus sastra, pengamat sastra dan penyuting naskah. Esok ia akan menjadi narasumber tentang peta dan perkembangan komunitas literasi.

Pemateri kedua yang tak kalah kerennya adalah Irianto Ibrahim. Pria kelahiran Gu-Buton, 21 Oktober 1978 ini merupakan pendiri The La Malonda Institute dan pengajar di Program Pascasarjana UHO.

Perkenalannya di dunia sastra dan teater sejak bergabung di Teater Sendiri Kendari tahun 1997. Semasa mahasiswa mendirikan Pekerja Puisi Sultra (eksis). Kemudian mendirikan Komunitas Arus, Ruang Baca, Teater dan Kedai Buku. Sebuah ruang diskusi dan pengkajian sastra dan teater di Kendari, Sulawesi Tenggara. Pernah menjadi peserta Program Penulisan Puisi Mastera di Samarinda.

Kumpulan Sajak tunggalnya terbit pertama kali yaitu Barasanji di Tengah Karang (2004); Bunda, Kirimkan Nanda Doa-Doa (2006); Yang Tak Pernah Selesai (2007); Buton, Ibu, dan Sekantong Luka (2010).

Dalam kemah literasi nanti, pria yang akrab La Anto ini akan menjadi narasumber tentang menulis dan bercerita.

Pemateri ketiga juga tak kalah bergizi pengetahuannya. Syaifuddin Gani namanya. Pria kelahiran Salubulung, Mambi, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, 13 September 1978 ini banyak aktif, kalau boleh dibilang aktivis literasi.

Ia belajar sastra dan teater sejak bergabung di Teater Sendiri Kendari tahun 1998. Bersama Teater Sendiri, telah melakukan pertunjukan teater antara lain di Raha, Uepai, Unaaha, Kendari, Banjarmasin, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Taman Budaya Solo, Lembaga Indonesia Pransic Yogyakarta, dan Pusat Bahasa Jakarta. Mengikuti kegiatan Temu Sastra Kepulauan dan Kampung Budaya IV di Takalar tahun 2004, Pesta Penyair Nusantara di Medan tahun 2007, dan Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kudus tahun 2008.

Puisinya diantologikan pada antologi bersama Sendiri, Sendiri 2, Malam Bulan Puisi, kumpulan sajak tunggal Perjalanan, antologi bersama Kendari, Ragam Jejak Sunyi Tsunami, Medan Puisi, 142 Penyair Menuju Bulan, Bunga Hati Buat Diah Hadaning, Tanah Pilih, Wajah Deportan, Pedas Lada Pasir Kuarsa, Rumpun Kita, Puisi Indonesia Mutakhir: 50 Tahun Dimas Arika Miharja, dan Percakapan Lingua Franca.

Sajak-sajaknya banyak dimuat surat kabar dan majalah yang namanya menasional.

Tahun 2006 Syaifuddin Gani menjadi pegawai Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. Puisinya tersebar di berbagai media dan buku antologi puisi. Sejak 2014 menjadi peneliti sastra di kantor tersebut. Akhir tahun 2016 mendirikan Pustaka Kabanti di rumahnya bersama Ita Windadari dan Iwan Konawe.

Di Kemah Literasi nanti, ia akan jadi narasumber berbagi dalam pengalaman bergiat literasi.

Sementara itu, Ahmad Ridwan Wanderer, selaku ketua panitia kegiatan ini perlu juga dipaparkan rekam jejaknya, terlebih nama terakhirnya begitu unik, Wanderer yang berarti pengelana.

Anak muda kelahiran Kendari 14 september 1997 .merupakan mahasiswa Fakultas Hukum, Jurusan Ilmu Hukum di Universitas HaluOleo.

Ia juga merupakan anggota organisasi Pusat Kajian Konstitusi FH UHO, ketua PSDM BEM FH UHO, kordinator Puisi Laskar Sastra, anggota Sanggar Seni Teater Bangau Raha, angota Komunitas Gondrong Sultra, pengurus di Komunitas Cakreter  Regional wilayah Sulawesi Tenggara. Pendiri Komunitas Mafia, pendiri Perpustakaan Mini Wanderer. Setidaknya, di usia yang masih muda ini, perannya sebagai pemandu jalannya kegiatan sangat dibutuhkan.

Wanderer menyebut, sejauh ini sudah ada 151 peserta yang memastikan bergabung dalam Kemah Literasi Bumi Anoa itu. Mereka berasal dari berbagai komunitas, diantaranya, Rumah Bunyi, Laskar Sastra, LIANSI, KBS, Gubuk Gila, Sahabat Bumi Literasi, Perpustakaan Mini Wanderer, Mafia , Rimba Pustaka, Ransel Pustaka, Rumah Buku Firza, PADA IDI, HMPS Perpustakaan, Pustaka Kabanti, Lapak Baca Ronsokan.

Kemudian, Rumah Baca Laica Abbacang, Lapak Baca Berdikari, HMA FT UMK, Suluh Gerak Kolektif, FPIK18 Bergerak, FONT SEGAR, Komunitas Sultra Heritage.

Beruntung lah Anda bermalam minggu dengan mereka. Selain ragam materi, pesertanya juga dari berbagai penjuru. Mungkin saja bisa reuni.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...