Budaya Sipakatau Mengeskalasi Kinerja Auditor

312
 

Seorang auditor dalam meningkatkan kinerjanya, biasanya dihadapkan pada berbagai tantangan dalam mewujudkan transparansi dan akuntabilitas.

Dalam menjalankan fungsinya, auditor sering mengalami konflik kepentingan dengan manajemen perusahaan, manajemen ingin operasi perusahaan atau kinerjanya tampak berhasil salah satunya tergambar melalui laba yang lebih tinggi dengan maksud untuk menciptakan penghargaan.

Dalam praktiknya, auditor berada dalam situasi yang dilematis, disatu sisi auditor harus bersikap independen dalam memberikan opini mengenai kewajaran laporan keuangan yang berkaitan dengan kepentingan berbagai pihak, namun disisi lain auditor juga harus memenuhi tuntutan yang diinginkan oleh klien yang membayar fee atas jasanya demi kepuasan klien agar tetap memakai jasanya diwaktu yang akan datang.

Posisi yang dilematis tersebut tentu dapat memengaruhi kualitas auditnya. Kenyataan dilapangan masih menunjukkan beberapa kasus pelanggaran SPAP yang dilakukan oleh auditor dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Kasus tersebut menandakan bahwa kinerja seorang auditor belum optimal, padahal kinerja auditor memiliki peran penting dalam mewujudkan kantor akuntan publik yang berkualitas dan professional. Saat ini masih terdapat beberapa kelemahan dalam melaksanakan audit di Indonesia, kelemahan yang dimaksud yakni yang bersifat inherent yaitu tidak tersedianya indikator kinerja yang memadai sebagai dasar mengukur kinerja pemerintah yang dimana selama ini sektor publik sering dinilai sebagai sarang inefisiensi, sumber kebocoran dana dan pemborosan sehingga tuntutan baru muncul agar organisasi sektor publik  dapat memperhatikan value for money dengan mempertimbangkan input, output dan outcome secara bersama-sama.

Salah satu penyebab auditor tidak dapat bersifat independen yaitu karena adanya tekanan klien-klien dalam melakukan tanggung jawabnya sebagai auditor. Seringkali muncul situasi konflik antara auditor dengan klien dimana auditor dengan klien tidak sependapat dengan beberapa hasil pengujian laporan keuangan sehingga membuat klien berusaha memengaruhi auditor untuk melakukan tindakan yang melanggar standar auditing.

Jadi, apabila semakin rendah tekanan dari klien akan semakin tinggi independensi auditor. kondisi ketergantungan yang tinggi terutama dalam hal ekonomi dapat digunakan oleh klien untuk menindas auditor. hal ini dapat membuat auditor tidak akan mampu menghindari tekanan klien, sehingga menyebabkan mereka untuk melemahkan kemandirian.

Dapat dimaknai bahwa dalam kehidupan sosial kita selayaknya memandang manusia seperti manusia seutuhnya dalam kondisi apapun. pada intinya sesama manusia seharusnya saling menghormati sebagai makhluk ciptaannya tanpa memandang miskin atau kaya atau dalam keadaan apapun.

Dari beberapa kasus yang berhubungan dengan kinerja auditor yang semakin menghilangkan kepercayaan masyarakat, maka berbagai alternatif pun dikembangkan, salah satunya yaitu dengan menerapkan nilai budaya sipakatau. Nilai sipakatau terkait dengan bagaimana individu menghargai satu sama lain, ataupun dikenal dengan istilah memanusiakan manusia. Dimana kita dituntut untuk saling menghargai hak dan kewajiban satu sama lain.

Perilaku yang berkembang di masyarakat merupakan pola hidup yang dibentuk melalui ajaran-ajaran orang tua yang diturunkan secara turun temurun kepada anak cucu mereka. Setiap perilaku yang tersirat tentunya megandung nilai-nilai moralitas yang sesuai dengan budaya yang tumbuh di masyarakat.

Dengan adanya nilai dan pedoman serta falsafah yang dipegang maka saat ini setiap orang diharapkan agar bisa menjadi manusia yang berkualitas dilingkungan tempatnya berada. Budaya Sipakatau dalam hal ini dapat diartikan sebagai profesionalisme seorang auditor.

Jika auditor menerapkan budaya sipakatau dalam melaksanakan tugas auditnya maka dengan otomatis  auditor tersebut akan enggan untuk menyalahi aturan dalam menjalankan profesinya karena munculnya rasa untuk menghormati sesama manusia dalam diri auditor tersebut, serta telah tertanam dalam diri auditor tersebut bahwa ada tuhan yang melihat segala perilaku yang dilakukan. Dengan demikian auditor akan bekerja sesuai dengan aturan dan kode etik profesi demi terciptanya hasil audit yang sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang diharapkan.

Nur Afiya Arma

Mahasiswa Akuntansi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
12
Komentar
loading...