Kolaka Timur, Unik dengan Pertanian

1190
 

Kolaka Timur merupakan salah satu diantara sekian kabupaten pemekaran di Provinsi Sulawesi Tenggara. Dulunya, Kolaka Timur merupakan bagian dari Kabupaten Kolaka sebelum mekar pada tahun 2013. Setelah menjadi wilayah administrasi tersendiri. Kolaka Timur memiliki jumlah kecamatan sebanyak 12, jumlah ini sama dengan yang dimiliki oleh Kolaka sebagai kabupaten induk.

Meski bersebelahan, Kolaka Timur dan Kolaka memiliki karakteristik perekonomian makro yang cukup berbeda. Dimana dominasi kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan di Kabupaten Kolaka Timur lebih nyata, jika dibandingkan dengan Kabupaten Kolaka. Tercatat pada tahun 2018, Kolaka Timur memiliki distribusi persentase PDRB kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai 42,21%. Angka tersebut unggul jauh jika dibandingkan dengan distribusi persentase PDRB kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan Kolaka yang hanya mencapai 12,62% saja.

- Advertisement -

Hal tersebut bisa dimaklumi, karena dominasi PDRB di Kolaka terletak pada kategori Pertambangan dan Penggalian. Kolaka dengan adanya PT. ANTAM, Tbk. memiliki distribusi persentase PDRB kategori Pertambangan dan Penggalian sebesar 49,79% pada tahun 2018. Sehingga tidak heran jika PT. ANTAM,Tbk. di Kolaka menjadi Unit Bisnis Pengembangan Nikel (UBPN) di Sulawesi Tenggara.

Problematika Pertanian

Pertanian merupakan kategori yang sangat strategis di Indonesia ini, karena secara makro Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Begitu juga yang terjadi di Kolaka Timur. Kolaka Timur merupakan kabupaten yang sangat diakui hasil pertaniannya utamanya tanaman padi di Sulawesi Tenggara. Sehingga tidak salah jika Kolaka Timur menjadi salah satu lumbung padi di Sulawesi Tenggara.

Namun, dengan latar belakang tersebut, ternyata tidak secara otomatis menjadikan Kolaka Timur terlepas dari permasalahan mengenai pertanian. Berdasarkan hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018, menunjukkan hasil bahwa dari 25.620 petani di Kolaka Timur, tercatat 22.087 petani atau setara dengan 86,21% nya tidak menggunakan internet selama setahun yang lalu. Hal ini perlu mendapatkan perhatian. Karena internet merupakan salah satu akses informasi tercepat yang bisa dinikmati oleh semua pihak. Termasuk diantaranya adalah petani.

Di zaman sekarang ini, siapa yang mendapatkan informasi paling banyak, maka dialah yang akan berkuasa. Dan sebaliknya, siapa yang terlambat mendapatkan informasi, maka dia akan tertinggal. Tentu saja hal ini tidak ingin dialami oleh petani di Kolaka Timur. Harapannya, dengan akses terhadap internet yang cukup, maka petani dapat melakukan pembelajaran secara audiovisual. Inovasi pertanian dapat lebih beragam lagi dilakukan para petani jika mereka mau dan mampu mengakses internet.

Kemudian permasalahan berikutnya adalah sebagian besar petani di Kolaka Timur masih berpendidikan rendah. Hasil SUTAS 2018 menunjukkan bahwa 9.311 dari 25.620 petani di Kolaka Timur hanya lulusan SD, jumlah tersebut setara dengan 36,34%. Tidak hanya sampai disitu saja, ternyata 4.919 dari 25.620 petani di Kolaka Timur tidak/belum tamat SD, jumlah tersebut setara dengan 19,19%. Artinya lebih dari setengah petani di Kolaka Timur hanya mengenyam pendidikan dasar saja.

Pendidikan petani tentu tidak boleh disepelekan begitu saja. Sebenarnya secara kejuruan, baik itu di tingkat akademi maupun perguruan tinggi, Indonesia sudah banyak memfasilitasi para mahasiswa peminat pertanian. Namun, ilmu pertanian yang mereka dapatkan di jenjang pendidikan tinggi tersebut tidak diaplikasikan oleh mereka setelah lulus kuliah. Mereka lebih memilih untuk mencari pekerjaan yang diluar background pendidikan. Jadi, ini adalah tugas kita bersama bagaimana agar para pemuda juga ikut andil dalam membangun pertanian khususnya di Kolaka Timur.

Strategi Pengembangan

Kolaka Timur sebagai kabupaten pemekaran tidak perlu minder ataupun cemas menghadapi persaingan global. Dengan pertanian, Kolaka Timur pasti bisa berkembang dan bersaing dengan kabupaten lain. Secara bertahap berbagai kebijakan bisa diterapkan demi membangun pertanian Kolaka Timur yang lebih mantap. Salah satu diantaranya adalah mencetak petani muda yang potensial.

Tidak bisa dipungkiri, pemuda mengambil peran penting dalam keberlangsungan sebuah kebijakan. Pemuda sebagai generasi milenial harus diberdayakan pada semua sektor perekonomian di setiap daerah. Termasuk sektor pertanian, yang identik dengan kotor, becek, panas, dan bau. Pendekatan yang tepat akan mendorong semangat para milenial untuk terjun di sektor pertanian.

Peremajaan petani perlu segera dilakukan di Kolaka Timur mengingat hasil SUTAS 2018 menunjukkan bahwa petani yang berusia 55 tahun keatas sebanyak 5.695 petani. Mereka para calon petani muda bisa mulai dibina melalui Bimbingan Teknis (BIMTEK) yang diakomodir oleh Dinas Pertanian Kolaka Timur. Selain hal-hal teknis terkait pertanian, dalam BIMTEK tersebut, mungkin perlu disampaikan juga motivasi terkait usaha pertanian yang perlu perjuangan ekstra dalam merintisnya. Hal tersebut berfungsi untuk memacu para jiwa muda dalam berwirausaha.

Selain itu, pemerintah daerah mungkin juga mulai bisa melakukan rangsangan yang bersifat reward bagi para petani muda yang berhasil berinovasi dalam membangun pertanian di Kolaka Timur. Inovasi dapat berupa alat pertanian baru maupun modifikasi yang bisa memangkas waktu kerja, ataupun inovasi berupa varietas unggulan baru yang bisa dikembangkan lebih lanjut.

Beranjak dari petani muda, kebijakan yang sangat urgent untuk diterapkan adalah memperbaiki sistem administrasi usaha pertanian di Kolaka Timur. Kenapa harus administrasi? Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa dalam sebuah usaha sistem pembukuan sangat penting dilakukan, guna mencatat semua pengeluaran dan pendapatan. Kalau pembukuan saja tidak ada, bagaimana kita mengetahui bahwa sebuah usaha mengalami kerugian atau keuntungan?

Hal ini juga dipertegas oleh hasil SUTAS 2018, bahwa dari 23.426 Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) di Kolaka Timur, hanya 273 RTUP yang memiliki pembukuan usaha. Angka tersebut setara dengan 1,16% saja. Bayangkan saja, berarti 90% lebih RTUP di Kolaka Timur kemungkinan tidak mengetahui apakah usaha pertaniannya ini memberikan keuntungan atau tidak.

Oleh : Zulfikar Halim Lumintang, SST.
(Merupakan Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...