Dosen UHO Ungkap Banjir Konut Bisa Picu Rasa Traumatik Warga

453
 

Kendari, Inilahsultra.com – Banjir yang melanda Kabupaten Konawe Utara (Konut) hampir setiap tahun tidak hanya merusak infrastuktur dan harta benda masyarakat.

Lebih dari itu, banjir akan menjadi hal yang menakutkan dan bisa memicu rasa traumatik mendalam bagi warga Konawe Utara.

- Advertisement -

Terhadap hal itu, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari memberikan penguatan psikologis terhadap korban banjir melalui layanan konseling traumatik pascabanjir.

Penguatan ini juga menjadi bagian penelitian dosen dalam hal melihat sejauh mana banjir tidak hanya merusak infrastruktur melainkan turut memicu rasa khawatir warga terhadap bencana yang muncul setiap tahun.

Ketua tim peneliti Sumarlin, menyatakan, banjir yang menerjang suatu kawasan dapat mengakibatkan kerugian besar bagi korban. Kerugian ini berupa materi, non materi maupun budaya sosialnya.

“Selain itu, dampak yang sangat rentan bagi korban banjir adalah dapat menyebabkan kecemasan, stres bahkan akan menyebabkan seseorang traumatik,” kata Sumarlin, Senin 29 Juni 2020.

Ia menjelaskan, kondisi trauma (traumatik) biasanya berawal dari keadaan stres yang mendalam dan terus berlanjut dan tidak dapat diatasi oleh individu yang mengalaminya.

“Sejauh mana trauma berkembang, bagaimana sifat atau jenisnya. Bila keadaan trauma dalam jangka panjang, maka itu merupakan suatu akumulasi dari peristiwa atau pengalaman yang buruk dan memilukan. Dan, konsekuensinya adalah akan menjadi suatu beban psikologis yang amat berat dan mempersulit proses penyesuaian diri seseorang. Seperti halnya di Konawe Utara provinsi Sulawesi Tenggara masyarakat yang terkena banjir selain mengalami kerugian material juga mengalami masalah psikologis, seperti stres serta mengalami rasa cemas yang mendalam,” jelasnya.

Olehnya itu melalui Program Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Halu Oleo (UHO) melakukan upaya penguatan psikologis melalui layanan konseling traumatik bagi korban banjir.

Menurut pria yang akrab disapa Judet ini, penguatan psikologis penting agar masyarakat korban banjir dapat berpikir obyektif, realistis serta dapat menerima keadaan.

“Dan salah satu salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan pendampingan melalui layanan konseling traumatik,” katanya.

Evakuasi warga dari Banjir Konawe Utara. (Dok Basarnas Kendari)

Sementara itu, anggota peneliti Hamdiansah menjelaskan dalam melakukan konseling traumatik, keberadaan konsep deteksi awal akan menjadi hal yang penting untuk dipahami dan diperhatikan oleh pemberi bantuan sehingga tergambar berbagai sifat atau jenis trauma yang diderita korban, seperti trauma ringan, sedang dan berat.

Ia menyebut, kegiatan ini dilakukan antara Mei sampai Juli 2019 dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat korban banjir agar dapat berpikir realistik dalam menghadapi masalah.

Kemudian, memberikan pemahaman kepada masyarakat korban banjir tentang peristiwa trauma dan situasi yang menimbulkan trauma yang ia alami. Memberikan penguatan agar dapat menerima perasaan yang berhubungan dengan trauma yang sedang ia alami.

Menurut Sumarlin, penanganan banjir Konut tidak hanya dilakukan dengan mengobati rasa traumatik setelah bencana terjadi.

Tetapi, penanganan harus dilakukan terintegrasi dan melibatkan semua pihak. Sebab, banjir yang menjadi momok menakutkan membayangi pikiran warga Konut adalah banjir akan kembali terjadi dalam waktu dekat.

Menurut Sumarlin, pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap seluruh sumber yang menimbulkan bencana tersebut.

Oleh beberapa peneliti, banjir di Konawe Utara tidak hanya disebabkan oleh tingginya curah hujan melainkan pendangkalan sungai dan buruknya pengelolaan lingkungan di daerah itu.

Tambang dan perkebunan sawit menjadi salah satu sorotan yang dianggap sebagai pemicu banjir bandang yang menyapu Konut 2019 lalu.

Penulis : Pandi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...